
Empat puluh : Akhir Yang Indah.
______________
Author pov.
"Prilly sebaiknya kita pulang." ucap Ali.
Prilly hanya diam tak bergeming di tempatnya tanpa suara hanya air mata yang mengalir membasahi kedua pipi chubynya. Dia masih tidak percaya akan kenyataan bahwa Rendy telah tiada.
"Kak sebaiknya kita pulang, hari sudah mulai gelap." ucap Rassya ikut membunjuk Prilly.
Prilly tetap diam di tempatnya.
"Kalian pulang saja dulu nanti Prilly bisa pulang bersamaku." ucap Ali menatap ke sekelilingnya.
Memang bukan hanya ada mereka bertiga di pemakaman itu, namun ada ayah ibu dan juga adik Prilly yang ikut menemani Prilly yang sejak kematian Rendy menjadi diam saja.
Mereka pun mengangguk dan pulang meninggalkan mereka berdua di pemakaman itu.
"Tolong jaga dia, ya walau dia sangat menyebalkan tapi aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri." ucap Julian menatap Prilly prihatin lalu menatap Ali sekilas dan berlalu pergi menyusul ibu dan ayahnya.
"Prilly aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, karena aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti ini.... Tapi ini sudah sore lebih baik kita pulang, Rendy tidak akan senang melihatmu bersedih karena nya." ucap Ali berusaha membujuk Prilly agar mau pulang karena hari memang sudah mulai gelap.
Namun Prilly tetap diam saja tidak membalas ucapan Ali...
Ali menghela nafas panjang melihat Prilly yang seperti ini, Ali merasa Deja Vu. Dulu saat kepergian Nikita Prilly juga melakukan hal yang sama seperti Ali lakukan membujuknya pulang. Bedanya kali ini Prilly hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya, tapi dulu Ali malah berbuat kasar saat Prilly membujuknya untuk pulang.
"Prilly--"
"Bisakah kau tinggalkan aku sendiri!" ucap Prilly memotong ucapan Ali.
Ini adalah pertama kalinya Prilly berbicara setelah kepergian Rendy.
"Tapi Prilly--"
"Aku hanya ingin sendiri."
Prilly kembali berucap dan memotong ucapan Ali.
Ali beranjak namun bukan untuk menjauh, malah untuk mendekati Prilly.
"Ku fikir kau tidak tuli."
"Aku memang tidak tuli, tapi aku akan tetap disini bersamamu..." ucap Ali.
Prilly menatap Ali kesal lalu beranjak berdiri, ia tidak tau harus bersikap bagaimana kepada Ali. Apakah ia harus marah karena Ali sudah membuat hidup Rendy menderita?
Tapi Prilly siapa? Dia tidak berhak marah karena dia hanya kekasih Rendy.
Ali pun ikut beranjak berdiri di belakang Prilly.
"Prilly--
Ucapan Ali terhenti saat tiba tiba Prilly memeluk tubuhnya dan membuat ia hampir saja terjungkal kebelakang.
"Kita pulang." ucap Prilly.
Ali yang masuk shok karena mendapatkan pelukan dari Prilly pun hanya bisa diam dan mengikuti Prilly yang berjalan mendahuluinya.
"Dari tadi aku sudah mengajaknya pulang." gumam Ali lirih.
"Aku dengar itu." ucap Prilly membalikkan tubuhnya dan hal itu sukses membuat Ali menambak Prilly.
"Kalau jalan itu pakai mata." ucap Prilly kesal lalu kembali berjalan meninggalkan Ali yang masih diam.
"Setauku jalan itu pakai kaki bukan mata." gumam Ali pelan.
"Lagi pula siapa yang tiba tiba berhenti berjalan." lanjut Ali .
"Hey apa yang kau lakukan disana? Cepat ayo kita pulang." pekik Prilly kesal melihat Ali yang masih berdiri diam di gerbang pemakaman.
