
Tujuh belas. : Gwen Syareefa Putri.
____________
____________
Auhtor pov.
Tiga hari setelah Nikita koma, akhirnya hari ini ia sadar juga. Pertama kali saat Nikita membuka matanya yang di tanyakan adalah dimana bayinya, ia hampir saja histeris saat melihat Ali dan Prilly hanya diam saja.
Namun Prilly berkata bahwa bayinya berada di tabung inkubator karna terlahir prematur. Nikita berterima kasih pada Prilly karna ia menepati janjinya untuk menyelamatkan putri mereka.
"Dia sangat cantik..." gumam Nikita yang melihat putrinya dari luar ruangan dengan duduk di kursi roda. Sebenarnya Prilly dan Ali sudah melarang Nikita agar tidak kemana - mana dulu, mengingat ia baru saja bangun dari koma tiga harinya.
Tetapi Nikita sangat memaksa ingin melihat putrinya di ruang inkubator. Jadi akhirnya Prilly pun menemaninya karna ia tidak tega melihat wajah memelas Nikita.
"Seperti kakak..." tambah Prilly yang juga ikut memperhatikan putri mereka.
"Kapan dia akan keluar, aku tidak sabar ingin menggendongnya." ucap Nikita tersemyum.
Prilly ikut tersenyum. "Tiga atau empat hari lagi kak. Aku juga tidak sabar ingin menggendongnya kak." ucap Prilly.
Nikita bahagia karna Prilly juga mau menyayangi putrinya seperti dirinya. "Aku harap nanti kamu akan menjaganya dengan baik." ucap Nikita.
Prilly tidak terlalu mengerti apa maksud Nikita pun hanya mengangguk dan berkata. "Kita akan menjaganya bersama kak."
"Lalu siapa nama putri kita kak?" tanya Prilly.
"Gwen Syareefa putri." ucap Nikita.
Prilly mengangguk. "Namanya sangat bagus kak. Ayo kita kembali ke ruangan kakak, nanti Ali akan marah jika kembali dari kantor kakak tidak ada di ruangan." ucap Prilly dan mulai mendorong kursi roda Nikita.
Sesampainya diruangan Nikita pun kembali berbaring di ranjangnya, tentu saja di bantu Prilly. Nikita merasa sanggat beruntung mempunyai Prilly, jika biasanya istri muda itu tidak akan perduli pada istri pertama. Tetapi Nikita tidak pernah melihat Prilly yang seperti itu, malah Prilly sangat peduli padanya.
"Terima kasih, Prilly." ucap Nikita tulus.
"Kakak tidak perlu berterima kasih padaku, berterima kasih lah pada-NYA kak." Balas Prilly tulus.
"Tapi bagaimana pun, aku harus berterima kasih padamu. Berkatmu anakku selamat, jika tidak ada kamu aku tidak tau apakah aku bisa melihat wajahnya." ucap Nikita kini dengan mata yang berkaca kaca. Ia membayangkan jika tidak ada Prilly yang baik dan peduli dan mau berjanji padanya , Nikita tidak akan tau bagaimana nasib putrinya itu.
Karna ia yakin jika Ali diberi pilihan itu pasti ia lebih memilih dirinya, oleh sebab itulah ia membuat Prilly berjanji apapun yang terjadi dia harus menyelatkan anaknya. Karna ia yakin Prilly mampu menepati janjinya dan ya Prilly memang menepati janjinya dengan menyelamatkan putrinya.
Nikita tidak perduli bahwa ia akan pergi, namun putrinya harus tetap hidup. Itulah tekadnya.
__ADS_1
"Bukan aku, tapi karna-NYA kak." balas Prilly.
"Oh ya sebentar lagi kan Ali datang, aku pulang duluan tidak apa - apa kan kakak di sini sendirian?" tanya Prilly, tadi ia sudah berjanji untuk menemani Cris membuat Sim{surat izin mengemudi}
Anak itu terlalu antusias dan tidak mau di temani oleh Ayah dan Ibunya. Cris hanya ingin Prilly.
Nikita tersenyum. "Ya tidak apa-apa, hati hati ya di jalan." ucap Nikita.
"Baiklah, aku pamit dulu kakak juga hati hati disini. Maaf tidak bisa menemani kakak hingga malam." ucap Prilly dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa - apa, terima kasih sudah menjagaku dari pagi." ucap Nikita.
Prilly pun akhirnya keluar dari ruangan Nikita, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Nikita seorang diri di rumah sakit ini. Namun Cris tidak mau diam, anak itu terus meneror Prilly dengan sms dan misscall berkali - kali.
Prilly menghentikan mobilnya tepat di depan pagar sekolah Cris, ia langsung sms Cris dan tidak lama kemudian Cris sudah masuk ke dalam mobilnya dan itu mengaetkan Prilly yang sedang bersandar pada jok mobil.
