
Tiga puluh satu : Dia kekasihku.
_________________
_________________
Author pov.
"Sayang...." panggil seorang lelaki yang baru saja membuka pintu.
Ali dan Prilly langsung menatap kearah pintu dengan ekspresi yang berbeda.
Jika Ali langsung melotot karna melihat siapa lelaki itu. Jadi dia lelaki yang Prilly cintai, batin Ali. Ali mengenal lelaki itu baru beberapa bulan yang lalu karna perusahaannya lelaki itu ikut bergabung dalam perusahannya. Dia adalah pengusaha muda dan tampan. Pantas Prilly lebih memilih dia di bandingkan dirinya.
Sementara Prilly menatap malas lelaki itu sambil memutar bola matanya jengah. Prilly sangat jengah dengan lelaki yang kini berjalan kearahnya dan Ali itu.
"Hai kakak Ali." sapa lelaki itu tersenyum lebar. Namun terkesan mengejek, "kau tidak punya uang untuk membeli baju dan celana ya, ke acara akad nikah mertua masak cuma pake boxer 😃." lanjutnya.
Ali menatap lelaki itu tajam, berani nya lelaki itu mengejeknya tidak punya uang hanya karna ia serang hanya memakai singlet dan boxer saja.
Bug!!
Prilly memukul bahu lelaki itu dengan kencang, membuat di empunya mengaduh kesakitan. "Aduhh sayang kok di pukul sih aku nya."
"Sayang? Aku pecat juga kau jadi adik sekali lagi manggil aku sayang!." ucap Prilly kesal.
"Aduh atut... Baru juga resmi beberapa detik jadi adikmu dan sudah kau pecat.... Betapa teganya kau kak, eh tapi tidak apa apa loh 😊 nanti aku kan bisa menikah dengan mu😉." ucap lelaki itu dramatis lalu terkekeh sendiri.
Ali hanya diam menatap Prilly dan Julian secara bergantian. Ali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, bukan nya Julian itu lelaki yang Prilly cintai, lalu kenapa tadi Prilly bilang adik?
"Apa?!" pekik Prilly kesal.
"Tidak... Hehe kalian di panggil Papa." balas Julian sambil tersenyum smirk.
"Kau duluan saja nanti aku nyusul..." acap Prilly.
"Hmm cepat ya, jangan ena-ena disini..." ucap Julian kemudian mencium pipi kiri Prilly sekilas lalu keluar kamar.
Prilly mendengus kesal dan mengusap pipinya yang baru saja di cium oleh adik tirinya itu. Baru beberapa menit menjadi adik tirinya saja sudah berani mencium pipinya.
Prilly memang tidak terlalu menyukai sosok adik tirinya itu, karna menurut Prilly lelaki itu sangat menyebalkan dan selalu membuat Prilly naik darah.
Padahal Prilly baru mengenalnya seminggu yang lalu, namun adik tirinya itu bertingkah seolah oleh mereka sudah kenal sejak lama.
__ADS_1
Oke kita kembali ke topik utama.
Ali menatap Prilly yang mengudap pipinya dan menggerutu sebal di depannya. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Jika Julian adalah adik tirinya tidak mungkin kan mereka tetap akan menikah. Tapi jika Prilly mencintai Julian kenapa tadi ia bersikap seolah olah Prilly sangat membenci Julian. Apa itu karna mereka sudah menjadi saudara? Tanya Ali dalam hati.
Sudut bibir Ali tertarik keatas mengukir senyum, entah lah rasanya ia sangat senang kalau memang Julian adalah orang yang Prilly cintai itu artinya mereka tidak akan bisa bersatu dan ia tidak perlu bercerai dengan Prilly.
"Apa?!" tanya Prilly saat melihat Ali tersenyum sendiri seperti itu.
Ali menggelengkan kapalanya. "Tidak ada."
Prilly kembali melipat kedua tangannya di dada... "Jadi apa yang kau lakukan tadi?" tanyanya.
Ali menelan ludah dengan sudah payah, tadi Ali kira Prilly sudah lupa soal masalah memalukan tadi.
"Tadi---
"Ya."
"Tadi itu--
"Ali! Yang jelas!"
"Huh baiklah, tadi itu ku kira kamu yang menikah dengan pria sialan itu. Aku tidak rela jika kamu menikah dengannya kamu tau aku sangat mencintaimu. Tapi ternyata aku salah, bukan kamu yang menikah melainkan ayahmu." ucap Ali panjang lebar dan meringis di akhir kalimat, ia masih ingat jelas wajah mertuanya tadi saat ia mengatakan jika mempelai wanita itu adalah istrinya. Betapa bodohnya dirinya, batinnya merutuki dirinya sendiri.