Ali tersadar jika dia dari tadi hanya diam di tempat pun akhirnya berjalan menuju mobilnya terparkir dan mengambil muncul mobil dari saku celananya lalu membuka kunci mobil.
_________
Bukan pernikahan impian.
_________
Prilly pov.
Sudah satu tahun sejak kematian Rendy, namun aku masih tidak bisa melupakannya dan tidak akan pernah bisa melupakan Rendy.
"Ma, kenapa kita lurus terus bukanya rumah Papa belok kanan ya."
Ucapan yang keluar dari mulut mungil yang berada disampingku membuatku tersadar jika aku sedang tidak sendiri dan juga sedang menyetir mobil.
"Kelewat ya jalannya." ucapku dengan bodohnya.
Gwen melipat tangannya didada dan menatapku sebal, terlihat sangat menggemaskan saat dai sedang ngambek seperti itu.
"Mama kenapa sih? Melamun terus" tanya Gwen.
Aku tersenyum melihat Gwen yang begitu pintar berbicara walau usianya baru satu tahun setengah.
__ADS_1
"Mama tidak melamun sayang... Mama hanya sedang banyak pikiran." ucapku. Aku memutar setir untuk memutar balik mobil karna jalan kerumah Ali yang terlewat.
"Itu sama saja mama, aku tidak mau ya kalau besok akan ada berita di koran kalau ada seorang ibu dan anak mati karena kecelakaan mobil yang di sebabkan ibunya yang melamun dalam menyetir." oceh Gwen dengan lucunya.
Aku tidak tau kenapa dia bisa berbicara sepanjang itu dan dari mana dia bisa mendapatkan kata kata seperti itu?
"Kamu tau arti kara yang kamu ucapkan barusan?" tanyaku.
Gwen menggelengkan kepalanya polos dan menatapku bingung.
"Lalu dari mana kamu mendapatkan kata kata itu sayang."
"Uncle Rassya sama Aunty Dahlia." balas Gwen.
Aku menghentikan mobilnya saat sudah sampai di depan rumah Ali. Menatap Gwen lalu menggelengkan kepala melihat putriku, seharusnya aku tidak boleh sering-sering membiarkan Dahlia dan Rassya mengajak Gwen pergi.
Karena inilah hasilnya jika Gwen sering bepergian bersama Dahlia dan Rassya.
"Baiklah ayo kita turun." ucapku.
"Hati hati sayang.." pekikku melihat Gwen yang tiba tiba keluar dari mobil dengan cara melompat.
"Jangan lakukan itu lagi, biar mama yang menurunkanmu dari mobil." ucapku seraya mengusap dadaku.
"Kenapa? Uncle Rassya bilang aku sudah besar jadi harus bisa mandiri." ucap Gwen.
Aku memutar mata kesal, aku tidak boleh di biarkan. Bagaimana Rassya bisa berkata seperti itu pada anak seusia Gwen?
Hello Gwen masih dibawah dua tahun, walau dia pintar berbicara namun ia tetap anak balita.
Sepertinya aku harus membericakan banyak hal pada Rassya juga Dahlia nanti, aku akan memberinya pelajaran jika perlu.
Aku menggandeng tangan Gwen berjalan menuju pintu utama rumah Ali.
"Ma."
"Ada apa sayang?"
"Kenapa mama tidak menikah saja dengan Papa?"
Pertanyaan konyol Gwen membuatku mendadak tersedak air liurku sendiri, aku jadi bingung bagaimana harus menjelaskan pada Gwen yang masih kecil ini.
"Memangnya kenapa sayang?" akhirnya aku lebih memilih bertanya padanya daripada menjawab ucapannya.
"Aku capek mah kalau kalau kesana kemari hanya untuk bertemu kalian berdua." ucap Gwen.
"Uncle Rassya dan Aunty Dahlia bilang, jika Mama dan Papa menikah aku tidak akan capek kesana kemari lagi dan aku juga akan punya adik." lanjut Gwen.
