Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Awkward


__ADS_3

Tiga puluh tiga : Awkward


_________________


_________________


Ali pov.


Aku terus menatap kearah Rendy dan Prilly yang sedang tertawa bersama. Mereka terlihat sangat bahagai sekali. Aku tidak pernah melihat Prilly tertawa selepas itu selama ia menjadi istriku... Aku juga belum pernah melihat Rendy tertawa selepas itu setelah kejadian itu ...


Mereka terlihat seperti saling mencintai, aku bahkan sangat yakin bila Rendy itu tidak main main dengan Prilly. Aku mengenal Rendy, dan aku yakin Rendy benar benar mencintai Prilly dan tidak ada niatan memainkan Prilly seperti apa yang pernah dia katakan padaku.


Aku menghembuskan nafas panjang dan berjalan mendekati Papa dan Ibu mertua ku untuk berpamitan pulang. Walau sejujurnya aku ingin mengajak Prilly pulang bersamaku, namun aku tidak tega.


Aku tidak tega bila harus merusak kebahagiaan mereka. Haruskah aku mengorbankan cintaku untuk kebahagian mereka?


Aku menyayangi Rendy sama seperti aku menyayangi kedua adikku, bagaimanapun dia juga adalah adikku. Ya walau dia tidak akan pernah mau menganggapku kakak.


Setelah sampai di rumah aku merebahkan badanku ke ranjang dan menatap langit langit kamarku, pikiranku melayang ke masa beberapa tahun yang lalu.


Aku meringis dalam hati merasakan nyeri di dalam dadaku saat ingatanku kembali ke pada masa itu, masa paling sulit untuk kami semua.


Hah! Memikirkannya membuatku merasa menjadi orang paling jahat sedunia.


Aku pun memutuskan untuk tidur, menghilangkan rasa nyeri dalam dadaku yang terasa sesak.


_______


Bukan pernikahan impian.


_______


Author pov.


Prilly mengedarkan pandangan matanya, mencoba mencari keberadaan Ali dimana namun tak menemukan suaminya itu dimana pun.


'Apa Ali sudah pulang' batin Prilly bertanya - tanya.


"Sayang ada apa?" tanya Rendy karna melihat Prilly yang duduk gelisah.


Prilly memandang Rendy lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa - apa." ucap Prilly.


Rendy tau Prilly berbohong namun ia tidak mau bertanya lebih lanjut karna Rendy tau apa yang membuat Prilly gelisah. "Mau pulang sekarang?" tanya Rendy.


Prilly hanya mengangguk dan bangkit dari duduk nya. Mereka pun berjalan mendekati Papa Prilly untuk berpamitan pulang lebih dulu.

__ADS_1


"Pa... Ma.." panggil Prilly saat sudah berada di dekat mereka.


Haidar menatap putrinya dan menaikan satu alisnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Tidak apa apa kan kalau kami pulang lebih dulu?" tanya Prilly.


"Tidak apa apa... Lagi pula sebentar lagi acaranya juga selesai kok, kami tau kamu pasti lelah." balas Mama tiri Prilly, Alika sambil tersenyum tulus pada Prilly.


Julian yang tidak jauh dari mereka mendengus. "Capek apanya? Harusnya yang capek itu Mama dan Papa! Bukan kau yang cuma duduk santai di sofa sambil pacaran." ucap Julian sarkastik.


"Julian!" seru Alika geram karna anaknya itu selalu berbicara apa adanya. Hihi.


"Apa? Memang iya kan, bahkan dia mengabaikan suaminya." kata Julian menatap Rendy tidak suka. Entahlah sejak pertama kali Julian melihat Rendy ia sudah tidak suka, ia sendiri tidak tau kenapa.


"Sudahlah tidak perlu membahas ini." ucap Haidar.


Rendy menatap sinis Julian, begitu pun sebaliknya. Julian pun tak kalah sinis menatap Rendy.


Sementara Prilly hanya meringis, dalam hati ia membenarkan semua ucapan Julian. Karna memang semua yang di ucapkan Julian itu benar, dia mengabaikan Ali dan memilih bersama Rendy di sepanjang acara resepsi pernikahan Papanya dan Mama barunya (tiri).


________


Bukan pernikahan impian.


________


Pagi ini aku menyiapkan sarapan seperti hari hari biasanya. Sebagai istri yang baik, huh apakah aku pantas menyebut diriku sebagai istri yang baik sementara aku menduakan suamiku?


