
Dua puluh satu. : Ada apa dengan Prilly?
_________________
_________________
Author pov.
Setelah Prilly mendapat donor darah dari Fandi, Prilly pun di pindahkan keruang pasien. Masa kritisnya sudah berlalu dan tinggal menunggu Prilly sadar saja, namun sudah satu jam Ali beserta keluarga nya yang lain menunggu Prilly diruangan itu dengan keadaan hening dan mencekam, Prilly belum sadar juga.
Ali duduk di kursi kanan ranjang Prilly dengan mata yang terus memandang Prilly, ada rasa bersalah dalam relung hatinya yang paling dalam. Bagaimana pun Prilly itu adalah perempuan yang baik, bahkan bisa dibilang sangat baik. Karna selama Ali mengacuhkannya dan bersikap dingin padanya, Prilly tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Rasya duduk di kursi kiri dekat ranjang Prilly. Jika Ali hanya mengamati Prilly, maka Rasya mengganggam tangan Prilly dan terus menyebut nama Prilly supaya perempuan itu bangun. Rasya tidak perduli dengan orang di sekitarnya, ia hanya peduli pada Prilly saja, sesekali ia menatap Ali dengan tajam.
Dahlia duduk di sofa panjang yang ada di ruangan Prilly dalam diam. Ia masih bingung dengan Fandi yang mau mendonorkan darahnya untuk Prilly. Sebenarnya siapa Prilly untuk Fandi dan apa hubungan mereka? Tadi Dahlia sempat bertanya pada kekasihnya itu namun sayangnya Fandi tidak menanggapi ucapan Dahlia dan hanya menatap Dahlia tajam.
Fandi duduk di sofa panjang bersama Dahlia. Namun mereka duduk berjauhan, Dahlia berada di ujung sofa sebelah kanan dan Fandi duduk di ujung sofa sebelah kiri. Fandi hanya duduk diam dan menatap orang orang yang ada diruangan ini dengan tatapan yang sangat tajam. Jika saja ia tidak habis mendonorkan darah untuk Prillly yang membuatnya lemas, mungkin ia sudah menghajar orang orang di ruangan ini satu persatu termasuk juga ayahnya. Karna ayahnya asal mula dari penderitaan kakaknya. Ya , Fandi menyebutnya penderitaan karna saat ia melihat Dahlia dan kedua kakaknya yang sedang berantem tadi ia tau jika yang selama ini Dahlia cap sebagai wanita jalang dan pembawa sial adalah kakaknya dan dia benci itu. Fandi benci semua orang yang ada diruangan ini, tapi tidak untuk kakaknya tersayang. Fandi heran kenapa kakaknya masih bertahan bersama orang orang seperti mereka, dan selalu bisa bersikap biasa saja saat mereka bertemu.
Sementara pak Haidar yang duduk di sofa panjang itu atau lebih tepatnya duduk di tengah tengah antara Fandi dan Dahlia. Beliau menatap lurus kearah putri nya yang berada di ranjang dengan nanar, tidak ada yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada putrinya itu dan ia juga tidak berminat meminta penjelasan pada menantunya. Pak Haidar ingin tau langsung apa yang terjadi dari mulut putrinya sendiri. Tidak perduli bahwa putranya yang duduk disebelahnya itu mentapnya tajam.
Suasana ruangan Prilly hening tidak ada satupun dari mereka yang ada niatan untuk membuka suara. Hanya Rasya yang sesekali menyebut nama Prilly dan menyuruh perempuan itu bangun. Hingga pada akhirnya Fandi memutuskan untuk membuka suara dan membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Apa kau puas sekarang! Liat apa yang kau perbuat padanya!" ucap sarkastik dengan tangan terlipat didepan dada.
"Apa maksudmu ?" tanya Pak Haidar pada putranya itu.
"Jangan pura pura bodoh! Aku tau kau...." ucapan Fandi terpotong oleh pekikan Rasya yang mengatakan bahwa Prilly telah sadar.
"Prilly kau sudah sadar." pekik Rasya senang tanpa sadar.
Fandi dan Pak Haidar langsung mendekati ranjang Prilly. Dahlia hanya diam menatap mereka yang mengerubuni ranjang Prilly.
Prilly membuka matanya perlahan dan mencoba menyesuaikan penglihatannya. Setelah matanya terbuka sempurna, Prilly mengerutkan dahinya heran menatap satu persatu orang yang ada diruangan itu dengan heran.
"Bie.."ucap Fandi memanggil Prilly, ia senang akhirnya kakaknya itu sadar juga.
Prilly tersenyum dan menatap Fandi sesaat lalu pandangannya beralih pada Rasya yang menggenggam tangan kirinya dengan erat. "Haus.." ucapnya dengan suara serak. Sebenarnya ia bingung harus bicara apa pada mereka.
__ADS_1
Ali dengan sigap mengambilkan segelas air putih yang ada di meja dan membantu Prilly bersandar pada ranjang untuk minum.
"Terima kasih." ucapnya. Ali hanya mengangguk.
"Maaf.." ucap Ali tiba tiba dan itu langsung membuatnya menjadi pusat perhatian. Untuk apa ia minta maaf?
"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Prilly. Ali menggaruk tengkuknya bingung sekaligus gugup, karna kata kata tadi itu keluar dari mulutnya secara spontan tanpa dia rencanakan terlebih dahulu. Kata hati.
"Papa apa yang terjadi?" tanya Prilly pada akhirnya karna tak kunjung mendapat jawaban dari Ali.
