
Tiga puluh tujuh. : Kita Impas kakak
___________________
Ali pov.
"Kak kau tidak pulang?" tanya Rendy padaku.
"Pulang." Balasku.
"Ya sudah sana pulang, besok juga aku sudah boleh pulang." ucap Rendy.
"Siapa yang mengizinkan kau pulang." ucapku tapi malah terdengar seperti sebuah pertanyaan untuknya.
"Tentu saja dokter." balas Rendy asal. Sejak semalam dia menjadi menyebalkan.
"Aku baru saja bertanya pada dokter, kau tidak boleh pulang. Besok kau harus kemo dan dokter bilang kau terlambat untuk kemo, benar begitu? Sudah berapa lama kau tidak kemo?" tanyaku berturut turut, entahlah aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa mengatakan hal sepanjang itu.
Rendy membulatkan matanya tidak percaya. "Kau sudah seperti ibuku saja kak, cerewet sekali..." balas Rendy.
"Sudah berapa lama tidak kemo?" tanyaku tanpa menghiraukan ucapannya.
"Baru juga lima bulan kak." balasnya.
"Lima bulan itu lama Rendy dan kau bilang itu baru!." ucapku kesal.
"Kak aku bosan. Aku bosan harus hidup dengan penyakit ini, kau tau penyakit ini membunuhku secara perlahan kak. Aku tidak tahan harus berada di ranjang rumah sakit setiap sebulan sekali dan kau tau aku melakukan itu sudah tujuh tahun." ucap Rendy panjang lebar.
Aku menghela nafas kasar, aku kembali merasa bersalah. Bukan mereka bersalah, tapi aku memang salah.
"Maaf..." lirihku.
"Tidak perlu." ucapnya.
"Kau marah padaku?" tanyaku.
"Tidak." ucapnya. Nadanya masih sama seperti tadi, sinis.
"Aku sungguh sungguh minta maaf." ucapku. Aku tau kata maaf saja tidak akan cukup untuk semua dosa yang kulakukan padanya.
"Hah..." Rendy menghela nafas panjang dan menatapku sekilas lalu kembali menatap jendela kamar rumah sakit.
"Kau tau kak, aku tidak pernah bisa membencimu. Aku sudah berusaha untuk membencimu dan membuatmu hancur namun aku tidak bisa." lirihnya.
"Aku sudah tau." balasku.
"Apa kau akan memaafkan aku jika aku mengatakan semua kejahatan yang sudah kulakukan padamu kak." ucap Rendy lagi.
"Kau tau, aku bahkan lebih jahat darimu. Aku memisahkan kau dari Ayah kita dan aku juga yang membunuh ibumu saja kau bisa memaafkan aku jadi apapun kesalahanmu aku pasti akan memaafkanmu." ucapku.
"Aku bahkan melakukan yang kau lakukan padaku kak."
"Aku yang membuatmu bangkrut, aku-aku yang.... Kau tau Nikita meninggal karna aku yang membunuhnya dan terakhir aku telah memisahkan kau dari orang yang kau cintai." lanjut Rendy.
Aku membulatkan mataku tidak percaya dengan semua yang dia ucapkan. Bagaimana dia bisa melakukan itu, jika dia yang membuat aku bangkrut itu tidak menjadi masalah. Namun kenapa dia harus membunuh Nikita.
"Kenapa kau membunuh Nikita?!" tanyaku sedikit membentak.
"Bukankah sudah kukatakan tadi, aku sudah melakukan apa yang kau lakukan padaku dulu." ucapnya. Kini wajahnya berpaling untuk menatapku, wajahnya masih pucat.
__ADS_1
"Aku tidak akan minta maaf lagi untuk itu, kita impas. Bukan? Kau bunuh ibuku lalu aku membunuh istrimu." ucap Rendy.
Aku mengepalkan tanganku dan hendak memukulnya, namun saat tanganku hendak memukulnya aku menghentikan tanganku menggantung diudara. Aku memejamkan mataku, aku tidak boleh melakukan ini. Ingat Ali dia sedang sakit.
"Kenapa kau tidak jadi memukulku?" tanya Rendy.
Aku membuka mataku dan menurunkan tanganku dan menatapnya nanar. Inikah yang disebut karma dari tuhan, aku dulu melenyapkan orang yang dia sayangi dan sekarang dialah yang melenyapkan orang yg aku sayang. Tuhan adalah karma yang lebih menyakitkan dari ini?
"Aku mencintai Prilly namun ia tidak mencintaiku, hanya kau yang dia cintai. Haruskah aku melenyapkannya juga kak?"
"Bugh!"
Kali ini aku benar benar memukulnya tidak perduli bahwa ia sedang sakit parah. Berani sekali dia berbicara seperti itu padaku.
"Jika kau berani melakukan itu, maka aku juga akan melenyapkanmu!" ucapku.
"Dan kau juga sangat mencintai Prilly." ucap Rendy, tangannya menghapus sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah karna pukulanku tadi.
Namun bukannya marah Rendy malah tersenyum padaku. "Jika kau berani menyentuh nya aku akan membunuhmu." ucapku.
"Ooo bagaimana aku tidak menyentuhnya, aku akan menikah dengannya kak. Apa kau lupa itu?" ucapnya tersenyum mengejek padaku.