Seperti nya aku lebih pantas di sebut sebagai istri penghianat! Bukan istri yang baik.


Tuhan.... Maafkan aku, aku tidak tau harus bagaimana. Aku mencintai Rendy sejak aku pertama kali melihatnya di kantin kampus kami.


Tapi lima bulan aku tinggal bersama lelaki yang berstatus suamiku, aku juga seperti nya mulai mempunyai rasa padanya. Walau aku tidak tau rasa apa yang aku miliki padanya.


Sarapan pagi hari ini terasa sangat hening. Ya walau biasanya memang hening, tapi aku tidak secanggung ini.


"Hmmm." Rasya berdeham sekilas, kami semua pun menatapnya.


"Kau kemana kak kenapa semalam tidak ada?" tanya Rasya kepada Ali.


Ali kembali menatap sarapannya dan menjawab singkat. "Pulang." ucapnya santai.


"Kenapa? Kau itu sudah mempermalukan kami di acara akad nikah Papanya kak Prilly terus pulang begitu saja saat di acara resepsi nya." ucap Dahlia panjang lebar.


"Aku sudah berpamitan dengan Papa dan Mama." balasnya masih santai.

__ADS_1


Rasya dan Dahlia sama sama mendengus kesal. "Setidaknya kau memberitahu kami jika ingin pulang kak, kami mencarimu. " ucap Rasya.


"Ck, kurasa itu tidak perlu." jawab Ali berdecak kesal.


Aku hanya diam mendengarkan perdebatan ringan kakak beradik ini. Jadi kemarin Ali pulang lebih dulu, pantas aku mencari keberadaannya tidak ada.


"Sangat perlu kak! Kemarin kak Prilly mencarimu tau." ucap Dahlia.


Mataku terbelalak menatap Dahlia tidak percaya, bagaimana dia bisa tau jika aku kemarin mencari Ali? Eh memangnya kemarin aku mencari Ali ya?


"Benarkah?" tanya Ali.


"Apa?" ucapku balik bertanya dengan bodohnya.


"Tidak."


"Hari ini Gwen harus ke rumah sakit yang di lakukan rutin setiap satu bulan sekali dan aku tidak bisa mengantarkan Prilly jadi kau bisa kan kak mengantar Prilly dan Gwen ke rumah sakit?" tanya Rasya panjang lebar sekaligus mengalihkan pembicaraan kami.


Aku hanya diam menatap Ali dari ekor mataku karna Ali hanya diam tidak menjawab ucapan Rasya.


"Kak!"


"Aku ada meeting penting hari ini." ucap Ali akhirnya.


Ada rasa kecewa dalam hatiku saat Ali mengatakan itu, karna itu sama saja jika pekerjaannya lebih penting daripada kami. Aku dan Gwen.


"Apa pekerjaanmu lebih penting dari pada istri dan anakmu kak?" tanya Dahlia tidak suka.


"Ya." balas Ali singkat padat dan jelas.


"Tidak apa Rasya, aku bisa minta mang Udin untuk mengantarku nanti." ucapku saat melihat Rasya hendak bicara. Mang Udin adalah supir di rumah ini yang merangkap sebagai satpam. Karna di rumah ini jarang ada yang menggunakan jasa supir jika tidak kepepet seperti sekarang ini.


Setelahnya suasana kembali hening hingga sarapan pun berakhir. Dahlia dan Rasya pergi terlebih dahulu, hanya ada Ali yang tersisa di meja makan saat ini. Aku tidak tau kenapa ia masih setia duduk di kursinya, biasanya ia akan pergi lebih dulu dari Rasya dan Dahlia.


Aku melihat Ali yang menghembuskan nafas panjang karna aku memang sedang memperhatikan Ali.


"Aku akan memgatarmu nanti." ucapnya tiba tiba.


"Tidak perlu jika terpaksa." balasku.


Ali bangkit dari kursinya lalu tersenyum padaku. "Maaf..." ucapnya.


Aku menatapnya bingung, untuk apa ia meminta maaf padaku?


"Aku pergi dulu sebentar, jam sepuluh aku akan kembali untuk mengantar kalian." ucap Ali. Ia berjalan mendekatiku mengecup keningku cukup lama lalu pergi keluar rumah.

__ADS_1


Aku masih diam mematung di tempat dudukku, masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2