Bukan Terminal

Bukan Terminal
Bingung


__ADS_3

Ayundia termangu di tepi ranjang tempat tidurnya. Pikirannya ingin menolak, tetapi tak sampai hati ketika orang tuanya ingin menjodohkannya.


Ini jaman apa hah...!


Ayundia tak bisa berpikir, namun tak juga bisa mencari solusi.


Hidupnya selama 23 tahun ini tak pernah kekurangan apapun. Orang tuanya selalu mencukupi kebutuhannya, bahkan tak ada kesulitan yang berarti yang dia hadapi, karena berkat orang tuanya dia bisa seperti sekarang ini.


Menjadi seorang pianis sekaligus seniman, semuanya adalah berkat kedua orang tuanya.


Selama ini tidak ada tuntutan apapun yang diminta oleh kedua orang tuanya. Bahkan dia diberi kebebasan untuk memilih sendiri cita-citanya, bahkan pekerjaannya.


Dia ingin kemanapun, orang tuanya tidak pernah melarangnya.


Orang tuanya begitu sempurna bagi Ayundia Salim.


Maka saat tadi sore dia dipanggil oleh Ayah dan Ibunya, dia tak pernah berpikir sesuatu yang aneh terhadap mereka. Hingga sebuah permintaan yang tak pernah terpikirkan keluar begitu saja dari Ayahnya, Sofian Salim.

__ADS_1


" Ini demi kebaikanmu."


Ayundia menatap Ibunya, Isty Rahma. Bermaksud meminta pendapat dari Ibunya.


" Ibu sama Ayah kenal baik dengan keluarga Nugraha. Pak Nugraha adalah teman Ayahmu, dan istrinya juga teman baik Ibu dulu."


" Anak laki-laki yang mau dijodohkan sama kamu juga sudah mapan. Dia dokter."


" Kalau masalah wajah, tidak diragukan lagi. Tampan. Pasti sesuai dengan seleramu." Bu Isty malah promosi, membuat Ayu menatap datar pada Ibunya itu.


" Dari keluarga sudah jelas, mereka semua berpendidikan. Urusan bebet, bobot juga tak perlu diragukan lagi."


Ayundia tak menjawab apapun. Dia sudah cukup shock dengan keinginan kedua orang tuanya. Yang dia inginkan sekarang hanyalah waktu untuk berpikir.


" Ibu tahu kamu butuh waktu untuk berpikir." Ibunya seolah-olah paham dengan isi pikiran Ayundia.


Memang benar, seorang Ibu tanpa diminta sudah mengerti apa yang diperlukan anaknya. Hanya saja soal jodoh ini adalah perkara lain.

__ADS_1


Ayundia semakin bingung.


Ingin menolak atau menerima dia belum bisa memutuskan.


Selama ini dia juga belum pernah berhubungan secara dekat dengan pria. Maksudnya hubungan khusus seperti pacaran. Teman cowok banyak, rata-rata teman sekolah dan kuliahnya dulu kebanyakan adalah cowok. Dan itu membuat Ayundia tidak gampang didekati oleh pria yang mengincarnya, karena memiliki banyak pengawal.


Bukan Ayundia tidak cantik. Dia sangat cantik, bahkan tanpa menggunakan make up dia sudah terlihat cantik. Walaupun sesederhana apapun pakaian yang dia kenakan, dia masih terlihat cantik. Seperti sekarang ini, walaupun hanya mengenakan celana pendek di bawah lutut dengan kaos oblong berwarna hitam, kecantikkannya masih terpancar.


Kulitnya kuning langsat, khas wanita Indonesia. Dia berasal dari Solo, di salah satu kota di Jawa Tengah. Bibirnya tidak tipis ataupun tebal, tetapi berisi, ada belahan di tengah bibir bagian bawahnya menambah nilai lebih dari kecantikkannya. Hidungnya sedang, tidak begitu mancung. Matanya bulat dihiasi dengan bulu mata yang lentik dan alis yang tanpa dilukis sudah terlihat bagus.Tinggi sekitar 160 cm, memiliki perawakan sedang. Jika mengenakan kebaya, akan terlihat sangat pas. Cantik alami itu yang selalu orang-orang katakan saat melihat Ayundia untuk pertama kali.


Sekali lagi Ayundia hanya bisa terbaring di kamarnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Haruskah aku menuruti permintaan Ayah dan Ibu??


Jika aku menolak, apakah mereka akan kecewa, lalu marah padaku?


Oh... Tuhan, apa yang harus aku lakukan??!

__ADS_1


__ADS_2