Bagaimana aku bisa lupa akan kenyataan yang satu itu, bagaimana aku bisa lupa jika Rendy akan menikah dengan Prilly?
"Aku janji padamu kak, Prilly akan kembali padamu."
__________
Bukan pernikahan impian.
__________
Beberapa hari kemudian.
"Happy Birthday sayang."
"Kau tau hari kelahiranku?" tanya Rendy tidak percaya.
"Tentu saja, sebentar lagi aku menjadi istrimu jadi bagaimana aku bisa tidak tau bahwa hari ini adalah hari kelahiranmu." ucap Prilly tersenyum manis.
Hari ini Prilly sengaja datang pagi pagi mengunjungi rumah Rendy, untuk memberikan kejutan untuk kekasihnya tentunya.
"Happy birthday sayang, semoga panjang umur dan sehat selalu menyayangiku." ucap Prilly menyodorkan kue tart dengan lilin angka 2 dan 3 dan tulisan Rendy R. S..
"Tiup lilinnya." ucap Prilly.
Rendy tersenyum hendak meniup lilin namun Prilly malah menjauhkan kue tart itu dari Rendy.
"Kenapa?" tanya Rendy heran.
"Doa dulu, buat permintaan sebelum tiup lilin." ucap Prilly.
Rendy pun menutup matanya dan mulai berdoa dalam hati. 'Tuhan aku mohon padamu tolong izinkan aku untuk bertahan hidup sehari ini saja Tuhan'.
Lalu Rendy membuka matanya dan meniup lilin.
"Terima kasih ya. Ini benar benar kejutan." ucap Rendy.
"Tidak perlu berterima kasih begitu Rendy." ucap Prilly sambil meletakkan kue diatas meja.
__ADS_1
"Sayang hari ini kamu mau kan menghabiskan hari ini untukmu?" tanya Rendy sambil memeluk Prilly dari belakang.
"Bukan hanya hari ini sayang, tapi setiap hari kita akan habiskan waktu bersama." balas Prilly.
"Baiklah kalau begitu ayo kita jalan, aku sudah beli tiket nonton flim romantis." ucap Rendy.
"Tapi aku harus belanja bulanan Gwen dulu." ucap Prilly.
"Baiklah itu tidak masalah, kita bisa lakukan itu bersama." ucap Rendy.
Rendy dan Prilly memutuskan untuk berbelanja terlebih dahulu setelah setengah jam belanja, mereka pun menghabiskan dua jam untuk nonton flim romantis yang untung saja belum mulai.
Setelah itu mereka juga sempat jalan jalan ke taman bermain dan menaiki beberapa wahana, hingga akhirnya kini mereka sudah kembali berada di rumah Rendy.
"Sayang."
"Kau bisa bermain gitar?" tanya Prilly saat Rendy membawa gitar.
Rendy tersenyum dan mengangguk. "Ku kira kau hanya seorang dokter saja." ucap Prilly.
"Aku ingin bernyanyi untukmu, mau dengar tidak." ucap Rendy duduk di depan Prilly.
Saat ini Rendy dan Prilly memang sedang berada di balkon kamar Rendy dengan beralasan tikar.
"Sayang kamu sakit ya." ucap Prilly.
"Tidak sayang." balas Rendy.
"Tapi kenapa muka kamu semakin pucat." ucap Prilly mulai cemas melihat muka Rendy yang makin laam makin pucat. Prilly takut jik Rendy sakit namun tidak memberikan nya.
"Mungkin sedikit kecapean saja." ucap Rendy.
"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Prilly tidak yakin.
"Tidak sayangku." balas Rendy.
"Baiklah lebih baik sekarang kamu dengarkan aku bermain gitar dan bernyanyi." lanjut Rendy.
_______
Bukan pernikahan impian.
_______
"Wahh kakak siapa yang ultah, banyak sekali kue tart-nya." ucap Dahlia saat melihat Ali yang membawa kue tart dan menaruhnya di meja.
"Siapa R.R.S. itu kak?" kali ini Rasya lah yang bertanya.
"23 tahun." gumam Dahlia.
Ali hanya diam memandang kue itu malas, tadi ia mengantar kue itu ke rumah Rendy namun saat berada di sana Ali malah di kejutkan dengan pemandangan yang sangat menyakitkan baginya. Ali melihat Rendy yang sedang memeluk mesra Prilly.
Rendy berbohong padanya, waktu dirumah sakit itu dia berjanji akan menyatukannya dan Prilly namun kenapa yang ia lihat itu berbeda dari yang ia dengar kemarin dirumah sakit.
Rasya dan Dahlia saling pandang karna bingung.
"Aku baru 17 tahun." ucap Dahlia menatap Rasya meminta penjelasan.
"Aku juga baru 22 tahun. Inisial namaku juga T.R.S bukan R.R.S. juga bukan kakak Ali karna dia sudah 26 tahun. Lalu siapa yang ultah kak?" ucap Rasya bingung.
__ADS_1
"Kak siapa yang ultah?" tanya Dahlia.
"Diam!" pekik Ali kesal karna kedua adiknya itu terus bertanya siapa yang ultah.