"Ayo Bie jalan, aku sudah tidak sabar untuk punya sim dan mengendarai mobilku sendiri. Mobilnya sangat keren Bie aku suka sekali." cerocos Cris panjang lebar.
Prilly menatapnya heran. "Kenapa buat sim saja harus bersamaku sih, kan bisa dengan Ibu dan Ayah?" tanya Prilly walau sebenarnya ia tidak keberatan namun ia juga menghawatirkan Nikita di rumah sakit.
Cris mendengus kesal. "Ya sudah kalau kau tidak mau." ucapnya dan akan membuka pintu mobil namun Prilly sudah lebih dulu menguncinya.
"Bukan seperti itu Cris... Ya sudah ayo." ucap Prilly pasrah.
"Kita makan siang dulu ya Bie, aku lapar." ucap Cris memegang perutnya.
Cris melotot padanya. "Enak saja, aku ini lelaki sejati tau." ucapnya pede.
"Lelaki sejati ya." timpal Prilly mengejek.
"Tentu, buktinya aku punya pacar." ucap Cris.
"Kalau lelaki sejati, kenapa buat sim saja mesti bersamaku." ucap Prilly.
"Bie...."
"Kita sudah sampai, ayo kita cari makan dulu." ucap Prilly langsung keluar dari mobil dan diikuti Cris yang mukanya sudah butek.
Prilly dan Cris memasuki restoran cepat saji agar tidak terlalu lama menunggu. "Mau makan apa?" tanya Prilly basa basi, ia melihat Cris yang hanya diam saja. Prilly sadar kalau Cris marah padanya.
"Memang ada apa lagi."
"Oke. Baiklah jangan ngambek seperti gadis pms begitu dong." ucap Prilly tersenyum menunjukkan deretan gigi giginya.
__ADS_1
Cris menatap Prilly sinis. "Tau ah terang."
Makanan datang dan Prily juga Cris pun akhirnya makan dalam diam dan setelah makan mereka pun menuju kantor polisi untuk membuat sim.
"Bie...."
"Ya."
"Aku boleh tinggal bersamamu tidak?" tanya Cris tiba tiba saat perjalanan pulang setelah membuat sim.
Prilly menatap Cris serius, ternyata Cris juga sedang menatapnya penuh harap. "Cris bukannya tidak boleh tapi kamu tau aku tinggal bersama suamiku. Kenapa tidak pulang saja dan bersama Papa."
Cris melengos. "Tidak jadi, lebih baik aku bersama Ibu dan Ayah saja."
_______
Bukan pernikahan impian.
_______
Ali kembali ke rumah sakit dan memasuki ruangan Nikita. Ali sangat kaget saat mendapati tidak ada Nikita di ranjang itu bahkan ranjang itu kini sudah bersih dan tersusun rapi seperti tidak berpenghuni.
Perasaannya mulai tidak enak sekarang. Ali kembali keluar ruangan Nikita dan bertanya pada dokter yang menangani Nikita kebetulan saja lewat.
"Dokter, dimana istri saya." ucapnya tho the poin.
"Ibu Nikita ada di ruang ICU pak." balas dokter.
"Apa?? Bagaimana bisa dok? Istri saya kemarin kan sudah sadar?" tanya Ali beruntun.
Dokter itu menatap Ali lalu menghela nafas panjang. "Pasien kembali drop pak." ucapnya.
"Istri saya kembali koma dok?" ucap Ali tidak percaya.
Dokter itu mengangguk. "Lalu dimana Prilly?" tanya Ali.
"Ibu Prilly sudah keluar dari rumah sakit dati tadi siang pak. Apa beliau tidak memberitahukan anda." ucap Dokter itu.
Ali mengangguk."oh terima kasih dok." ucap Ali lalu beranjak menuju ruang ICU Nikita.
Seharusnya Ali tidak perlu ke kantor dan meninggalkan Nikita bersama Prilly, jika ujung ujungnya Prilly pergi juga meninggalkan Nikita. Ali memang janji hanya pergi sebentar nanum ada pekerjaan mendadak yang mengharuskan Ali untuk tetap tinggal dikantor.
Ali pikir ada Prilly di rumah sakit, jadi ia tidak perlu terlalu khawatir. Namun saat ia kembali ke rumah sakit, tidak ada Prilly dan juga tidak ada Nikita diruangannya membuatnya kembali murka.
__ADS_1
Ali sudah menelfon rumah menanyakan Prilly, namun pelayan rumah mengatakan jika Prilly belum pulang dari tadi siang. Lalu dimana perempuan itu sekarang? Huh kenapa Ali peduli ?
Tidak! Ali tidak peduli, Ali hanya ingin tau dimana Prilly dan memarahinya karna meninggalkan Nikita seorang diri. Ya hanya itu.