Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Kau terlambat (ali)


__ADS_3

Dua puluh tujuh : Kau terlambat (ali)


__________________


__________________


Authot pov.


"Kau belanja banyak sekali sih udah kayak mau bagi bagi sembako saja." gerutu Ali, tanganya sibuk memasukkan kantong plastik belanjaan yang Prilly beli ke dalam bagasi mobilnya. Bahkan ia harus menurunkan satu kursi karna sudah tidak muat, saking banyak belanjaan yang Prilly beli.


"Itu semua hanya cukup untuk sebulan, kadang saja tidak cukup. Kebutuhan Gwen itu banyak, belum lagi dapur...


Lain kali aku tidak akan mau lagi belanja denganmu. Sudah cukup sekali saja, kau sangat cerewet. Mirip sekali seperti ibu ibu arisan, mending juga sama Rasya." omel Prilly sebal sambil ikut memasukkan barang belanjaannya dari troli ke bagasi mobil Ali.


Ali mendengus sebal di katakan cerewet seperti ibu ibu arisan. Namun bukan itu yang membuatnya sebal, tapi karna Prilly membandingkannya dengan Rasya. Ali tidak suka itu, bahkan sangat tidak suka jika dirinya di bandingkan dengan siapapun oleh siapapun.


"Kenapa kau masuk situ." ucap Ali saat Prilly masuk ke mobil Ali bagian penumpang.


"Ya karna aku juga ingin ikut pulang." balas Prilly hendak menutup pintu mobil namun ditahan Ali.


"Tidak!" ucap Ali, tangan dan kakinya ia gunakan untuk menahan pintu mobil yang hendak Prilky tutup.


"Kau pelit sekali sih." ucap Prilly kesal.


"Bukan begitu." ucap Ali.


"Lalu apa?" tanya Prilly.


"Makanya dengarkan aku selesai berbicara dulu..." ucap Ali kesal karna ucapannya di potong Prilly.


"Oke baiklah." ucap Prilly.


"Keluar dulu kau." ucap Ali menyuruh Prilly keluar dari mobilnya.


Prilly mendelik tidak percaya... "Apa! Kau akan meninggalkan aku disini?" tanya Prilly tidak percaya.


"Tidak! Maksudku kau duduk di depan jangan di belakang." ucap Ali.


"Memangnya kenapa kalau di belakang, sama saja kok." balas Prilly.


"Memangnya aku supir apa? Keluar dan pindah ke depan cepat! Atau kita tidak akan pulang." ucap Ali.


"Kau kan memang supir." ucap Prilly sinis lalu dengan malas ia keluar lagi dari mobil Ali dan kembali masuk ke kursi depan.


Ali pun ikut memasuki mobilnya dan segera menjalankan mobil nya untuk pulang.


Selama perjalanan pulang, suasana hening karna Prilly hanya diam dan menatap keluar jendela dan Ali pun sibuk menyetir.


Sebenarnya Ali ingin sekali mencairkan suasana agar tidak cangung seperti ini, namun ia tidak tau bagaimana caranya.


Sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah dan Prilly segera turun dan mulai membawa barang belanjaan yang dia beli.


"Biar para pelayan saja yang membawa.." ucap Ali mengambil alih belanjaan yang ada di tangan Prilly.

__ADS_1


"Baiklah.." ucap Prilly pasrah, ia juga sedang malas berdebat dengan Ali.


________


Bukan pernikahan impian.


________


"Kau tidak kembali ke kantor?" tanya Prilly saat melihat Ali yang memperhatikan nya sedang memberi minyak telon pada Gwen.


Ali menggelengkan kepalanya, sadar kalau Prilly tidak bisa melihatnya karna posisinya sekarang ia ada di belakang Prilly.


"Tidak. Lagi pula sudah sore, aku malas pergi ke kantor." jawab Ali.


"Dasar pemalas." cibir Prilly.


"Hey! Aku bukan pemalas ya." pekik Ali tidak terima di katakan pemalas.


"Terserah kau saja lah. Tolong ambilkan pempers itu tadi aku lupa." ucap Prilly.


"Nih.." Ali memberikan pempers yang diminta Prilly.


"Terima kasih." balas Prilly lalu ia kembali sibuk dengan Gwen, Prilly baru saja selesai memandikan Gwen.


Gwen sudah berumur 5 bulan, ia anak yang cukup aktiv karna sedari tadi ia terus mengoceh ala bayi. Ali mengukir senyum saat melihat Prilly yang sibuk mengurusi Gwen, selama ini Ali lepas tangan soal Gwen.


Ali bahkan belum pernah menggendong Gwen sama sekali. Ayah macam apa aku ini? Tanyanya dalam hati.


