
Tiga puluh delapan. : Hal Terindah namun terakhir.
_____________________
Author pov.
Mimpikah aku kau ada di sampimgku.
Yang selama ini jauh dari genggamanku.
Aku pesimis merasa ini takkan mungkin.
Berharap ini bukan cinta sesaatmu.
Mungkin aku tak setampan Romeo.
Aku juga tak bergelimang harta.
Namun tak ku sangka dapatkan dirimu.
Yang lebih indah dari seorang juliette.
Engkau kini bagaikan putri yang terindah.
Menghiasi bunga di taman jiwaku.
Kusadari banyak yang inginkan kamu.
Berharap kamu untuk aku selamanya.
[Reff.....]
Mungkin aku tak setampan Romeo.
Aku juga tak bergelimang harta.
Namun tak ku sangka dapatkan dirimu.
Yang lebih indah dari seorang juliette.
Mungkin aku tak setampan Romeo.
Aku juga tak bergelimang harta.
Namun tak ku sangka dapatkan dirimu.
Yang lebih indah dari seorang juliette.
Mungkin aku juga tak setampan Romeo.
Aku juga tak bergelimang harta.
Namun tak ku sangka dapatkan dirimu.
Yang lebih indah dari seorang juliette.
Namun tak ku sangka dapatkan dirimu.
Yang lebih indah dari seorang juliette.
Namun tak ku sangka dapatkan dirimu.
Yang lebih indah dari seorang juliette.
__ADS_1
Namun tak ku sangka dapatkan dirimu.
Yang lebih indah dari seorang Juliette.
Yang lebih indah dari seorang juliette.....
[Yovi & Nuno - Tak Setampan Romeo]
Setelah Rendy selesai menyanyikan lagu dari Yovi & Nuno - Tak Setampan Romeo, ia menyimpan gitar di samping dan menggenggam kedua tangan Prilly sambil menatap lurus mata Prilly membuat Prilly tersipu malu karna di tatap intens oleh Rendy.
"Aku memang ngak setampan romeo dan juga nggak bergelimangan harta namun aku tidak menyangka kamu mau sama aku, aku adalah pria sangat beruntung karna bisa mendapatkanmu yang bagaikan putri raja." ucap Rendy tulus lalu mengecup punggung tangan Prilly.
"Aku mencintaimu Prilly. I love you." ucap Rendy.
"Aku juga mencintaimu Rendy. I love you too." balas Prilly tersenyum malu, pipinya sudah bertemu merah bak tomat matang.
"Lihat pipimu sangat merah, menggemaskan sekali sih." ucap Rendy lalu mencubit kedua pipi Rendy karna gemas.
"Sakit." ucap Prilly cemberut pura -pura marah sambil mengusap-usap kedua pipinya yang telah di cubit Rendy, walau sebenarnya Rendy tidak kuat mencubit pipi Prilly.
"Aduhh cakit ya, sini sini aku sembuhin." ucap Rendy mencium pipi kanan dan pipi kiri Prilly.
"Bagaimana sudah tidak sakit kan?" tanya Rendy dengan wajah berada di depan wajah Prilly. Tidak ada jarak diantara mereka, bahkan kening mereka bersentuhan.
"Ya." balas Prilly gugup.
Rendy tersenyum melihat Prilly yang gugup karnanya. Dengan perlahan-lahan Rendy mulai lebih mendekatkan wajahnya agar benar-benar tidak ada jarak di antara mereka.
"Aku sangat mencintaimu." ucap Rendy sebelum akhirnya ia menyatukan bibirnya dengan bibir Prilly.
Rendy mencium Prilly mungkin lima detik lalu menjauhkan wajahnya. "Maaf." gumamnya.
"Harusnya aku tidak melakukannya." lanjut Rendy penuh sesal. Rendy sungguh menyesal karna sudah berani mencium Prilly tanpa meminta persetujuan Prilly.
"Seharusnya aku tidak..."
"Ssstttt, sudahlah memangnya kenapa kalau kamu menciumku." ucap Prilly memotong ucapan Rendy.
"Ku pikir kamu tidak suka." ucap Rendy pelan.
"Siapa yang bilang, aku suka kok." ucap Prilly tersenyum malu.
"Aku sangat suka bila kedua pipimu memerah." ucap Rendy.
"Kenapa?" tanya Prilly.
"Karna kamu terlihat sangat menggemaskan jika kedua pipimu merona merah." jawab Rendy.
Ucapan Rendy mampu membuat pipi Prilly bertambah merah, jika tadi seperti tomat, maka sekarang sudah seperti kepiting rebus. Walau ya kurasa tomat matang dan kepiting rebus ngak ada bedanya sih ya?
Prilly pun menundukkan kepalanya karna malu. "Hahaha." Rendy malah tertawa melihat Prilly yang seperti itu.
"Rendy tidak lucu." ucap Prilly sebal.
