
" Sudahlah!" Abbas mulai kehilangan kasabarannya menghadapi Ayu, tetapi dia perlu Ayu untuk setuju dengan pernikahan ini demi Papanya.
" Intinya gini, kamu mau atau tidak menikah dengan saya?" tegas Abbas, namun Ayu sekali lagi menanggapinya dengan kekehan.
" Kalau saya jawab 'tidak' anda mau apa?" Ayu menjawab dengan nada yang lebih tegas.
" Saya berharap bukan itu jawabannya. Ini demi nyawa Papa saya." ucap Abbas dengan nada yang sedikit lemah.
" Nyawa itu Tuhan yang punya. Tidak ada hubungannya dengan pernikahan." Ayu tetap menyangkal ucapan Abbas. Nampak Abbas mengepal erat telapak tangannya. Menahan geram dengan sikap Ayu.
" Saya pernah menyetujui perjodohan ini. Tetapi anda sendiri dengan tegas menolak. Tapi mengapa sekarang ngotot ingin melanjutkan perjodohan yang anda sendiri tidak mau." Ayu bersedekap, kadang dia menoleh ke arah Ayah dan Ibunya, serta Petro yang duduk bersandar di kursi tunggu.
" Sudah saya katakan ini demi Papa saya!"
" Saya tidak akan menikah dengan demi orang lain."
" Papa saya bukan orang lain, Ayu. Please!" mohon Abbas.
" Itu Papa kamu, bukan Ayah saya!" Ayu tetap kekeh.
" Jika Ayah kamu yang ada diposisi Papa saya...."
__ADS_1
" Saya yakin, anda juga tidak akan mau berkorban demi Ayah saya yang notabennya bukan siapa-siapa anda, iya kan?!" Ayu memotong ucapan Abbas.
Abbas menghela nafas beratnya.
" Saya tidak tahu alasan apa yang orang tua saya pikirkan, sehingga saya harus menikah dengan orang keras kepala seperti kamu." keluh Abbas sambil memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.
" Anda yang membuat saya menjadi keras kepala. Jika saja anda tidak terang-terangan menolak, mungkin saya tidak berubah pikiran." Ayu menampakan senyum manisnya, seolah mengejek Abbas.
" Saya kembali ke orang tua saya dulu." Ayu berjalan meninggalkan Abbas yang hanya bisa menggeleng keheranan melihat Ayu yang bersikap santai tanpa beban.
Dengan malas, akhirnya Abbas menyusul Ayu. Dia menjajari Ayu agar bisa melanjutkan negosiasi, tetapi Ayu ternyata hanya diam tak merespon apapun yang dikatakan oleh Abbas.
" Nak Ayu." Bu Murni yang pertama menyambut Ayu ketika mereka sudah sampai di depan ruangan. Bu Murni baru saja keluar dari dalam.
" Tolong Nak, kasihan tante Murni." Ibu Isty, ibunya Ayu ikut membujuk Ayu.
" Kemarin kamu sudah setuju to?" Ayah ikut nimbrung.
" Nah sekarang kita dihadapkan pada situasi darurat, jadi Ayah sama Ibu minta tolong sama kamu. Turuti permintaan terakhir Papanya Nak Abbas ya?" pinta Ayah.
" Kalau kalian memang mau Ayu menikah, Ayu ikhlas. Tapi Ayu tidak ingin menikah dengan orang yang terpaksa menikah dengan Ayu, Yah." jawab Ayu, sambil mengalihkan pandangan pada Abbas yang seketika menoleh ke arah lain.
__ADS_1
" Abbas?" Bu Murni seketika menatap Abbas, yang ditatap langsung terkejut, namun Abbas sebisa mungkin menutupinya.
" Abbas juga ikhlas Ma."
Jawaban itu membuat Ayu menatap tajam pada Abbas, tetapi yang ditatap malah tersenyum sok manis, membuat Ayu muak.
Ternyata dia pintar bersandirwara. Ok! Mari kita mainkan!
Ayu mencibir dalam hati.
" Berarti kalau kalian sudah sama-sama mau, kita bisa laksanakan sekarang juga ijab kabulnya." ucap Bu Murni penuh semangat.
" Kalau begitu, kita harus segera minta ijin pihak rumah sakit untuk meminjam tempat." Bu Murni segera berlalu begitu saja.
" Ayah akan bantu juga persiapannya." Ayah segera pergi.
" Ibu ikut Yah." Ibu menyusul.
Kini tinggal Abbas, Ayu dan Petro. Seketika Petro melayangkan tinju ke arah Abbas, membuat Abbas nyaris terjungkal mendapat serangan mendadak. Sedangkan Ayu segera menahan Petro.
" Pet....!" Petro yang sebenarnya menahan emosi sejak tadi kini bersiap untuk melayangkan tinju untuk yang kedua kali. Namun Ayu semakin kencang menahan, sehingga Petro hanya bisa mengeram sambil mengumpat.
__ADS_1
" DASAR BANCI!"