
Dua puluh empat : Birthday Prilly.
___________________
___________________
Author pov.
"Kita putus."
"Apa?? Putus?"
"Ya aku mau kita putus."
"Tap-tapi kenapa? Aku mencintaimu dan aku juga tau kamu juga mencintaiku kan."
"Aku memang mencintaimu."
"Lalu kenapa kamu memutuskan aku jika kamu mencintaiku?"
"Ck, aku memang mencintaimu tapi aku lebih mencintai kakakku. Kau membenci kakakku itu artinya kau juga membenciku dan aku juga membenci orang benci kakakku." balas Fandi panjang lebar.
Dahlia tersentak kaget, ia baru tau jika Prilly adalah kakaknya Fandi. Karna dari kemarin Dahlia sudah bertanya dengan Fandi namun Fandi hanya diam dan menatapnya tajam dan penuh kebencian. Sekarang Dahlia tau arti tatapan kebencian Fandi kemarin.
"Maafkan aku Fandi, aku benar benar tidak tau jika dia kakakmu. Maafkan aku.... Ku mohon jangan putuskan aku, aku sangat mencintaimu..." ucap Dahlia di sertai isak tangis.
"Ck, memang jika kau tau dia kakakku kau tidak akan membencinya?" balas Fandi sarkastik.
"Aku memang tetap akan membencinya! Karna dia memang wanita murahan karna sudah menikah dengan lelaki yang sudah beristri." ucap Dahlia menggebu - gebu.
"Kau tidak tau apa - apa tentang kakakku, jadi jangan asal bicara!" bentak Fandi tidak terima.
"Apanya yang tidak tau dia memang wanita murahan, penggoda."
Plakk!!!....
Fandi menampar Dahlia karna geram dengan ucapan Dahlia yang mengatakan kakaknya murahan dan penggoda.
"Kau menamparku!"
"Dengarnya Dahlia! Kakaku perempuan baik baik, dia bukan wanita murahan dan juga bukan wanita penggoda!" teriak Fandi kesal.
"Lalu apa namanya jika bukan murahan atau penggoda dengan menikah dengan lelaki yang sudah bersuami. Hah!"
"Ka Bie tidak seperti itu, dia terpaksa menikah karna perjodohan gila Ayahku dan kakakmu. Kalau ka Bie tidak menikah dengan kakakmu, aku yakin peruhaan kakakmu sudah bangkrut saat ini... Dan dengar ini Dahlia, aku membenci kau, aku akan membuat kakakku bercerai dengan kakakmu. Aku tidak perduli jika setelahnya kau akan menjadi gelandangan di jalanan sana!" bentak Fandi di depan wajah Dahlia lalu pergi dari taman meninggalkan Dahlia seorang diri yang menjadi pusat perhatian di taman.
Dahlia diam mematung. Ia tidak percaya ini, jadi selama ini dia salah paham. Kakaknya menikah lagi karna ingin menyelamatkan perusahaannya bukan karna tergoda oleh wanita itu.
_______
Bukan pernikahan impian.
__ADS_1
_______
"Rasya kita dimana sih? Kenapa mataku harus di tutup."
"Kan tadi aku bilang suprise Prilly, kalau aku bilang kita dimana berarti bukan suprise lagi dong." balas Rasya.
Prilly mendengus kesal, ia mencebikkan bibirnya sebal. Bagaimana tidak sebal, katanya Rasya mau mengantarnya pulang. Tapi malah membawanya entah kemana dan menutup matanya pula.
"Sudah ayo jalan lagi, aku tidak akan menyakitimu kok. Dan jangan mencebikkan bibirmu begitu, aku jadi tergoda ingin menciumnya." ucap Rasya.
"Rasya!!" pekik Prilly kesal.
"Iya, iya aku hanya bercanda." ucap Rasya seraya terkekeh geli, melihat reaksi Prilly.
Dengan kesal, Prilly kembali berjalan dengan di bantu Rasya karna matanya ditutup, tidak mungkin kan Prilly jalan dengan mata tertutup sendiri. Bisa - bisa ia menabrak pohon atau sebagainya.
"Kita sudah sampai."
"Buka sekarang ya."
"Sini aku buka ikatan kainnya."
Rasya membuka kain yang menutupi kedua mata Prilly dengan perlahan membuat Prilly geram sendiri. "Bisakah aku saja yang membuka Rasya." pinta Prilly.
"Tidak! Nah sudah kan."