"Memangnya kau tidak membaca undangan yang aku berikan semalam?" tanya Prilly heran, bagaimana Ali bisa berpikir seperti itu. Bukankah dirinya pernah bilang bahwa ia memang akan menikah lagi tapi itu nanti setelah mereka bercerai.
Ali menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak! Aku terlalu takut mengetahui kenyataan siapa lelaki yang kamu cintai." balas Ali lesu.
"Dasar bodoh." cibir Prilly.
"Ya aku memang bodoh karna cintaku padamu." gumam Ali pelan.
"Lalu? Kenapa kau hanya menggunakan err boxer dan singlet saja." ucap Prilly sepertinya enggan mengucapkan boxer dan singlet.
Ali kembali menelan ludah karna gugup dan malu. Ya saat ini memang ia sangat malu, ini bahkan lebih mengerikan daripada di introgasi ayah Prilly saat Prilly kecelakaan.
Ali sudah menceritakan hal memalukan sedari tadi pada Prilly dan sekarang masa ia juga harus bilang semuanya, ahh tapi sepertinya tak ada pilihan lain.
"Hmm baiklah tadi aku sangat galau, kamu tau lah kenapa. Aku tidak pergi ke kantor karna itu percuma tak akan ada pekerjaan yang bisa ku kerjakan dengan keadaan kacau. Lalu aku tidak mau menghadiri acara pernikahan ini karna kamu taulah kan kukira kamu yang menikah. Tapi aku tidak bisa berdiam diri dirumah sementara kamu disini sedang berpesta, bahkan aku saja tadi sempat berpikir kedua adikku berpihak padamu karna kamu menikah mereka tidak melarangmu bahkan malah mendukungmu. Ahh bagaimana cara menjelaskannya aku bingung sekali, tadi aku sedang sarapan lalu kesini dengan terburu buru jadi tidak sempat ganti baju dan mandi." jelas Ali panjang lebar dan mutar mutar.
"Entahlah aku bingung kau terlalu berbelit belit... Kau cepat mandi sana! Kau bisa pakai pakaian Cris, ada di lemari itu." ucap Prilly sambil menunjuk sebuah lemari.
"Memang muat?" tanya Ali polos.
__ADS_1
"Kalau tidak muat tidak usah pakai baju." ucap Prilly sinis lalu hendak keluar dari kamar itu namun tangannya di tahan Ali sehingga membuat Prilly terduyung jatuh kebelakang tepat di atas Ali yang sedang duduk di sofa.
"Maaf mengganggu.." ucap seseorang dengan tersenyum getir melihat pemandangan di hadapannya itu.
"Ah tidak!" ucap Prilly langsung bangkit dari atas badan Ali. Entah kenapa rasanya jantung berdebar bedar saat ini. Prilly merasa sangat gugup.
"Kau..." ucap Ali heran, mengapa dokter itu bisa ada disini.
"Ali kau pasti masih ingat dengan dokter Rendy kan?" tanya Prilly.
Ali mengangguk.
"Dia kekasih ku."
Deg! Tadi Ali sudah merasa senang karna ia kira lelaki yang Prilly cintai itu Julian yang sekarang menjadi adik tirinya. Namun kenapa kenyataan selalu menyakitkan.
"Dan setelah kita bercerai aku akan menikah dengannya."
"Ber-cerai." ucap Ali dengan susah payah.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu." ucap Prilly.
"Tap-tapi aku tidak mau bercerai denganmu."
"Kita bahas ini lain kali, ayo sayang kita pergi dan kau cepat mandi kita akan segera keacara resepsi ayahku, jangan mempermalukan diri sendiri untuk yang kedua kali." ucap Prilly.
"Kamu duluan saja, aku ingin berbicara dengannya sebentar. Apa boleh?" ucap Rendy seraya tersenyum manis.
Prilly mengangguk dan tersenyun kemudian berlalu dari hadapan mereka. Setelah Prilly pergi, Rendy mendekati berjalan mendekati Ali.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Rendy.
"Apa maksudmu?" ucap Ali berbalik tanya.
"Bagaimana rasanya saat Prilly bilang dia ingin bercerai denganmu?" tanya Rendy ulang, dia menatap Ali tidak suka.
"Sebenarnya apa tujuanmu?"
Rendy tersenyum miring. "Tentu kau tau apa yang aku inginkan bukan."
"Jangan gunakan Prilly, dia tidak tau apa apa."
"Kau pikir aku perduli, selama itu bisa membuat mu hancur apapun akan kulakukan... Kau ingat dengan apa yang pernah aku katakan bukan." ucap Rendy sarkastik dan berlalu dari dahapan Ali.
__ADS_1
Ali menghembus kan nafas frustasi, ini tidak boleh terjadi. Batinnya.