
Dua puluh sembilan : Prilly Milikku.
______________________
______________________
Ali pov.
Aku menghembuskan nafas panjang dan menghirupnya lagi kemudian membuangnya lagi begitulah berulang kali untuk menetralkan pikiranku yang kacau, ralat amat sangat kacau.
Apalagi tadi Prilly sudah pergi pagi pagi sekali ke acara pernikahan sialan itu. Tadi aku sempat bertanya lagi siap lelaki sialan yang sebenarnya dia cintai itu, namun dia tidak menjawabnya. Itu membuatku kesal sekaligus marah pada diriku sendiri.
Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan hari ini, jika ke kantor pun percuma tidak akan ada yang bisa kulakukan dengn pikiran kacau.
Aku menuruni tangga dengan malas, berniat untuk sarapan karna perutku sudah keroncongan minta di isi dari tadi. Sesampainya di ujung tangga aku melihat Rasya dan Dahlia yang sudah berpakaian rapi.
Rapi dalam artinya seperti ingin pergi ke pesta bukan rapi mau kuliah atau pun sekolah. Jadi mereka juga akan menghadiri pernikahan sialan itu dan meninggalkan aku dirumah yang sedang kacau begini.
Bagus, bahkan kedua adikku pun mendukung pernikahan itu. Adik macam apa itu, membiarkan kakaknya sakit hati karna di tinggal menikah lagi. Bukanya di melarang Prilly kek agar tidak menikah lagi. Seperti yang dulu mereka lakukan padaku saat aku akan menikah Ali.
Hah! Lagi dan lagi aku teringat, inikah karma untukku?
"Kalian mau kemana?" tanyaku basa basi busuk. Ya walau aku sudah tau kalau mereka akan menghadiri acara pernikahan sialan itu.
Rasya dan Dahlia menatapku dengan kening berkerut heran, aku tidak mengerti kenapa keduanya menatapku heran.
"Kau belum siap siap kak?" tanya Dahlia.
Aku tergelak. "Siap siap untuk apa?" tanyaku balik.
"Ku pikir Prilly juga memberikan undangan pernikahan itu untukmu."
Kali ini Rasya yang membuka suara, kurasa dia sengaja membuatku kesal. Ya aku tau dia pasti sangat senang sekarang karna Prilly meninggalkan aku 😡.
"Ya, lalu apa kau pikir aku mau menghadiri pernikahan sialan itu." ucapku sinis dan berlalu dari hadapan mereka yang masih terbengong dengan ucapan ku barusan. Mungkin karna aku menyebutnya pernikahan sialan.
"Kak datanglah... Jika memang tidak bisa datang ke acara akadnya kau bisa datang di acara resepsinya kan? Jangan buat ka Prilly kecewa karna kau tidak hadir sebagai suaminya. Kau akan menyesal jika tidak datang kak." teriak Dahlia.
Aku mengabaikan itu dan memakan roti selai kacang yang baru saja kubuat. Rasanya sangat hambar sekali, padahal di dalamnya ada selai kacangnya.
Ck, seperti nya aku harus datang ke pernikahan sialan itu. Aku tidak mau di di akan, aku harus membatalkan pernikahan itu.
__ADS_1
Ya, Prilly masih milikku dan akan selu menjadi milikku. Karna kami belum bercerai dan tidak akan pernah bercerai dengannya sampai kapanpun.
Dengan cepat aku bangkit dari kursi dan mencari kunci mobilku untuk segera pergi ke acara akad nikah sialan itu. Aku tidak perduli jika aku tidak ganti baju, mandi saja tidak. Sialan memang waktu sudah tidak cukup.
Sudah berapa kali aku hari ini berkata 'sialan' sepertinya sudah sangat banyak dan tidak terhitung lagi. Hah abaikan, itu tidak penting tapi tetap saja di tulis oleh Raraa 😡.
'Ali minta di tabok pake bibir itu mulutnya 😆'
________
Bukan pernikahan impian.
________
Author pov.
Prilly berdiri di depan pintu dengan gelas, sesekali ia melirik kejam tangannya. Dia sedang menunggu seseorang, namun seperti nya yang di tunggu tak kunjung datang. Apa dia tidak akan datang? Tanyanya dalam hati.
"Sayang..."
Prilly menoleh kearah seseorang yang memanggilnya dan memeluk pinggang Prilly dari belakang.