Prilly membuka matanya dan mengerjapkan matanya berkali kali, bagaimana tidak. Saat ini ia sedang berdiri di depan kue tart yang sangat besar, di sana ada Ayah, Fandi, serta orang tua angkat Fandi yang sedang tersenyum manis padanya.
Prilly tersenyum dan melangkah untuk memeluk Papanya. "Terima kasih, Papa.." ucapnya.
Papa Prilly mengusap punggung Prilly dengan sayang.
"Sudah pelukannya nanti saja, ayo kakak make wish dan tiup lilin dulu." ucap Fandi.
Prilly melepaskan pelukannya pada Papanya. Papanya tersenyum dan mengangguk pada Prilly. Prilly membalikkan badannya dan menutup mata untuk make wish. Kemudian Prilly kembali membuka mata dan meniup lilin yang berada di atas kue dengan tulisan
'Happy Birthday'
'23thn, Prilly'.
Prilly mengambil pisau dan piring kecil, ia memotong kue tart dan berjalan menuju Papanya.
"Terimakasih sayang..." ucap Papa Prilly saat Prilly menyuapinya. "Semoga kamu panjang umur dan sehat selalu bahagia."
"Iya, terimakasih papa."
Lalu ia kembali memotong kue dan memberikan nya pada Fandi. "Aku tidak di suapi juga kak."
"Tidak perlu, kau sudah tua bisa makan sendiri." balas Prilly santai.
"Huh kakak ini , untung aku sangat menyayangimu kak... Happy Birthday ya, semoga panjang umur dan bahagia selalu."
__ADS_1
"Terima kasih.. Mana hadiah untukku." ucap Prilly, semua yang ada disana pun terkekeh mendengarnya. Mereka tau Prilly tidak serius, ia hanya menggoda adiknya itu.
Fandi mendengus sebal. "Nanti kalau aku sudah kerja dan punya uang aku belikan apapun yang kakak mau."
"Keburu aku ultah lagi." ucap Prilly kembali memotong kue dan kali ini ia memberikannya pada Rasya.
"Terima kasih... Happy Birthday, semoga panjang umur dan selalu sehat jangan lupa untuk kembali mengingatku." ucap Rasya.
Prilly hanya tersenyum dan kembali memotong kue lagi. "Terima kasih Prilly dan Happy Birthday, semoga kamu panjang umur dan sehat selalu."
Prilly mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih untuk kalian berdua yang sudah mau datang kesini dan juga terima kasih kalian sudah mau menampung anak bandel itu."
"Aku bukan anak bandel ka Bie." ucap Fandi kesal.
"Tidak perlu berterima kasih, kami berdua sudah menganggapnya sebagai putra kami sendiri."
Prilly tersenyum dan mengangguk. Ia tau jika memang Malik & Vika adik dari Papanya yang sudah di anggap Prilly dan Fandi sebagai orang tua sendiri itu sangat menyayangi adiknya begitu juga dirinya.
_______
Bukan pernikan impian.
_______
Ali berjalan memasuki rumahnya dengan perasaan aneh. Dia baru saja pulang dari kantor. Seharian di kantor untuk menghilangkan perasaan anehnya itu namun setelah seharian memikirkan hal yang tak seharusnya ia pikirkan ia belum juga mengerti.
"Dia sangat cantik bukan.."
"Iya, cantik sekali."
"Tapi masih cantikkan mamanya."
"Ahh kau bisa saja."
Ali berdiri di depan pintu memperhatikan dua orang yang sedang memandangi box bayi dengan mengobrol ria. Ali memutuskan masuk mendekati mereka.
"Kau sudah pulang kak." ucap Rasya yang sadar duluan dengan kehadiran Ali.
"Ya.." balas Ali.
"Kakakmu itu datar sekali." ucap Prilly.
"Haha... Begitu juga suamimu." balas Rasya.
"Aku masih tidak percaya kalau dia suamiku. Lagi pula aku disini bukan karna dia tapi karna Gwen."
"Memangnya aku perduli kau mau disini atau tidak itu bukan urusanku."balas Ali kesal.
"Tidak! Dan aku juga tidak ingin kau pedulikan." ucap Prilly sinis.
Tadi saat acara makan makan kuenya selesai, Prilly ingin ikut pulang ke rumah ayahnya namun tidak jadi karna ia ingin merawat Gwen. Rasya sudah menceritakan semuanya, tentang siapa Gwen.
__ADS_1
"Terserah kau saja lah." ucap Ali berdecak kesal lalu keluar kamar dengan perasaan dongkol.