Bukan Pernikahan Impian.

Bukan Pernikahan Impian.
Pertahankan dia (ali)


__ADS_3

Tiga puluh dua : Pertahankan Dia (ali)


_________________


_________________


Author pov.


"Prilly..."


Prilly membalikkan badannya saat merasa namanya di panggil.


"Ada apa?" tanya Prilly.


"Ah tidak ada." balas Ali seraya tersenyum kikuk.


Saat ini mereka sedang berada di resepsi pernikahan Papanya Prilly yang di adakan di ballroom hotel Cempaka.


"Mereka kelihatan sangat bahagia ya." gumam Ali melihat Papa mertuanya dan Ibu mertua tirinya sedang menyalami tamu dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.


Walau umur mereka terbilang tidak muda lagi, tapi mereka terlihat sangat sesari dan cocok sekali. Berbeda sekali dengan pernikahan Ali dan Prilly dulu yang menampakkan senyum palsu dan terkesan kaku. Hampir mirip seperti robot.


"Ya... Aku berharap bisa seperti mereka." ucap Prilly setelah lama terdiam.


"Kita bisa mengadakan resepsi pernikahan kita ulang jika kamu mau." ucap Ali, matanya masih menatap lurus kedepan. Kearah Papa dan Mama mertuanya.


Prilly mendengus kesal... "Untuk apa? Kita kan akan bercerai beberapa hari lagi."


"Kamu yakin akan bercerai denganku?" tanya Ali.


"Sangat yakin." balas Prilly.


"Tapi aku tidak akan mau menceraikanmu, coba kamu pikir ulang... Aku mencintaimu, Prilly..." ucap Ali, kini ia sudah membalikkan badannya untuk menatap Prilly yang masih menatap papanya.


"Kau sudah pernah mengatakannya dan kita tetap akan bercerai." ucap Prilly.


"Kenapa?"


"Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa aku mencintai pria lain." ucap Prilly.


"Rendy maksud mu."

__ADS_1


"Ya.."


"Kamu yakin jika kamu mencintai nya."


"Ya.."


"Apa kamu juga yakin jika Rendy mencintaimu?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu! Tentu saja aku yakin jika Rendy mencintaiku." balas Prilly kesal.


Ali menghela nafas berat, bagaimana caranya mengatakan jika Rendy tidak benar benar mencintai Prilly? Karna Ali yakin pasti Prilly tidak akan percaya dengan ucapannya saat ini.


"Prilly... Dengarkan aku, aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada mu, kamu belum lama mengenal Rendy... Ku mohon tarik surat gugatan cerai itu, tidak demi aku tapi demi Gwen." ucap Ali, tangannya menangkup kedua pipi Prilly dan menatap manik mata coklat milik Prilly yang redup.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah cukup lama mengenal Rendy. Aku tidak bisa Ali, kita tetap harus bercerai... Tentang Gwen, nanti aku bisa membawanya jika kau mengizinkan.." ucap Prilly panjang lebar dan meninggalkan Ali yang terdiam menatap kepergian Prilly dengan tatapan nanarnya.


Tidak jauh dari mereka ada seorang lelaki yang sedari tadi tengah memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka dengan tersenyum miring.


Setelah lama terdiam, Ali beranjak mendekati pengantin.


"Selamat menempuh hidup baru papa... Maaf tadi aku mengacaukan akad kalian." ucap Ali menyalami tangan Papa Prilly dengan sedikit kikuk.


"Terimakasih nak... Tidak apa apa, papa mengerti... Jika kamu memang mencintai nya pertahankan dia, tapi jika sekali lagi kamu menyakitinya aku yang akan memisahkan kalian." ucap Haidar pada menantunya dengan serius.


Jangan kalian fikir bahwa selama ini dia tidak tau apa yang Ali lakukan pada putrinya. Haidar diam bukan berarti dia tidak tau, sebenarnya dia sangat marah pada Ali saat tau menantunya itu sudah berbuat kasar pada anaknya.. Namun ia lebih marah pada diri sendiri karna dia yang sudah memaksa Ali untuk menikah dengan putrinya.


