
Ayundia pulang dari mengajar les piano.
Baru masuk rumah, dia sudah ditunggu oleh Ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu.
" Baru pulang Yu?"
Ayu menatap sekilas jam yang ada di dinding.
Telat satu jam ternyata. Pantas Ayah menunggu. Batin Ayu.
" Iya, Ayah. Tadi ada latihan tambahan untuk ujian." jawab Ayu sambil berjalan mendekati Ayahnya, lalu mencium tangan Ayah.
" Habis mandi, temui Ayah ya."
Ayu memperlambat langkahnya saat Ayahnya mengatakan itu.
Nampak wajah Ayah sangat serius. Ayu hanya bisa mengangguk.
15 menit kemudian, Ayu sudah kembali menemui Ayah. Ternyata Ibu juga ada disana.
" Duduk." Ayu mengambil tempat di hadapan Ayah dan Ibu.
" Keluarga Nugraha minta keputusan Yu." Ayah memulai percakapan.
" Rumahnya dimana itu Yah?" tanya Ayu ingin tahu.
" Jogja." jawab Ayah.
" Tapi anaknya kerja di rumah sakit mana gitu, Ayah kurang jelas. Yang pasti gak tinggal di Jogja." jelas Ayah.
Ayu menyesap teh milik Ibunya. kebiasaan Ayu mengganggu minuman milik Ibunya.
" Apa anaknya mau dijodohin sama Ayu?" tanya Ayu sambil meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
" Mereka yakin pasti mau." jawab Ibu.
" Yakin amat Ibu ini, kan belum pasti juga." Ayu tersenyum canggung.
" Ya yakinlah... Mana ada pria yang mampu menolak pesona anak Ibu. Wong cantik gini."
__ADS_1
Ayu mencembik mendengar pujian Ibu.
" Kalau misalnya Ayu bilang udah punya pacar. Apa Ayah ma Ibu tetep mau jodohin Ayu sama orang itu?" tanya Ayu.
" Lah wong kamu aja jalannya cuma sama Sam, Petro, Noel, terus siapa lagi itu temen-temen kamu itu... Ibu lupa." Ibu memegangi keniatnya mencoba mengingat-ingat.
" Aris sama Bayu." jawab Ayu.
" Nah itu." Ibu membetulkan.
" Wong kamu kelayapan terus sama mereka, opo ya ada, laki-laki yang berani nyedak ( mendekati ) kamu, ndok." omel Ibu.
" Pokoknya Ayah sudah mantep sama anaknya temen Ayah." Ayah kekeh.
" Kok Ayah yakin banget to, mau jodohin Ayu sama anaknya temen Ayah itu?" Ayu protes.
" Anaknya mapan, tampan, punya gelar. Jelas keluarganya. Apa itu ndak cukup? Daripada kamu nantinya dapat laki-laki gak jelas. Ayah sama Ibu gak rela." ucap Ayah.
" Ayah sama Ibu itu dulu temanan baik sama orang tuanya. Jadi sudah pasti orang tuanya baik, anaknya juga baik." timpal Ibu.
" Selama ini kamu kan dapet yang terbaik dari kami. Nah jodoh juga kami maunya yang terbaik buat kamu ndok. Nuruto ben uripmu kepenak ( menurutlah agar hidupmu terjamin). Ibu menasehati.
" Kalau cuma jaminan hidup, Ayu kan udah kerja Buk, Ayah. Gaji Ayu juga gak kecil." ucap Ayu.
" Kalau Ayah sama Ibu pengen Ayu lebih dari sekarang ini, Ayu bisa ikut Om Pram ke Jakarta." Ayu mencoba memberi alternatif untuk menolak secara halus.
" Kalau kamu ikut Om Pram mu itu, Ayah yakin malah makin lama kamu nikahnya. Perempuan nikah diumur yang terlalu matang itu ndak bagus. Seumuranmu ini pas." Ibu ternyata tetap menolak untuk setuju dengan penolakan Ayu.
" Emang anaknya temen Ibu itu gak punya pacar to? Kok harus dicariin istri?" tanya Ayu.
" Orang tuanya setibanya sama kamu, maunya kamu yang jadi menantunya." jawab Ayah.
" Begitu pula kami. Kami senang seandainya bisa menjalin silaturahmi kembali dengan mereka. Apalagi dengan jadi besan, kan lebih baik lagi." timpal Ibu.
Ayu mengetuk-ngetuk sisi kursi yang dia duduki dengan ibu jarinya. Bingung harus apa.
" Bagaimana?"
" Mau kan?"
__ADS_1
Ibu dan Ayah menatap penuh harap pada Ayu. Ayu tahu jika menolak maka akan mengecewakan kedua orang tuanya itu.
" Ayu setuju." ucap Ayu pelan.
Nampak wajah lega dan bahagia dari Ayah dan Ibu. Ayu makin tak punya pilihan lain.
" Tetapi Ayu punya permintaan terakhir sebelum menikah..."
" Apa?" tanya Ayah. Ibu ikut menunggu ucapan Ayu selanjutnya.
" Ayu minta waktu 1 tahun." jawab Ayu.
" Akan Ayah sampaikan nanti ke keluarga Nugraha, yang pasti kamu sudah setuju." Ayah sangat antusias.
" Tapi selama setahun itu, Ayu mau kerja di luar kota."
" Apa?" Ibu terkejut dengan permintaan Ayu.
" Iya Buk, anggap saja selama setahun itu Ayu menikmati masa lajang."
" Ayu janji gak bakal aneh-aneh." ucap Ayu meyakinkan kedua orang tuanya.
" Kamu punya kerjaan sendiri disini, kenapa harus kerja di luar." Ibu nampak keberatan.
" Itung-itung cari pengalaman Buk. Takutnya nanti setelah menikah, Ayu gak bisa kemana-mana lagi."
Ayah dan Ibu saling berpandangan.
" Bagaimana Yah?" Ibu meminta pendapat Ayah.
" Kamu mau kemana?" tanya Ayah ke Ayu.
" Ayu belum tentukan Ayu akan kemana, tapi nanti setelah pasti, Ayu akan bilang sama Ayah dan Ibu." jawab Ayu.
" Tapi janji kamu tidak akan kabur?" Ayah menatap Ayu lekat.
" Ayu tidak akan mengecewakan Ayah. Ayu akan kembali tepat setahun setelah kepergian Ayu." ucap Ayu.
" Ayah setuju. Nanti biar Ayah sampaikan ke keluarga Nugraha." ucap Ayah.
__ADS_1
" Ayu ke kamar dulu ya Yah, Buk." Ayu berpamitan lalu berlalu menuju kamarnya.