"Aku memang tidak sedang melucu." balas Rendy sambil memegangi perutnya.
"Menyebalkan." gumam Prilly.
"Oh ya omong-omong hari ini kemana kedua bodyguardmu itu?" tanya Rendy saat sadar bahwa hari ini ia dan Prilly bisa jalan bebas dari kedua bodyguardnya itu, biasanya jika mereka pergi keluar kedua bodyguard nya itu akan selalu ada.
"Aku meminta Papa agar mereka tidak mengikutiku untuk hari ini saja, karna aku ingin menghabiskan seharian ini hanya denganmu." ucap Prilly.
"Oh." balas Rendy hanya ber'oh ria.
__ADS_1
"Boleh aku tidur disini?" tanya Rendy, ia merebahkan kepalanya agar tiduran di pada Prilly.
"Tentu saja boleh." ucap Prilly.
"Terima kasih, aku sangat mengantuk hoammm.." ucap Rendy.
"Suaramu bagus kenapa kamu tidak menjadi penyanyi saja." ucap Prilly.
"Sebenarnya keinganku memang menjadi seorang penyanyi." balas Rendy.
"Lalu kenapa tidak bernyanyi saja, kenapa malah menjadi seorang dokter?" tanya Prilly heran. Jika memang Rendy ingin menjadi seorang penyanyi mengapa ia tidak bernyanyi saja dan kenapa Rendy malah memilih menjadi seorang dokter?
"Bukan keinginanku menjadi seorang dokter, tapi menjadi seorang dokter adalah kebutuhanku." ucap Rendy.
"Apa maksudmu Rendy, aku tidak mengerti?" Prilly kembali bertanya, karna dia tidak mengerti dengan ucapan Rendy yang mengatakan bahwa ia menjadi dokter itu bukan keinginannya namun kebutuhannya.
'Jika aku menjadi dokter setidaknya aku akan tau sedikit tentang penyakitku, Prilly' ucap Rendy dalam hati.
"Karna lebih banyak yang membutuhkan seorang dokter dari pada yang menginginkan seorang penyanyi." ucap Rendy asal.
Namun cukup masuk akal juga kalau di fikirkan ucapan Rendy barusan, karna tuhan juga pasti akan lebih memberikan yang kita butuhkan daripada yang kita inginkan, bukan begitu?
"Aku sangat beruntung bisa bersamamu, kamu lebih memikirkan orang lain dari pada dirimu sendiri." ucap Prilly tersenyum tulus.
Rendy hanya tersenyum mendengar ucapan Prilly.
"Bolehkan sekarang aku tidur, aku sangat mengantuk." ucap Rendy.
"Baiklah, baiklah..." ucap Prilly.
Rendy mengenggam tangan Prilly dan mulai menejamkan matanya yang sudah sangat berat untuk terbuka. Hari ini Rendy merasa sangat bahagia sekali karna bisa menghabiskan satu hari penuh bersama perempuan yang dia cintai.
Rendy juga sangat bahagia bisa merayakan ulang tahun bersama kekasihnya. Ini adalah hari ulang tahun paling indah dalam hidupnya, pertama dan juga yang terakhir karna saat mata Rendy benar-benar terpejam saat itulah ia menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir.
Menghembuskan nafas terakhir di hari ulang tahun di atas pangkuan sang kekasih, membuatnya tersenyum dalam tidur panjangnya.
Prilly menyadari saat genggaman tangannya terlepas, ia mencoba membangunkan Rendy namun tidak mendapatkan respon apapun.
"Rendy..." panggil Prilly.
"Jangan bercanda Rendy.... Ini tidak lucu Rendy." panggil Prilly lagi sambil menepuk-nepuk pipi Rendy dari pelan sampai keras.
"Sayang..." ucap Prilly lirih saat ia mengecek denyut nadi Rendy yang tidak ada.
Prilly menggelengkan kepalanya kuat kuat... "Ini tidak mungkin, Rendy jangan tinggalkan aku."
"Tidak!"
Prilly meletakkan kepala Rendy ke atas karpet lalu ia berlari mencari tas nya yang ada di ranjang dan mengambil ponselnya, tanpa melihat siapa yang ia telfon ia langsung menelfon orang itu karna panik.
Sudah ke lima kali ia menelfon seseorang yang tidak tau siapa yang ia telfon, namun tidak kunjung diangkat padahal nomor itu aktif.
"Ku mohon siapapun, angkat telfonnya." gumamnya gusar, sekali lagi ia mencoba menghubungi nomor lain.
"Hallo..."
"Tolong bantu aku, aku mohon." ucap Prilly di iringi dengan tangisan.
"Prilly ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya seseorang dari seorang telfon.
"Aku-aku tidak bisa menjelaskannya. Datanglah ke alamat......" ucap Prilly.
"Baiklah aku akan segera datang, tunggu aku Prilly."
__ADS_1