
Tiga belas. : Perasaan Bersalah.
________
________
Ali pov.
"Bagaimana kabarnya?"
"Hah! Uhm maksudku baik." balasku tidak terlalu yakin, pasalnya sejak kejadian itu aku tidak pernah memperhatikannya lagi. Walau kami tinggal satu rumah dan selalu sarapan dan makan malam bersama, tapi aku tidak pernah sekali pun meliriknya. Katakan aku jahat, karena aku masih marah padanya atas kejadian itu.
Aku tau tidak seharusnya aku seperti ini, Nikita sudah berkali kali menjelaskan padaku jika semua itu bukan kesalahannya namun andai saja dia tidak ceroboh semua itu tidak akan terjadi kan?
Saat ini aku sedang berada di ruanganku menikmati kopi panas bersama pak Haidar setelah menyelesaikan meeting tadi. Beliau menatapku curiga mendengar jawabanku barusan.
"Ku harap kau bisa menjaga nya dengan baik." ucapnya lagi.
"Ya-ya itu pasti." balasku.
"Minggu depan adalah ulang tahunnya yang ke 23 tahun.." ucap pak Haidar kembali berbicara setelah lama hening.
"Uhm- ya aku juga tau."
"Aku berencana membuat kejutan untuknya." Ucap pak Haidar sambil tersenyum.
Mertuaku ini akan selalu tersenyum tulus jika sudah membicarakan sang putri yang tak lain adalah istriku sendiri. Aku mendesah frustasi saat menyebutnya istri . karna beberapa bulan ini aku telah mengabaikannya, bahkan aku tidak pernah menganggapnya ada dan aku masih menyebutnya istri?.
Setelah sekian lama berbincang bincang dengan pak Haidar mengenai kejutannya untuknya sampai sore akhirnya beliau pamit pulang, 'titip salam untuk putriki' ucapnya sebelum benar benar keluar dari ruanganku.
Aku mengacak ngacak rambutku frustrasi, bagaimana pun aku merasa bersalah padanya karna sudah mengabaikannya namun dia tetap ada bersamaku tidak perduli akan perlakuanku yang datar dan dingin atau bahkan kasar padanya , dia tetap ada bersamaku.
Hari sudah mulai gelap dan aku pun memutuskan untuk pulang.
Aku memarkirkan mobilku di garasi dan bergegas keluar dan mengunci mobil. Memasukkan kunci mobil dalam saku celana dan berjalan memasuki rumah.
Sepi.....
Dimana semua orang, hanya ada beberapa pelayan yang membuka pintu dan mengambil alih tasku. Biasanya saat aku pulang dia yg akan melakukannya bukan para pelayan.
__ADS_1
"Dimana mereka?" tanyaku pada pelayan yang membawakan tas jinjingku.
"Nona Dahlia dan Den Rasya baru saja pergi dan kedua Nyonya berada di kamar."
Aku hanya ber'oh' ria dan melanjutkan berjalan menuju laintai atas. Samar samar aku mendengar suara tawa dari dalam kamar, aku membuka pintu kamar itu dengan hati hati. Di dalam aku melihat ada Nikita yang sedang berbaring dengan Prilly yang duduk di tepi ranjang, entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga bisa membuat keduanya tertawa lepas seperti itu.
Harusnya aku bersyukur karna keduanya bisa akur dan selalu bersama. Tidak pernah ada perselisihan di antara mereka seperti di sinetron yang pernah aku lihat dulu saat aku masih kecil.
Aku merasakan jika aku tersenyum dengan sendirinya memperhatikan mereka. Aku tau jika Prilly sangat menyayangi Nikita begitu juga sebaliknya. Mereka seperti kakak beradik sungguhan.
Prilly yang selalu menjaga Nikita dan selalu memperhatikan pola makan kebutuhan ibu hamil lainnya. Terkadang aku heran, yang hamil itu Nikita namun disini Prilly lah yang paling antusias dalam segala hal. Hal yang seharusnya aku lakukan sebagai suami namun sudah lebih dulu ia lakukan, aku pernah mendengar Nikita bertanya pada nya 'kenapa dia begitu perhatian padanya dan bayinya? Dan ia menjawab jika anak Nikita akan menjadi anaknya juga.
"Kakak tunggu sebentar ya jangan jalan kemana mana dulu, aku akan membuat makan malam untuk kakak." ucap Prilly lalu bangkit dari ranjang.
