
Ayu menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan tempat Pak Nugraha dirawat, sesuai petunjuk dari petugas administrasi.
Ayu tanpa sadar jika masih diikuti oleh Abimanyu, berjalan begitu saja. Baru saat dia merasa ada yang mengikuti dia menoleh.
" Ya ampun...! Kok masih ikut, gak langsung balik.. M-as, Pa-k." Ayu bingung mau panggil Abimanyu apa, karena dia sendiri dulu juga jarang bercakap-cakap dengan Abimanyu. Pertemuan mereka dulu jarang, hanya kalau ada kegiatan extra baru bertemu. Itupun Ayu tidak ikut dikegiatan yang dibimbing Abimanyu, dia lebih memilih ke seni.
Tetapi walaupun begitu kesempatan untuk memandang masih ada, lewat jendela ruang kesenian yang menghadap ke lapangan, itu adalah salah satu contohnya. Atau kalau tidak pas Ayu memang masih ada di luar, dan masih bisa memperhatikan gerak-gerik Abimanyu saat memberi pelatihan. Pokoknya dimana ada kesempatan, akan dipergunakan Ayu secara diam-diam untuk memperhatikan si monkey-nya itu.
Selama perjalanan tadi, mereka lebih banyak diam. Ayu kelelahan sehingga lebih memilih tidur.
Bahkan setelah sampai rumah sakit, Ayu menyangka Abimanyu akan langsung pergi, tetapi nyatanya dia masih setia berada di belakang Ayu.
*Seandainya punya laki begini... Gak banyak omong, tapi setia... Sweet bener...!
Ayu sadar Ayu*!
Ayu berusaha untuk tetap waras, walaupun dalam angannya dia begitu memimpikan sesuatu yang indah-indah bersama seseorang yang kini tengah berada bersamanya itu. Tanpa sadar sudah ada sepasang mata yang mengintainya dengan tatapan sinis.
" Tugas saya memastikan Mbak Ayu sampai dengan selamat."
Wowww! Suaranya tegas banget... Aku suka, aku suka....!
Ayu makin terpesona, ingin rasanya dia berjingkat, tetapi dia masih bisa menguasai keadaan. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya mengangguk-angguk.
" Saya sudah sampai sekarang, juga dengan anda, bukan selamat." canda Ayu mencoba mencairkan suasana.
Garing gak ya candaan gue... 🤔
" Kalau begitu saya permisi." Abimanyu membungkuk hormat, lalu mengambil langkah berbalik.
__ADS_1
Ayu kecewa berasa ada yang hilang... Dia tidak rela. Ingin rasanya dia memanggil pria berbadan tegap, yang melangkah tanpa keraguan, ditambah dengan wibawa yang nampak jelas, apalagi dengan seragam dibalik jaketnya, menambah nilai plus untuk seseorang yang pernah ada di hati Ayu... Bahkan sampai saat ini mungkin masih ada... Tapi hati itu sayangnya tak mungkin dapat dia miliki...
Ayu... Yang sabar ya.... 😄
Abimanyu sudah tidak terlihat, segera Ayu berbalik, namun dia terkejut dengan keberadaan seseorang yang tepat berada di belakangnya, sedang menatapnya tajam dengan posisi melipat tangan di dada.
" Sedih ditinggal pergi?!" ejekan sinis itu membuat hati Ayu tiba-tiba berubah.
" Bukan urusan anda!" Ayu melangkah melewati dokter Abbas begitu saja.
" Kalau saya jadi kamu, saya akan pertahankan dia. Ketimbang memilih dijodohkan!" lagi dokter Abbas mengejek Ayu, membuat Ayu berhenti lalu berbalik menghadap dokter Abbas yang juga berhenti.
" Saya tidak pernah memilih untuk dijodohkan, apalagi dengan anda dokter!"
" Dan satu lagi, kesepakatan kita untuk membatalkan perjodohan ini juga anda yang membatalkannya, jadi jangan mengejek saya hanya karena kita belum mencapai kesepakatan!" ucap Ayu tak kalah tajam.
" Saya perlu bicara sama kamu."
" Saya disini untuk menemui Ibu saya." jawab Ayu. Dia memilih jalan menyamping.
" Ibu kamu sudah pulang." Ayu berhenti lagi.
" Jadi tidak ada gunanya saya disini." Ayu berbalik bersiap untuk pergi. Tetapi tangannya dicekal oleh dokter Abbas.
" Saya bilang saya ingin bicara!" ucapan tegas dokter Abbas membuat Ayu tersenyum mengejek.
" Saya maunya bicara di depan orang tua saya juga orang tua anda!"
" Papa saya koma."
__ADS_1
Ayu terdiam... Ayu bukan manusia yang tidak memiliki hati jika sudah menyangkut masalah nyawa.
" Kita bicara setelah Papa anda sadar." Ayu mencoba menepis perlahan cekalan tangan dokter Abbas, tetapi dokter Abbas makin kencang mengunci pergelangan tangan Ayu, Ayu merasakan nyeri.
" Ikut saya!"
" Saya harap anda melepaskan dia dengan hormat."
Suara tegas itu berasal dari Abimanyu yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
Ayu dan Abbas terkejut. Tetapi selanjutnya Abbas tersenyum mengejek. Tak urung dia melepaskan juga tangan Ayu.
" Wow! Pahlawan kesiangan datang!" sindirnya.
" Saya hanya melakukan perintah untuk menjaga keselamatan Mbak Ayu Pak, jadi selama ada ancaman, maka saya harus bertanggung jawab." ucap Abimanyu dengan tenang, tak terprovokasi dengan ejekan sinis dari Abbas.
" Wow... Wow... Wow, ternyata diam-diam kamu punya bodyguard. Apa yang kamu kerjakan sampai harus ada seorang pengawal yang menjaga kamu?"
" Tipuan apa lagi yang kamu mainkan hah?!" tanya dokter Abbas dengan kemarahannya.
" Kalau anda ingin bicara, mari bicara. Tapi jangan membuat keributan disini. Ini rumah sakit. Anda seharusnya tau itu dokter." Ayu mendahului Abbas melangkah pergi.
" Ini rumah sakit keluarga saya, jadi saya bebas melakukan apa saja disini."
Ayu berdecak, berhenti lagi karena Abbas berbicara dengan lantang.
" Saya yang tidak bebas harus menanggapi kemarahan anda disaksikan oleh orang sakit yang butuh istirahat. Atau mungkin anda juga sakit? Sehingga anda juga butuh istirahat?!" kini gantian Ayu yang mengejek, jelas Abbas makin geram, tapi Ayu tak peduli. Dia memilih melangkah pergi diikuti oleh Abimanyu.
Mau tak mau Abbas juga ikut pergi.
__ADS_1