Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Kenangan & Menyebalkan


__ADS_3

Tiga puluh enam : Kenagan dan Menyebalkan.


___________________.


Author pov.


"Hay sayang... Apa kabar?"


Ali berjongkok dan menaruh sebuket mawar di atas makam Nikita Willy, sudah lama Ali tidak mengunjungi makam Nikita.


"Aku harap kamu baik-baik saja disana sayang... Aku sangat merindukan kamu Nikita." ucap Ali mulai berbicara dengan makam Nikita, seakan yang ia ajak bicara ada di hadapannya.


"Sayang maafkan aku, aku tau kamu pasti marah karna aku tidak merawat anak kita sendiri." ucapnya lagi. Kali ini, Ali sambil mengusap-usap papan nama yang bertuliskan Nikita.


"Maaf bukannya aku tidak mau merawat Gwen atau tidak menyayangi Gwen, tapi kamu tau sendiri kan jika aku dan Prilly sudah bercerai karna kebodohanku sendiri. Dan kamu juga pasti tau jika Prilly sangat menyayangi Gwen, begitu pun sebaliknya. Aku tidak mau memisahkan mereka berdua hanya karna perceraian kami, aku menitipkan Gwen pada Prilly agar Gwen tidak kehilangan kasih sayang dari seorang ibu..." ucap Ali panjang, ia mengusap kedua pipinya dengan ibu jari karna basah oleh air mata.


Siang itu Ali menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan nisan Nikita hingga tidak ingat waktu. Ali membicarakan apapun yang sedang ia alami dan yg sedang ia rasakan, bisa dibilang ia sedang curhat pada pada alm.istri-nya.


_______


Bukan pernikahan impian.


_______


"Hai."


"Hai."


Sapa Dahlia dan Fandi secara bersamaan di taman sekolah mereka. Hari ini adalah hari kelulusan mereka dan tidak sengaja ia bertemu di taman, mereka hanya diam saja saat bertemu namun saat salah satu dari mereka membuka suara malah kedua nya berucap 'hai' hal itu membuat keduanya tertawa garing.


"Uhm apa kabar?" tanya Fandi. Memang mereka sejak kejadian masalah dulu itu ia tidak pernah saling bertukar sapa ya walau satu sekolah namun jika bertemu mereka hanya diam tidak ada yang mau menyapa lebih dulu dan malah berpura pura tidak tau.


"Baik. Kamu sendiri apa kabar?" balas dan tanya Dahlia.


"Bagus deh. Aku juga baik. Oh ya aku mau minta maaf soal masalah dulu itu tidak seharusnya aku berbuat seperti itu padamu." ucap Fandi panjang lebar.


"Ohh... Ya dan aku juga minta maaf soal masalah dulu juga." balas Dahlia, ia tersenyum manis pasa Fandi.


"Jadi sekarang kita bisa jadi teman." ucap Fandi mengulurkan tanya kanannya pada Dahlia.


Dahlia kembali tersenyum dan menyambut uluran tangan Fandi dengan senang hati, ya setidaknya sekarang Fandi sudah tidak marah padanya lagi.


"Ya kita teman sekarang." ucap Dahlia.


"Hahaha." tawa Fandi pecah saat Dahlia mengatakan teman padanya serasa kembali ke masa lalu, masa saat mereka baru berkenalan dulu.


"Kenapa tertawa?" tanya Dahlia bingung dengan Fandi yang tiba tiba tertawa sendiri.


"Ahh tidak apa-apa kok aku hanya teringat masa dimana saat kita baru berkenalan saja." ucap Fandi masih sedikit cekikikan.


"Kamu masih ingat ya." balas Dahlia. Perkataannya hampir seperti sebuah pertanyaan untuk Fandi.


"Tentu saja aku masih ingat. Aku tidak mungkin melupakan itu semua." ucap Fandi.


"Benarkah."


"Ya."


Setelah itu suasana kembali canggung lagi, tapi dengan penuh keberanian akhirnya Dahlia membuka suara juga.


"Uhm... Fandi." ucap Dahlia.

__ADS_1


"Ya." balas Fandi.


"Bolehkan aku minta tanda tanganmu." ucap Dahlia sedikit kaku.


"Ya tentu saja. Kenapa tidak." ucap Fandi.


"Terima kasih. Lalu dimana aku harus tanda tangan." ucap Dahlia.


"Di sini." ucap Fandi seraya menunjuk tempat yang harus di tanda tanganin Dahlia.


"Di-di situ." ucap Dahlia rada gugup.


"Kenapa?"


"Ti-tidak. Baiklah aku akan tanda tangan."


_______


Bukan pernikahan impian.


_______


"Papa... Papa..."


Suara teriakan Prilly menggema di seluruh ruangan rumah-nya, sedari tadi ia tidak henti henti memanggil Ayah kesayangannya itu.


"Ada apa sayang, Papa sedang menonton tv." balas ayahnya yang juga berteriak dari ruang keluarga.


Prilly yang mendengar itu pun langsung berlari keruang tv dan menatap tajam sang ayah. Ayahnya tidak sendiri disana, ada Julian dan Alika ibu tirinya yang juga sedang bersamanya. Sepertinya mereka sedang menyaksikan drama keluarga. 😂😂


"Apa maksud semua ini Papa?" tanya Prilly langsung, sepertinya ia tidak suka dengan apa yang telah Ayahnya lakukan.