Pak Haidar menatap Prilly bingung, dari tadi ia ingin bertanya itu dan sekarang ia malah mendapatkan pertanyaan itu dari orang yang ingin ia tanyai. "Apa maksudmu? Seharusnya papa yang bertanya padamu, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" ucap pak Haidar.
"Aku tidak tau kenapa aku berada disini." ucap Prilly seraya meringis dengan memegangi kepalanya. "Aw..."
Melihat itu Ali langsung berlari keluar ruangan dan kembali dengan seorang dokter Rendy bersamanya.
"Dokter apa yang terjadi padanya?" tanya Rasya saat dokter Rendy sudah selesai memeriksa Prilly.
Dokter Rendy menarik nafas panjang. "Sepertinya ia kehilangan beberap memori ingatannya akibat benturan keras pada kepala belakangnya dan seperti nya bukan hanya sekali kepalanya terbentur." ucapnya.
"Maksud nya dok?" tanya Ali tidak mengerti.
Prilly hanya diam memandang orang orang yang kini mulai mendekati ranjang dan kini ditambah satu perempuan karna Dahlia juga ikut berdiri disamping Rasya.
"Bagaimana Prilly apa kepalamu masih terasa sakit?" tanya dokter Rendy basa basi.
"Tidak! Hmm maksudku masih sedikit sakit." ucapnya.
"Jika memang masih sakit jangan memikirkan apa yang tidak ingin kau pikirkan ya." ucap dokter Rendy ambigu.
Prilly hanya mengangguk paham, ia tadi mencoba mengingat bagaimana Prilly bisa berada di rumah sakit ini dan hasilnya kepalanya sakit bukan main.
"Baiklah ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada anda." ucap Dokter Rendy dengan formal.
"Silahkan, aku akan menjawab jika memang aku ingin." ucap Prilly asal.
Dokter Rendy menghela nafas geram dengan jawaban yang dilontarkan Prilly. "Baiklah, anda hanya perlu menjawab 'ya' jika benar dan 'tidak' jika salah."
__ADS_1
"Apa anda ingat siapa lelaki ini?" ucap dokter Rendy sambil menunjuk Papa Prilly.
Prilly malah menatap dokter Rendy dengan tatapan tidak percaya. "Kau mengejekku."
"Jadi ya atau tidak?" tanya dokter Rendy geram.
"Tentu saja aku mengenalnya, dia Papaku. Hanya orang bodoh yang tidak mengenal Papanya sendiri." balas Prilly sarkastik.
"Lalu apa anda mengenal dia." ucap dokter Rendy menunjuk Fandi.
Prilly menatap kesal kearah dokter Rendy. "Sebenarnya apa yang sedang coba kau lakukan Ren? Kenapa kau menanyakan hal hal yang tidak penting? " tanya Prilly sebal.
Membuat seluruh mata yang ada disana memandang Prilly penuh tanda tanya (?).
"Aku hanya ingin tau kau mengingat mereka atau tidak. Itu saja, karna sepertinya kau kehilangan beberapa memorymu jadi aku ingin memastikan sejauhmana kau kehilangan memorymu." ucap dokter Rendy. Kali ini dengan nada kesal dan non formal. Sudah cukup ia bersabar sedari tadi, kini kesabaranya sudah habis. Tidak perduli pada statusnya yang seorang dokter.
"Oh." ucap Prilly hanya ber'oh' ria.
"Oke kita mulai lagi, jadi apa anda mengenal dua lelaki dan satu perempuan itu tidak?" tanya dokter Rendy menunjuk Ali, Rasya dan Dahlia. Ia tidak mau kena semprot pasiennya itu berkali kali jika menunjuk satu satu. Jika sekaligus kan dia hanya akan kena semprot sekali, tidak tiga kali.
Kini Prilly memandang tiga orang itu secara bergantian lalu kembali menatap dokter Rendy yang sudah kesal karna dirinya tidak kunjung menjawab.
"Kau ingin jawaban jujur atau tidak." ucap Prilly menatap dokter Rendy sambil memainkan alisnya naik turun.
"Astaga Prilly! Saya serius." geram dokter Rendy. Jika boleh jujur ia sudah ingin menyuntik mati pasiennya itu sekarang juga.
"Aku juga serius." ucap Prilly dengan nada serius dan mukanya juga di buat seserius mungkin.
Semua mata yang ada disana hanya memandang Prilly dan dokter Randy -yang sepertinya sudah strees- secara bergantian, mereka bingung dengan apa yang terjadi pada Prilly saat ini. Prilly terlihat sedikit berubah, -maksudnya ini bukan Prilly yang biasanya- Prilly tidak suka main main dan bersikap dewasa.
Mereka mengenal Prilly sebagai perempuan dewasa, bukan Prilly yang seperti sekarang. Hanya Fandi yang tersenyum senang melihat kakaknya. Ya hanya dia, karna itu membuatnya teringat akan masanya dulu saat mereka masih tinggal bersama. Sebelum ia memutuskan untuk keluar dari rumah besar Papanya karna ingin hidup bebas, ia tidak mau home schooling.
Dulu Fandi sama seperti Prilly yang sekolah dirumah atau home schooling, tapi dia hanya sampai lulus SMP karna setelahnya ia masuk SMA normal. Tidak seperti kakaknya yang sampai lulus SMA.
Oke kita kembali ke cerita.
"Jadi 'ya' atau 'tidak' ?" tanya dokter Rendy kesal dengan tanda kutip di kata ya dan tidak.
__ADS_1
"Menurutmu aku harus menjawab iya atau tidak?" tanya Prilly , matanya memandang tiga orang di samping kiri ranjangnya yang juga sedang menatapnya penuh tanda tanya (?) yang besar.