
Dua puluh delapan : Undangan Pernikahan.
_____________________
_____________________
Author pov.
"Ada apa papa ngundang aku kesini?" tanya Fandi tho the poin.
"Memang tidak boleh ya, seorang ayah ingin makan siang bersama anaknya?" tanya Papanya balik.
Fandi mendengus sebal, ia paling tidak suka berbasa basi busuk dengan Papanya.
"Kau tenang saja, kali ini aku tidak akan memaksamu untuk kembali ke rumah jika memang kau tidak mau." ucap Papa Fandi yang melihat putranya itu mendengus sebal.
Memang dulu Papanya sedikit memaksa agar Fandi mau pulang kerumah dengan alasan kesepian karna hanya tinggal sendiri dirumah. Namun sayangnya Fandi tidak pernah mau, ia malah berkata 'salah siapa kau menjodohkan Prilly, jika kau tidak menjodohkan nya kau tidak akan kesepian'.
"Lalu..."
"Sabar sedikit son... Kita tunggu kakakmu dulu." ucap Papa Fandi.
Fandi kembali mendengus sebal karna Papanya itu suka sekali mengulur waktu , padahal hari ini dia ada jadwal kencan dengan salah satu gebetannya 😂 dan harus tertunda karna panggilan mendadak dari sang Papa.
"Maaf aku terlambat." ucap Prilly yang baru saja tiba dan langsung duduk di kursi depan Lapanya.
"Jadi bagaimana?" tanya Fandi tidak sabaran.
"Sabar..." balas Papa Fandi santai.
"Dari tadi sabar terus, ini kak Bie sudah datang jadi apa yang akan kau katakan pada kami?" ucap Fandi menggebu - gebu.
"Kau kenapa sih Fan?" tanya Prilly heran.
"Dia batal kencan." cibir Papa Fandi sambil terkekeh geli.
"Ck." Fandi hanya mencecak kan lidahnya kesal. Bagaimana ayahnya bisa tau jika ia ada jadwal kencan dengan gebetannya saat ini.
"Kau jangan suka bermain perempuan ya, ingat kau punya kakak perempuan." ucap Papanya menasihati.
Fandi malah memutar bola matanya karna Papanya tidak kuncung bicara masalah inti.
"Kau tidak boleh memutar bola mata seperti itu di depan papa.." ucap Prilly menepuk pelan {baca ; keras} bahu Fandi yang memang duduk disebelah kanannya.
"Aww.... Sakit kak Bie." ucap Fandi mengaduh.
"Sudah sudah jangan pada bertengkar, sekarang ayo kita makan dulu." ajak Papa mereka entah kapan Papanya memesan karna sekarang para pelayan sudah menata makanan di meja mereka.
"Apa? Aku tidak lapar, katakan sapa apa yang ingin kau katakan." ucap Fandi.
Prilly kembali memukul bahu Fandi. "Tidak sopan, Fandi!"
"Ck, baiklah... Please katakan saja apa yang ingin ayah katakan. Aku ada janji dengan temanku, tidak bisa lama lama disini." ucap Fandi dengan nada yang lebih rendah.
"Teman atau pacar." ucap Papanya dengan senyum menggoda. 😉
__ADS_1
"Terserahlah...."
Akhirnya Fandi pun mengalah dan ikut makan bersama Prilly dan Papanya.
Setelah selesai makan, Fandi kembali bertanya tujuan Papanya mengajak mereka kesini selain makan siang.
"Nih..." Papanya mengeluarkan sesuatu dari jas kerjanya sambil tersenyum.
"Apa ini?" tanya Fandi.
"Kau bisa membacanya Fandi." ucap Prilly kesal, adiknya itu tidak sopan sekali pada ayahnya sendiri. Ya walau ayahnya tidak pernah mempermasalahkan itu, namun tetap saja ia harus sopan kepada Papanya.
Lagi dan lagi Fandi hanya bisa mendengus kesal dan mulai memeriksa benda persegi panjang pemberian Papanya itu, seketika matanya melotot tidak percaya dengan apa yang dia baca.
"Undangan pernikahan!"
Pekik Fandi tidak santai sambil menatap Papanya horor, lalu ia beralih menatap Prilly yang juga masih menatap benda persegi panjang itu.
"Aku tidak salah baca kan? Kak Bie?" tanya Fandi pada Prilly untuk memastikan apa yang ia baca barusan, siapa tau saja ada yang salah dengan matanya.
Prilly tidak menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya seraya menatap sang Papa penuh tanda tanya besar.
"Kau tidah salah baca Cris... Itu memang undang pernikahan, kau harus datang, pernikahan di adakan seminggu lagi... Papa sudah memikirkan lama untuk ini." ucap Papa mereka mencoba menjelaskan.
"Dengan siapa?" tanya Fandi lagi.
"Besok malam datanglah kalian kerumah, aku akan mengundangnya makan malam dan kalian bisa berkenalan langsung dengannya." ucap Papa Fandi dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Sebenarnya Fandi tidak ingin pernikahan itu terjadi, namun melihat Papanya yang sedari tadi tersenyum. Fandi jadi tidak tega untuk membatalkan pernikahan itu, mungkin dengan adanya pernikahan itu. Papaya tidak akn memaksanya untuk kembali kerumah lagi.