"Bolehkan aku menggendongnya." pinta Ali, ia ingin tau bagaimana rasanya mengendong anaknya.


"Terima kasih."


Prilly memberikan Gwen pada Ali." dia bicara apa sih." ucap Ali.


"Aku juga tidak tau." balas Prilly.


"Maafkan aku." ucap Ali tiba tiba.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Prilly heran.


"Maafkan aku... Karna selama ini aku sudah menyakitimu dan mengabaikanmu juga Gwen. Gwen putriku, tapi aku tidak pernah memberikan kasih sayangku pada nya dan kau malah yang memberikan yang seharusnya Gwen dapat kan dariku." ucap Ali panjang lebar.


"Kau tidak perlu minta maaf untuk hal yang sudah lewat, lagipula Gwen adalah putriku juga. Kau harus lebih sering bersama Gwen, jangan cuma mentingin kerjaan saja." balas Prilly, matanya menatap lurus Gwen yang ada dalam gendongan Ali yang masih sibuk berceloteh ala bayi 5 bulan.


"Terima kasih... "Ucap Ali sambil tersenyum tulus.


"Terima kasih sudah memaafkan aku, maukah kau memulainya lagi dari awal bersamaku." lanjut Ali.


"Apa maksudmu?" tanya Prilly tidak mengerti.


Ali tersenyum simpul. "Kita memulai semuanya dari awal lagi, anggap saja kita baru saja menikah."


"Maaf."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ali.


Prilly mengelengkan kepalanya. "aku tidak bisa." balas Prilly lirih.


"Tapi kenapa?" tanya Ali, senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya sedikit memudar.


"Aku---


"Aku mencintaimu, Prilly." ucap Ali memotong ucapan Prilly.


"Sekali lagi maaf... Maafkan aku Ali, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kau terlambat." balas Prilly sedih.


"Apa maksudmu dengan kata terlambat?" tanya Ali tidak mengerti dengan ucapan Prilly.


Prilly menelan ludahnya... "Aku-aku ingin kita bercerai, maaf tapi aku sudah mengirim gugatan cerai untukmu ke pengadilan beberapa hari yang lalu."


"Apa? Cerai?!"


"Iya Ali aku ingin berpisah dari mu, maaf kita tidak bisa bersama lagi. Aku mencintai Pria lain." ucap Prilly merasa bersalah pada Ali.


"Lalu bagaimana dengan Gwen?" tanya Ali.


"Aku akan membawanya jika kau tidak keberatan tapi jika tidak boleh aku akan meninggalkannya denganmu." ucap Prilly.


"Siapa pria yang kau cintai, apa dia Rasya?" tanya Ali lagi.


Prilly menggelengkan kepalanya. "Bukan, dia bukan Rasya... Aku akan menikah dengannya dua bulan lagi."


"Tapi kita belum bercerai Prilly dan aku juga tidak akan mencerai kanmu." balas Ali tegas.


"mungkin beberapa hari lagi akan ada surat panggilan dari pengadilan." ucap Prilly.


"Tidak Prilly aku tidak akan menceraikanmu, aku mencintai mu sungguh." ucap Ali.


"Kau tidak boleh egois Ali, aku juga ingin hidup bahagia bersama lelaki yang aku cintai." ucap Prilly.


Ali menggelengkan kepalanya, ia sudah meletakkan Gwen di box bayi. "Kau tega meninggalkan Gwen."


"Aku bisa membawanya ikut bersamaku." balas Prilly.


"Tidak Prilly! Aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu, kita akan merawat Gwen bersama, aku janji akan memberikan waktu lebih untuk kalian. Kita akan memulai semuanya dari awal." kata Ali panjang lebar.


"Aku akan membahagiakan kalian, kumuhon." lanjut Ali.


Prilly tersenyum miris. "Andai kau mengatakan itu dari dulu , mungkin aku masih bisa mempertimbangkannya Ali. Tapi tidak untuk saat ini, aku tau pernikahan kita hanya karna perjodohan. Tapi aku juga perempuan yang butuh perhatian dan kasih sayang dan kau tidak pernah memberikan semua itu padaku. Aku tau dan aku juga sadar kau tidak mencintaiku, tapi setidaknya kau bisa menghargai ku kan. Dan apa selama ini kau pernah menghargai aku sebagai istrimu, tidak Ali." ucap Prilly panjang lebar, air matanya sudah mengalir deras.


"Prilly...."


"Tidak Ali."


"Maafkan aku ku mohon.... Siapa lelaki itu Prilly?"


"Aku sudah memaafkanmu. Yang pasti dia bukan Rasya..."

__ADS_1


"Lalu siapa dia!"


"Dia.....


__ADS_2