Aku kira dia mau langsung berjalan keluar namun aku salah, Prilly mengusap lembut perut Nikita lalu berkata. "Mama masak dulu ya buat kamu sama Mommy, kamu jangan nakal ya di perut Mommy. Kasian Mommynya capek."
"Terima kasih..." ucap Nikita tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih kak, ini sudah menjadi kewajibanku." balas Prilly sambil tersenyum ceria.
"Maaf aku selalu merepotkanmu." ucap Nikita sendu.
"Kakak tidak pernah merepotkanku, dia juga anakku jadi aku harus menjaganya dengan baik, jika mommynya sehat maka anaknya juga akan sehatkan. Jadi kakak tidak perlu minta maaf dan terima kasih lagi, oke." ucap Prilly panjang lebar dengan senyuman yang juga tak kalah lebar.
Aku menghela nafas panjang dan kembali membuka pintu kamar, berjalan pelan menuju ranjang. "Kamu sudah pulang?" tanya Nikita heran, karna memang sebenarnya ini belum jam pulang kantor.
Aku tersenyum sambil terus berjalan kearahnya dan mengecup pipinya dan kedua pipinya bergantian. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, bahkan sangat baik." balasnya.
"Hallo anak Daddy bagaimana kabarmu disana, jangan nakal ya kamu di dalam sana." ucapku mencium perut buncit Nikita.
"Dia menendang." ucapku saat merasakan pergerakan di perutnya.
"Dia senang mendengar suaramu sepertinya.." ucap Nikita.
"Sepertinya begitu.."
Aku tidak tau kenapa suasana berubah menjadi canggung sekarang. Dan ini terara aneh, aku tidak pernah merasa secanggung ini sebelumnya saat bersama Nikita.
__ADS_1
"Ali..."
"Ya." balasku.
Nikita menatap mataku lurus dan aku juga melakukan hal yang sama. "Seandainya terjadi sesuatu padaku, maukah kau merawat anak kita bersama Prilly seperti kalian merawat anak kalian sendiri."
"Apa yang kamu katakan! Itu tidak akan terjadi."
"Ali... Semua bisa saja terjadi, kamu tau kan aku...."
"Sudah cukup." ucapku memotong ucapan Nikita. Aku membawa Nikita dalam pelukanku, aku tidak sanggup mendengar perkataannya lagi. Aku takut apabila semua perkataan nya akan menjadi nyata, aku takut kehilangannya. Aku tidak akan sanggup hidup tanpanya, aku tidak akan.... Ah aku tidak ingin membahas ini lagi.
"Ku mohon jangan pernah berkata seperti itu lagi. Semua akan baik baik saja aku yakin itu, aku akan melakukan apapun agar kalian selalu baik baik saja. Aku berjanji." ucapku seraya mengeratkan pelukanku padanya.
"Ali..."
"Ssttt... Please..." ucapku hampir berbisik.
"Ali..."
"Sayang..."
"Tidak Ali, biarkan aku berbicara." ucap Nikita.
Aku melepaskan pelukanku padanya dan menatap wajah Nikita yang semakin pucat, lebih pucat dari biasanya.
"Sayang kamu kenapa?" tanyaku panik sendiri.
Nikita meringis sambil memegang perutnya. "Sakit.... Ali."
Astaga apa aku terlalu kuat memeluknya hingga membuat perutnya kesakitan seperti ini. "Sayang maaf kan aku, kita ke dokter sekarang." ucapku tanpa babibu langsung mengangkat tubuh Nikita yang terkulai lemas.
"Apa yang terjadi pada kakak?" tanya Prilly yang membawa nampan berisi makanan, saat melihat aku menggendong Nikita.
"Minggir, aku akan membawanya kerumah sakit." balasku tidak nyambung memang.
"Tunggu! Aku ikut." teriak Prilly mengikuti ku berjalan keluar rumah.
Oh Tuhan, tolong jangan kau ambil istriku aku tidak bisa hidup tanpanya Tuhan.
__ADS_1
"Ali lebih cepat..." ucap Prilly, aku tau dia panik dan juga takut terjadi sesuatu pada Nikita dan juga bayinya.
"Ini sudah cepat, kamu tidak lihat jalanan macet begini... Ahh sial.." gerutuku sebal.