Mau tidak mau Fandi dan Prilly pun setuju dengan pernikahan itu. Jika pernikahan itu bisa membuat ayahnya akan bahagia, kenapa tidak. Mereka juga ingin yang terbaik untuk Papa sekaligus ibu bagi mereka.
"Pa..." ucap Fandi, Prilly langsung menatap Fandi. Prilly takut apabila adiknya itu akan menolak pernikahan itu, tapi kemudian ia menghela nafas lega saat mendengar ucapan Fandi lebih lanjut.
"Aku setuju dengan pernikahan itu."
"Ya memang harus begitu, aku kan tidak meminta persetujuan kalian. Aku hanya ingin kau harus hadir di acara itu Cris... Tidak ada penolakan." ucap ayah mereka membuat Fandi kesal.
_______
Bukan pernikahan impian.
_______
Ali pov.
Sudah seminggu sejak aku mengatakan bahwa aku mencintai Prilly dan juga Prilly yang ingin bercerai denganku.
Aku sangat mencintai Prilly, aku tidak ingin kehilangan lagi, sudah cukup aku kehilangan Nikita dan aku tidak ingin apabila harus kehilangan Prilly.
Pikiranku sangat kacau akhir-akhir ini, bahkan aku sekarang lebih sering di rumah ketimbang di kantor. Dikantor juga percuma, tidak akan ada yang bisa kulakukan dengan pikiran yang sedang kacau.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan dari arah pintu. Siapa malam malam begini mengetuk pintu kamarku?
__ADS_1
Dengan malas aku berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu. Aku sedikit kaget saat melihat Prilly tepat ada di hadapanku.
Dahiku berkerut dalam, mau apa dia mencari ku malam malam begini?
"Uhm... Maaf, apa aku mengganggumu?" tanya Prilly canggung, ya kami menjadi semakin canggung setelah kejadian seminggu lalu.
Masih dengan dahi yang berkerut bingung, aku menggelengkan kepalaku. "Tidak, ada apa?" tanyaku.
"Hmm begini... Seharusnya aku memberikan ini kepadamu seminggu yang lalu, tapi maaf aku kelupaan dan baru ingat tadi." ucap Prilly panjang lebar, tangan kanannya terulur memberikan benda persegi panjang berwarna pink padaku.
"Apa ini?" tanyaku heran.
"Itu undangan pernikahan... Maaf aku baru memberikan nya padamu sekarang, aku benar benar kelupaan untuk memberikannya pada mu." ucap Prilly seraya tersenyum.
Deg!!
Rasanya sakit sekali saat Prilly mengatakan pernikahan. Benarkan ia akan menikah? Kenapa cepat sekali? Bukankah seminggu yang lalu Prillu bilang bahwa ia akan menikah jika kami sudah bercerai dan sekarang kami bahkan belum bercerai. Apa Prilly akan menduakan aku, seperti dulu aku menikahinya padahal aku sudah mempunyai istri.
"Per-pernikahan." ucapku terbata bata.
"Ya... Akadnya akan di adakan besok jam 9 pagi rumah ayahku dan jam 10 akan lanjut ke resepsinya di ballroom hotel Cempaka... Kalau bisa hadir ya besok, aku sangat berharap jika kau mau hadir besok." jelas Prilly dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya.
Aku masih terdiam mematung di depan pintu saat Prilly pamit untuk kembali ke kamarnya.
Oh inikah yang dulu Nikita rasakan saat aku mengatakan akan menikah lagi. Sakit, sangat sakit sekali.
Aku meraba dadaku, rasanya paru paruku sesak untuk bernafas. Dengan langkah gontai aku kembali menutup pintu dan kembali kedalam.
Aku duduk di ranjang memandang undangan pernikahan berwarna pink yang berada di tanganku itu dengan nanar. Inikah karma yang aku dapat karna sudah menyakiti orang yang aku cintai dulu.
Aku tidak berani membuka undangan di tangan ku, aku terlalu takut mengetahui siapa lelaki yang ada menjadi suami kedua Prilly nanti.
Oh, bahkan kami belum bercerai dan dia akan menikah lagi tanpa meminta persetujuanku, ini sama persis seperti yang aku lakukan pada Nikita dulu , walau dulu aku menikah karna terpaksa.
Aku memasukkan undangan itu ke tong sampah langsung tanpa mau membukanya dan merebahkan diriku di ranjang.
Aku memandang langit langit kamarku seraya terkekeh sendiri. Dulu Prilly yang menjadi istri kedua, dan sekarang aku yang menjadi suami kedua .
Aku menghela nafas dengan kasar, aku tidak mau pernikahan itu terjadi. Aku ingin menggagalkan pernikahan itu besok. Prilly masih milikku dan akan selalu menjadi mikikku dan aku juga tidak akan pernah mau membaginya dengan siapapun.
Tapi.... Jika aku mengaggalkan pernikahan itu, Prilly akan membenciku.
Tuhan.... Bantu aku, apa yang harus aku lakukan besok?
Haruskah aku membiarkan pernikahan itu terjadi?
Atau aku haru menggagalkan pernikahan itu?
Aku bimbang. Aku galau....
______
Bukan pernikahan impian.
______
__ADS_1