Astaga aku tidak pernah berfikir Gwen akan berkata dan berfikir sejauh ini. Aku benar benar harus memberikan pelajaran kepada dua adik Ali.
"Uncle Rassya kan sebentar lagi akan menikah dan dia yang akan memberimu adik sayang." ucapku asal.
Aku tidak mengerti mengapa dia bisa seantusias itu jika kami datang kerumah ini.
"Baiklah.... Mari silahkan masuk, jangan sungkan sungkan anggap saja rumah sendiri." ucap Rassya karena tidak mendapati tanggapan dariku maupun Gwen.
Aku dan Gwen pun memasuki rumah dan meninggalkan Rassya yang masih menutup pintu.
"Uncle selalu berkata seperti itu setiap kita datang." ucap Gwen. Syukurlah dia tidak lagi membahas masalah tadi, aku harap dia lupa dengan apa yang kita bicarakan tadi.
"Aku mendengarmu Gwen." ucap Rassya yang tiba tiba sudah berada di depanku.
Gwen tidak mempedulikan Rassya, ia melepas tangannya dari genggamanku lalu berlari kecil menjauhi kami berdua.
"Papa!" pekiknya senang dan meminta Ali menggendongnya.
"Anak papa makin besar ya, berat sekali." ucap Ali.
"Anak tiri selalu di abaikan." ucap Rassya kesal karena aku dan Ali meninggalkannya.
"Kak Prilly kemana saja sih tidak pernah kesini lagi? Astaga aku merindukanmu kak?" tanya Dahlia saat kami sudah berada diruang keluarga.
Memang sudah sebulan aku tidak datang mengunjungi mereka. Bukan karna aku menjauh dari mereka tapi karna pekerjaan ku yang sangat banyak. Aku berkerja menggantikan Ayahku di perusahaan nya.
"Aku hanya sedang sibuk saja." balasku.
"Itulah mengapa aku tidak mau bekerja kak, selalu sibuk jarang ada waktu untuk keluarga nya." ucap Dahlia, aku tau dia sedang menyindir kakaknya.
"Memangnya kau mau ngapain jika tidak bekerja?" tanyaku penasaran.
"Aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja kak... Nanti aku yang akan duduk manis dirumah dan suamiku yang akan bekerja." ucap Dahlia dengan antusias.
"Dasar bodoh." ucap Rassya.
"Kau bisa menjadi keduanya Dahlia." ucap Ali yang sepertinya juga kurang setuju dengan ide Dahlia.
"Aku tidak mengerti kenapa orang dewasa selalu saja bertengkar." ucap Gwen, tangannya bertumpu pada dagunya.
"Papa, Aunty dan Uncle-mu memang selalu seperti itu sayang. Mereka itu tidak bertengkar namun mereka itu sedang membicarakan hal yang tidak penting."
Aku bingung bagaimana membalas ucapan Gwen barusan dan akhirnya itulah yang bisa kukatakan entah dia mengerti atau tidak.
__________
Bukan pernikahan impian.
__ADS_1
_________
Author pov.
"Sayang kamu harus makan biar cepat sembuh ya."
"Tidak mau!"
"Sayang kalau kamu tidak mau makan bagaimana kamu bisa akan cepat sembuh?"
"Sudah kubilang kan aku tidak akan makan jika kalian tidak mau menikah."
"Sayang."
"Pokoknya aku tidak akan mau makan jika Mama dan Papa tidak menikah." ucap Gwen, dia ingin sekali bila ibunya bisa bersama dengan ayahnya.
"Sayang mengertilah...."
"Jangan pernah mengajakku berbicara lagi."
Sepertinya Gwen benar benar melancarkan aksi protes nya terhadap Ali dan Prilly.
"Baiklah kami akan menikah tapi sekarang kamu makan dulu." ucap Ali pada akhirnya, dia tidak bisa melihat putri nya terbaring lemah dirumah sakit seperti ini.