Selama ini Haidar selalu naik darah saat mendengar laporan dari orang suruhannya mengabari tentang apa yang terjadi pada putrinya. Dan apa saja yg telah Ali perbuat pada putrinya.


Haidar pernah sekali bertanya pada Ali tentang kabar putrinya dan Ali menjawab bahwa putrinya baik baik saja, walau ia tau putrinya sedang tidak baik. Namun ia hanya ingin mengetes Ali berkata jujur tau tidak.


Saat itu rasanya Haidar ingin sekali mencekik Ali, namun dia tidak bisa melakukan itu karna dia sadar putrinya itu mulai menaruh rasa pada Ali.


Namun semenjak putrinya itu kehilangan ingatannya, dia tak pernah lagi mendengar kabar buruk tentang putrinya dari orang suruhannya.


Oke kita kembali ke cerita.


"Aku minta maaf." ucap Ali lirih dia tidak tau apa yang harus ia katakan.


"Tidak perlu minta maaf." ucap Haidar.


Ali tersenyum, itu artinya ia mendapatkan dukungan dari pap mertuanya untuk memperjuanhkan Prilly. Ali beralih kearah Mama mertua tirinya dan mengalaminya.

__ADS_1


"Hallo Mama.... Maaf tadi aku sudah membuatmu malu... Semoga Mama dan Papa akan hidup bahagia selamanya." ucap Ali.


"Aminn, terima kasih." ucap keduanya.


Alika, istri Haidar sudah tau Ali suami Prilly dan juga masalah rumah tangga mereka karna Haidar memang sudah memberitahunya.


"Hallo kakak ipar tiri.." sapa Julian yang baru saja datang ikut bergabung dengan Haidar, Alika dan Ali.


"Hmm.." balas Ali hanya berdeham saja. Entahlah rasanya sangat malas berbicara dengan Julian.


"Kau tidak cemburu kakak ipar tiri." ucap Julian lagi.


"Cemburu?" ulang Ali.


"Ya... Kau lihat tuh, istrimu sedang tertawa bersama pria lain." ucap Julian menunjuk Prilly yang sedang tertawa bersama Rendy di salah satu sofa yang di sediakan di tempat itu.


Ali menatap ke arah yang Julian tunjuk dengan nanar. Rasanya dia ingin sekali menghajar Rendy sekarang juga, tapi ia tidak bisa karna itu malah akan membuatnya bertambah jelek di dengan Prilly.


"Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah menghajar pria itu.." ucap Julian karna melihat Ali hanya diam menatap mereka.


"Julian jangan jadi kompor." ucap Alika, Mama Julian menegur anaknya. "Jangan dengarkan dia, Ali. Jika memang kau masih mencintai dia, pertahankan..." lanjutnya dan tersenyum tulus.


"Apanya yang di pertahankan Ma... Hubungan mereka saja sudah hancur." ucap Julian.


"Julian!" pekik Alika kesal.


"Sudahlah sayang biarkan saja Julian berbicara apa ada nya." ucap Haidar pada Alika.


Mendadak pipi Alika menjadi merah muda karna tersipu malu di panggil sayang oleh Haidar, lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu. Walau usia mereka tak muda lagi, tapi tetap saja hal itu membuat Alika malu.


Julian menepuk jidatnya melihat mamanya yang merona.. "Mama kayak ABG deh." omel Julian.


Sementara Ali hanya diam memperhatikan Rendy dengan Prilly. Saat matanya dan Rendy tak sengaja bertemu, Rendy menatapnya dengan senyum miring khas Rendy.


Dari pandangan matanya melihat interaksi Prilly dan Rendy, ia melihat bahwa Rendy itu seperti benar benar mencintai Prilly bukan hanya berpura pura.


Ali mengenal Rendy, Ali masih ingat bagaimana cara Rendy memperlakukan pasangannya dengan tulus atau tidak.


Setelah melihat mereka bersama, sekarang Ali menjadi bimbang. Sebenarnya Rendy itu benar benar mencintai Prilly atau hanya akting belaka. Jika memang Rendy benar benar mencintai Prilly, Ali berjanji tidak akan mengganggu hubungan mereka dan membiarkan mereka bersatu.


Bagaimana pun Rendy itu adalah ......

__ADS_1


__ADS_2