Bukan Terminal

Bukan Terminal
Bertemu Tapi Tak Kenal


__ADS_3

Besoknya, Ayu diajak Vony datang ke klinik.


Seharusnya mereka tinggal di asrama karyawan, tetapi karena penuh Ayu tinggal diperumahan dokter milik yayasan yang letaknya terpisah dari klinik. Butuh waktu 5 menit berjalan kaki untuk sampai.


Ada Vony juga dua orang karyawan lagi yang tinggal disana.


Ayu dibawa Vony kesana untuk diperkenalkan, sekaligus bertemu dengan pimpinan klinik.


" Ayundia." Ayu bersalaman sambil memperkenalkan namanya pada karyawan yang pagi itu kebetulan sedang berkumpul untuk laporan jaga dan pergantian jaga.


Setelah berkenalan dengan beberapa karyawan, Ayu diminta menghadap pimpinan klinik. Dengan membawa berkas lamaran pekerjaan.


Ayu ditempatkan di bagian klinik ternyata. Karena masih kekurangan tenaga, maka Ayu diperbantukan sebagai asisten.


Ayu langsung mulai bekerja, walaupun dalam tahap belajar.


" Bantu daftar pasien ya Yu." kata Mbak Nanda, salah satu bidan yang bertugas jaga pagi itu.


" Iya Mbak." Ayu diajari oleh Mbak Nanda cara mendaftar pasien, dengan cermat Ayu mengamati cara bekerja di klinik itu.


" Ini Mbak." Ayu membawa beberapa berkas pendaftaran, lalu menyerahkan pada Mbak Nanda.


" Taruh di meja situ, nanti nunggu dokternya." Mbak Nanda menunjuk meja kaca di dekat meja periksa.


" Ada dokternya juga ya Mbak?" tanya Ayu sambil meletakkan berkas pasien ke meja.


" Ada. Tapi nanti datangnya jam 9." jawab Mbak Nanda.

__ADS_1


Setelah itu Ayu diajak berkeliling klinik, mulai ruang rawat inap untuk Ibu bersalin, kamar bersalin, kamar bayi, sampai dapur dan ruangan lain di klinik itu.


Hingga jam 9 lebih 5 menit, Ayu diajak kembali ke bagian poly.


Nampak seorang pria mengenakan jaket masuk lewat pintu samping klinik, lalu melepas jaket itu sambil berjalan di sebuah ruangan. Ayu hanya mengamati sekilas laki-laki berperawakan tinggi itu.


" Dokter sudah datang ya?" Tanya Vony.


Ayu yang belum tahu siapa yang dimaksud Vony hanya diam saja. Hingga suara langkah kaki terdengar mendekat.


" Pasien pertama." dokter itu memeriksa daftar pasien, melihat sejenak.


" Hafidz." dokter mulai memanggil.


" Ayu.. Bantu dokter panggil pasien ya." Mbak Nanda menunjuk ke arah dokter itu.


Ayu langsung beralih dari kegiatannya membantu Mbak Nanda membereskan obat-obatan.


" Anak baru ya?" tanya dokter Abbas saat melihat Ayu.


Ayu hanya mengangguk sambil tersenyum.


" Tolong panggil pasien ya."


Ayu segera keluar menuju meja pendaftaran untuk membantu memanggil pasien.


Hampir dua jam pasien baru selesai ditangani, walaupun kadang masih ada yang datang, tetapi menjelas siang sudah agak sepi.

__ADS_1


Biasanya saat itu digunakan oleh karyawan untuk bergantian istirahat.


" Siapa namanya?" dokter bertanya pada Ayu. Tanpa kesan, hanya terlihat normal bahkan secara nyata terasa begitu cuek. Mungkin bertanya sebagai formalitas karena akan bekerja secara bersama.


" Ayu."


" Lengkapnya?" Mbak Nanda menyahut.


" Ayundia Salim Mbak."


Ayu menoleh ke arah Mbak Nanda, tanpa menyadari ada yang terkejut saat mendengar namanya.


Tetapi semuanya tak berarti apapun, karena setelah itu mereka berpencar menuju ruangan masing-masing untuk beristirahat.


Ayu tak langsung ikut dengan yang lain menuju ruang makan, sekedar untuk minum teh sambil memakan kudapan bersama karyawan lainnya, karena ada pasien yang datang dan dia harus melayani dibagian pendaftaran.


Barulah ketika masuk, Ayu mendongak ke dinding. Melihat dengan jelas ada ijin praktek dokter yang terpampang disana.


" Abbas Nugraha." Ayu membaca dalam hati. Dia sempat terpaku. Pikirannya sempat mengarah pada seseorang dari keluarga Nugraha.


Hanya kebetulan aja namanya sama kan? Nugraha, semoga bukan Nugraha yang itu.


Ayu mencoba untuk menepis isi pikirannya lalu berjalan menyusul karyawan yang lain.


Namun pikirannya tetap melayang pada sosok dengan nama belakang sama dengan keluarga yang dimaksud Ayahnya.


Sama pekerjaannya yang seorang dokter. Tampan, karena memang dokter Abbas dalam sekali pandang sudah jelas dia memiliki wajah yang tampan. Walaupun terkesan cuek, tetapi tak mengurangi keapikan wajahnya. Hidungnya mancung, matanya jelas tajam karena dihiasi dengan alis yang hitam tebal. Warna kulit eksotis, agak kecoklatan. Badannya tegap dengan tinggi mencapai 180 cm. Terlihat gagah dengan balutan kemeja hitam yang baru saja dikenakan. Seharusnya dengan perawakan seperti itu, dokter Abbas lebih pantas menjadi seorang tentara.

__ADS_1


Ayu menegak habis sisa teh dari gelas miliknya, sebelum akhirnya dia bergabung kembali dengan yang lain di poly.


Tatapannya kembali bertemu dengan dokter Abbas, tetapi hanya sekilas lalu saat mereka berpapasan di koridor. Namun Ayu memilih menunduk lalu berjalan cepat karena sudah ada pasien di ruang pendaftaran.


__ADS_2