Prilly membulatkan matanya saat mendengar perkataan Ali yang asal bicara.
Gwen tersenyum. "Tidak mau, kalian berdua harus berjanji dulu." pinta Gwen.
"Berjanji bagaimana sayang?" tanya Prilly.
"Berjanjilah bahwa kalian akan menikah dua hari lagi." ucap Gwen.
"Sayang, pernikahan itu bukan suatu mainan. Kami kami mempersiapkan semuanya terlebih dahulu." ucap Prilly mencoba memberi pengertian pada putrinya.
"Ya sudah kalau kalian tidak mau menikah dua hari lagi, maka aku tidak akan mau makan sampai kapan pum itu. Titik!"
Prilly menatap Gwen lalu menghela nafas beratnya, dia paling tidak bisa melihat Gwen sakit tapi permintaan Gwen kali ini membuatnya bingung.
Jika Prilly tidak mau menikah dengan Ali dua hari lagi maka ia pasti akan melihat Gwen yang makin hari makin melemah akan tetapi jika ia menikah dengan Ali Gwen pasti akan kembali seperti semua, sepertinya memang tidak ada pilihan bagi Prilly.
"Baiklah Mama akan menikah dengan Papa dua hari lagi." ucap Prilly tersenyum pasrah.
Ali hanya tersenyum karena ia juga tidak keberatan sebenarnya dengan permintaan Gwen.
"Sekarang kalian berpelukan." ucap Gwen.
"Sayang..."
"Ayo berpelukan." ucap Gwen memotong ucapan Prilly.
Dengan senang hati Ali memeluk Prilly, Gwen bangkit dari ranjang dan ikut memeluk kedua orang yang sangat ia sayangi itu.
Prilly melepaskan pelukannya dan menatap Gwen heran.
"Sayang kamu sedang mendengarkan lagu?" tanya Prilly saat melihat Gwen memakai headsead di satu telinga kirinya.
Gwen menggelengkan kepalanya polos. "Tidak Ma."
"Lalu untuk apa kamu memakai ini sayang?"
Kini Ali lah yang bertanya karena ia juga penasaran.
"Untuk ini." ucap mengambil ponsel dari bawah bantalnya.
"Sini lihat."
Prilly mengambil ponsel itu dan langsung geram saat melihat layar di ponsel.
"Ada apa Prilly?" tanya Ali bingung.
"Lihat aja sendiri, kita di kerjain." ucap Prilly kesal.
"Astaga Rassya." ucap Ali saat melihat layar ponsel Gwen yang masih ada panggilan terhubung dengan Rassya.
"Hallo calon pengantin baru." ucap Rassya juga Dahlia yang tiba tiba muncul dari pintu secara bersama.
"Apa?" ucap Ali dan Prilly.
"Duh... Kalian kompak sekali sih." ucap Dahlia.
"Kita berhasil Gwen, kau memang anak yang pandai." ucap Rassya.
Ali dan Prilly melotot mendengar ucapan Rassya. Jadi dugaannya benar bahwa Rassya lah dalang dari semua ini. Dari awal juga mereka berdua heran mengapa Gwen bisa berbicara seperti itu, ternyata Rassyalah yang mengajarinya lewat ponsel yang ia sambungkan je headsead.
"Sudahlah kak jangan malu maluin gitu, kita tau kok kalau kalian itu saling mencintai... Bukan begitu Gwen." ucap Rassya.
Gwen yang belum terlalu mengerti pun hanya tersenyum dan mengangguk saja. Yang dia tau, Mama dan Papanya akan tinggal bersama jika Gwen melakukan apa yang Rassya suruh.
"Lihat kalian seperti anak ABG saja pipinya sampai merah kayak tomat busuk gitu." ucap Dahlia menunjuk Ali dan Prilly bergantian.
"Diam!"
.
.
__ADS_1
.
Tamat