Bukan Terminal

Bukan Terminal
Janji Abbas


__ADS_3

Akhir pekan, Ayu menepati ucapannya mengajak dokter Abbas bertemu dengan orang tuanya untuk membicarakan tentang pembatalan perjodohan.


Ayu dengan tegas juga menolak jika harus dijodohkan dengan laki-laki yang terlihat begitu membencinya. Apalagi sikapnya yang arogan dan keras, tentu bertentangan dengan Ayu yang santai.


Mereka pulang sendiri-sendiri.


Abbas meminta mereka bertemu di rumah Ayu, karena menurutnya lebih dekat. Apalagi akhir weekend ini dia punya jadwal bertemu dengan Iren.


Satu jam tidak datang, pertemuan batal. Saya ada pekerjaan lain yang harus diurus~ Ayundia


Abbas membaca pesan Ayu, lalu menatap Iren yang ikut membaca pesannya.


Abbas adalah tipe laki-laki yang mengutamakan kejujuran dalam berhubungan. Maka dari itu dia tidak berusaha menyembunyikan apapun dari Iren. Termasuk masalahnya dengan Ayu.


" Mas dateng aja. Cepet selasai makin baik." ucap Iren.


" Kamu gak ikut?" tanya Abbas.


" Kalau aku ikut, nanti masalahnya bisa tambah runyam. Apalagi orang tua mu kan benci banget kalau lihat aku." jawab Iren.


" Maafin aku yaaa...." ucap Abbas dengan penuh sesal, dia mengelus sayang kepala Iren yang bersandar padanya.


" Aku janji akan terus memperjuangkan kamu, walaupun orang tuaku tidak setuju. Tetapi aku akan tetap mempertahankanmu."


Iren mengubah posisinya, kini ia duduk tegak di samping Abbas.

__ADS_1


" Jalan kita terlalu berat Mas. Apa kita bisa tetap bertahan? Sedangkan mereka menentang hubungan ini. Bahkan terang- terangan menyiapkan calon untuk kamu, disaat kita masih berhubungan." Iren berucap dengan nada kawatir.


" Kamu percayakan kalau aku cintanya cuma sama kamu?" Abbas menggenggam tangan Iren dengan erat, seolah ingin menyalurkan kesungguhan kata-katanya lewat genggaman itu.


Iren menunduk, menatap kedua tangan yang saling menggenggam itu.


" Inginnya percaya... Tapi..."


Dering hp milik Abbas berbunyi, membuat keduanya menatap layar dan membaca siapa yang menelpon Abbas.


" Namanya Ayundia?" tanya Iren, Abbas mengangguk.


" Aku aja yang angkat ya?" sekali lagi Abbas mengangguk.


" Halo." suara Ayu terdengar, Iren menatap Abbas.


" Halo."


" Ini siapa?" Ayu bertanya.


" Aku Iren, pacarnya Abbas." jawab Iren bermaksud membuat Ayu terkejut, namun jawaban Ayu membuat maksudnya tak tersampaikan.


" Tolong bilangin sama Dokter Abbas ya Mbak, saya tunggu 30 menit lagi. Makin cepat datang, makin cepat kalian bisa bersama. Waktu saya terbatas. Terima kasih." Ayu menutup panggilannya, membuat Iren mengeram.


" Ihhh... Dasar gak sopan!"

__ADS_1


" Mas buruan aja deh temuin dia. Kok aku sebel sama dia, telpon aja gak ada sopan santunnya. Begitu kok dipilih jadi menantu. Masih bagusan aku kemana-mana. Heran deh, kenapa orang tua mu bisa suka sama dia?" Iren ngomel-ngomel sambil memberikan hp pada Abbas.


" Jangan marah-marah sayang... Emang masih bagusan kamu. Aku akan buktikan sama orang tua aku kalau kamu emang lebih unggul dari dia. Jadi gak ada alasan lagi mereka nolak kamu." Abbas menenangkan Iren.


" Aku pergi dulu ya."


Iren mengulurkannya tangannya. Abbas sudah hapal kebiasaan Iren yaitu meminta jatah perawatan kecantikan.


Abbas mengambil beberapa lembaran dari dalam dompetnya lalu meletakkan ke telapak tangan Iren.


" Dandan yang cantik. Kalau kurang nanti aku transfer." pesan Abbas.


" Oh ya, nanti kalau gak kemaleman aku balik kesini lagi." Abbas segera mengenakan jaket dan bersiap untuk mengendarai motornya.


" Pakai mobil dong kalau kesini." Iren menatap motor milik Abbas.


" Kamu mau mobil?"


Ayu mengangguk sambil tersenyum.


" Besok aku kirim yang di rumah praktek." ucap Abbas.


" Beneran?" tanya Iren, nampak matanya bersinar kegirangan.


" Apa sih yang enggak buat kamu." Abbas mencubit hidung Iren, membuat Iren merasa terbang di awan-awan. Karena ternyata Abbas tetap miliknya walaupun ada perempuan lain.

__ADS_1


" Aku berangkat ya... Cup." kecupan di kening Iren adalah tanda perpisahan mereka malam itu, karena setelah itu Abbas nyatanya tak datang.


Sebulan berlalu, hanya mobil yang dijanjikan Abbas yang datang, namun Abbas tak datang lagi. Walaupun mereka tetap berkomunikasi lewat pesan. Tetapi Iren merasa ada yang tidak beres yang terjadi dengan Abbas.


__ADS_2