"Tidak ada maksud apa apa sayang." ucap Ayah Prilly santai.


"Papa!!" pekik Prilly garam sendiri karna sepertinya Ayahnya itu tidak peduli dengannya yang sedang kesal.


"Lihat Pa, Ma bagaimana manjanya dia. Gitu kok mau ngurus anak ." celetuk Juliam asal karna melihat Prilly yang menghentakkan kakinya kesal.


"Julian!!" pekik Prilly dan Ibu tirinya secara bersamaan.


"Apa??" tanya Julian, ia menunjukkan muka polosnya.


"Julian." ucap Ibunya lalu mencubit lengan Julian membuat Julian mengaduh pelan.


"Aduh.. Duh ma sakit." ucap Julian mengusap lengannya yang di cubit Ibunya.


"Lebay."gumam Prilly.


"Papa apa-apa'an sih, kenapa papa kembali memberiku bodyguard menyebalkan seperti mereka... Lihat pa bahkan ia mengikutiku sampai ke dalam rumah ini." ucap Prilly menunjuk dua pria berbadan besar yang ada di belakangnya.


"Bukan kah dari dulu memang seperti itu." ucap Ayah nya santai.


"Kau memang pantas mendapatkan bodyguard, agar nanti kau tidak kesasar dan hilang." ucap Julian.


"Diam kau Julian! Aku tidak berbicara denganmu, aku berbicara dengan Papa." ucap Prilly.


Julian hanya menatap Prilly mengejek kepada Prilly.


"Papa... Itu kan dulu, sekarang kan sudah beda. Aku tidak perlu bodyguard untuk menjagaku Pa." ucap Prilly.


"Apa bedanya sayang, selama kamu tinggal di rumah ini maka mereka yang akan menjagamu jika kamu pergi kemana pun. Kalian harus menjaga putriku dengan baik, kemana pun ia pergi kalian harus menjaganya. Mengerti." ucap Ayah Prilly menunjuk dua bodyguard yang mengangguk dan menjawab siap serempak.

__ADS_1


"Astaga papa..." ucap Prilly.


"Untung aku dulu tidak jadi menikah dengannya Ma, jika ya maka hidupku akan hancur karna anak manja sepertinya." ucap Julian asal.


"Siapa juga yang maunikah sama anak bau kencur seperti kau." pekik Prilly kesal.


"Apa katamu tadi? Kau mengatakan aku anak bau kencur? Hello ngaca dong kau dan aku itu masih tua aku ya." ucap Julian tidak terima di katakan anak bau kencur oleh Prilly.


"Oh ya aku lupa, kau kan memang sudah tua." ucap Prilly tersenyum sinis.


Alika dan Haidar hanya bisa tersenyum menatap kedua anak mereka yang sedang beradu mulut hanya karna masalah sepele saja. Sampai pada akhirnya suara Fandi menghentikan perdebatan mereka.


"Hallo papa, mama, kakakku sayang lihat aku bawa apa?" teriak Fandi dengan kencang saat sudah berada di ruang keluarga.


"Kakakku sayang ini untukmu..." ucap Fandi memberikan piala pada Prilly.


"Piala apa ini?" tanya Prilly tak mengerti.


"****. Itu piala peringkat kelulusan terbaik." ucap Julian menatap sinis Prilly.


Prilly membulatkan matanya dan menatap tajam Julian sebal. Dia tidak menyangka jika Julian itu adalah kakaknya bukan adiknya. Dulu Prilly sangat berharap bahwa dia ingin mempunyai seorang kakak lelaki namun sekarang rasanya ia tidak pernah ingin punya kakak karna sangat menyebalkan seperti Julian.


"Aku tidak bertanya padamu JULIAN!." ucap Prilly kesal dan menekan kata 'julian'.


"Belajarlah untuk memanggilku kakak." ucap Julian.


"Tidak akan pernah." dengus Prilly.


"Mulai lagi." gumam Alika dan Haidar bersamaan. Mereka berdua tidak menduga jika putra putri mereka akan seperti Tom&Jerry.


"Ma, Pa... Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Fandi tidak mengerti, dia juga sebal karna diabaikan dari tadi.


_______


Bukan pernikahan impian.


_______


"Kenapa bisa seperti ini?"


"Kak aku minta maaf."


"Kau tidak perlu minta maaf Rendy. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Ali bingung.


Bagaimana tidak bingung, tadi Ali baru saja pulang dari makam dan tiba tiba saja Ali mendapatkan kabar bahwa Rendy masuk ramah sakit dan kondisinya kritis.


"Maaf aku tidak pernah memberitahumu kak. Sebenarnya aku punya penyakit kanker kelenjar getah sejak umur 15 tahun." ucap Rendy.


"Jadi selama ini kau.... Astaga! Dan kau mampu bertahan selama ini?" pekik Ali kaget.


"Ya... Maaf aku sudah menghancurkan pernikahanmu, aku-aku...."


"Kau mencintai Prilly." ucap Ali memotong ucapan Rendy.


"Maaf."


"Kau tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf atas apa yang sudah ku lakukan padamu dan juga Ibumu dulu. Aku benar benar minta maaf." ucap Ali.


"Kakak tidak perlu minta maaf."


"Sejak kapan kau mencintai dia." ucap Ali mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Kuliah..."


"Tapi dia tidak mencintaiku."


__ADS_2