Lelaki itu tau jika Prilly sedang menunggu 'dia' datang. Sedari tadi ia memang sudah memperhatikan Prilly yang nampak gelisah dan sesekali melihat tam tangannya sejak dua adik dari 'dia' datang.
"Tidak ada apa-apa kok, ya sudah ayo masuk." balas Prilly sambil tersenyum manis, tapi bagi lelaki itu Prilly bukan tersenyum manis melainkan tersenyum miris.
"Aku tau kamu berbohong sayang..." ucap lelaki itu dan melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Prilly agar berhadapan dengannya.
"Aku tidak berbohong."
"Aku tau, kamu sangat ingin dia datangkan?" tanya lelaki itu menatap lurus manik mat Prilly.
Prilly menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku hanya-----
"Jujurlah, jangan berbohong. Katakan saja jika kamu memang ingin ia hadir, aku tau kamu sangat mencintai dia." ucap lelaki itu memotong ucapan Prilly.
"Aku tidak berbohong, aku tidak mencintai nya. Aku mencintai mu." ucap Prilly langsung memeluk lelaki itu.
Lelaki itu menghela nafas berat. Dia tau jika sebenarnya Prilly mencintai 'dia' bukan dirinya, namun Prilly belum menyadari akan hal itu.
"Liat aku, jika kamu memang masih ragu... Kamu tidak perlu bercerai dengannya, kita bisa akhiri semua ini dengan baik baik." ucap lelaki itu menangkup kedua pipi Prilly untuk menatapnya.
__ADS_1
Prilly kembali menggelengkan kepalanya kuat kuat... "Tidak! Kita sudah merencanakan semua itu dari awal, aku mencintaimu... Aku tidak pernah mencintai dia sama sekali." ucap Prilly.
Entah kenapa hatinya sedikit ragu saat mengatakan bahwa ia tidak mencintai nya. Apakah sebenarnya ia memiliki rasa terhadap lelaki yang berstatus suaminya itu atau tidak, ia tidak tau.
"Lebih baik kita masuk sebentar lagi akad nikahnya akan dimulai bukan." ajak Prilly.
"Jika kamu memang mencintainya katakan saja, sebelum nanti semuanya akan terlambat dan kamu akan menyesalinya karna berpisah dengannya dan memilihku." ucap lelaki itu.
"Aku tidak akan menyesal telah memilihmu karna aku mencintaimu, percayalah." ucap Prilly.
"Baiklah jika itu maumu, tapi jika kamu berubah pikiran katakan padaku sebelum semuanya terjadi. Oke." jelas lelaki itu.
Prilly mengangguk mantap. "Ayo masuk." ajak lelaki itu.
Prilly mendengus sebal. "Tadi aku sudah mengajakmu masuk."
Lelaki itu malah terkekeh geli melihat Prilly yang merajuk padanya. Kemudian mereka pun masuk kedalam rumah dengan bergandengan tangan , menuju ruang tamu.
Prilly dan lelaki itu pun duduk bersebelahan dengan tangan masih bertautan, seakan takut jila tautan itu leps maka salah satu dari mereka akan pergi.
"Jadi apa lagi yang kita tunggu." ucap Seseorang lelaki bernama Malik atau lebih tepatnya adik Haidar, ayah Prilly.
"Iya, pa... Semua sudah kumpul penghulu juga sudah ada. Lalu apa yang harus di tunggu lagi." ucap Fandi menimpali.
Pak Haidar menghela nafas panjang. "Baiklah, sepertinya kita mulai saja akadnya pak penghulu..."
Pak penghulu itu mengangguk dan mulai memberikan intruksi untuk calon mempelai pria agar mengikuti apa yang beliau ucapkan.
{Gue ngak ngerti apa aja yang harus di lakuin, karna gue belum menikah wkwk 😁✌}
"Saya terima nikah dan kawinnya.....
"Tunggu!!!"
Teriak seseorang yang sedikit berlari kearah mereka membuat akad nikah harus berhenti sesaat. Kini semua orang yang d diruangan itu menatap seseorang yang baru datang itu dengan tatapan aneh.
"Ada apa kak?" tanya Rasya yang entah sudah sejak kapan bnagkit dari duduknya dan menghampiri kakaknya.
Ali mendorong Rasya dan berjalan mendekati penghulu yang sedang menatapnya heran.
"Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Aku masih suaminya!" pekik Ali dan itu sukses membuat keadaan menjadi hening.
__ADS_1