Bukan Terminal

Bukan Terminal
Meet monkey love


__ADS_3

Ayu segera menghampiri tasnya karena hpnya berdering terus menerus.


23 panggilan tak terjawab, berasal dari Ayah, Ibu juga Abbas.


Ada apa ini?


Perasaan Ayu menjadi tak karuan saat melihat daftar panggilan dari ketiga nama dengan kurun waktu tak lebih dari 15 jelas menit itu.


Ayu segera menghubungi Ibunya.


" Ada apa Buk?"


" Bisa pulang secepatnya Yu! Om Nugraha kritis."


Ayu butuh waktu untuk mencerna ucapan Ibunya.


Om Nugraha, itu berarti...


" Papanya Abbas... Sekarang ada di rumah sakit. Bisakah kamu segera datang." Ibunya seolah tahu kebingungan Ayu, lalu menjelaskan maksud pemberitahuannya.


" Ayu masih di semarang Buk." Ayu bingung karena kalau pulang sekarang, masih ada satu season lagi pementasan, dan saat itu dia akan mengiringi secara pribadi penyanyi yang membawakan lagi bernuansa kenegaraan. Jelas Ayu bingung.


" Harus sekarang ya Buk?"


" Saya mohon, cepatlah datang."


Deg....


Suara itu... Dokter Abbas.


Ayu mematung masih dengan hp yang menempel di telinganya.


Om Pram yang saat itu datang untuk memanggil Ayu segera menghampiri Ayu.

__ADS_1


" Ada apa Dia?"


Dia adalah panggilan khusus dari Om Pram untuk Ayu. Karena nama Dia diambil dari Pramudia dan diberikan oleh Om Pram untuk Ayu saat pemberian nama.


Dia adalah anakku.


Ucapan Om Pram ditepati, karena sampai saat ini Om Pram adalah orang laskar kedua setelah orang tuanya.


" Hey... Ada apa?" tanya Om Pram sekali lagi sambil menepuk bahu Ayu.


" Apa sekarang saatnya Ayu tampil Om?" Ayu malah balik bertanya tentang hal lain. Tidak menjawab pertanyaan Om Pram, dan Om Pram tahu itu dilakukan Ayu untuk tetap konsisten pada pekerjaannya. Itulah yang diajarkan oleh Om Pram, yaitu profesional.


" Mengapa harus profesional, karena adakalanya orang tidak akan mengerti kita dalam situasi apa, yang mereka tahu mereka sudah membayar dan itu berarti semuanya beres. Itulah dunia kerja."


Ucapan Om Pram selalu terngiang-ngiang dalam benak Ayu. Jadi tentu saja dia tidak ingin mengecawakan pihak penyelenggara.


" Cerita setelah tampil ya." Om Pram seolah tahu Ayu mempunyai sesuatu yang ingin dibicarakan. Ayu mengangguk, lalu berjalan menuju belakang panggung untuk menunggu bersiap.


Ayu kembali mendengar hpnya berdering saat dia sudah kembali ke belakang panggung.


Ayu segera menemui Om Pram.


" Om... Bisakah Ayu pulang duluan?"


Om Pram melihat jelas wajah Ayu yang kawatir bercampur lelah.


" Ayu akan cerita kalau Om sudah gak sibuk. Tapi sekarang Ayu harus segera pulang."


" Ada apa to?" tanya Om Pram penuh penasaran. Ayu menceritakan sekilas apa yang terjadi.


" Kamu dijodohkan?" Om Pram menatap tak percaya.


" Tapi kami sepakat untuk menolak perjodohan ini Om."

__ADS_1


Om Pram mengacungkan dua jempolnya " jangan mau disetir kalau berhubungan dengan hidup dan mati. Om akan bantu kamu. Sekarang kenapa kamu mesti pulang hanya karena orang tua dia yang sakit?"


Ayu menggeleng " Ayu belum tahu Om, tapi sepertinya darurat.


" Om ijinkan kamu pergi hanya dengan alasan kemanusiaan. Tapi kalau mereka memaksa, segera hubungi Om. Karena Om gak rela kamu harus menuruti permintaan mereka yang gak masuk akal." ada nada tak terima dari ucapan Om Pram yang membuat Ayu selalu merasa dilindungi oleh Om-nya itu.


" Siap Om, Ayu akan hubungi Om kalau terjadi sesuatu sama Ayu." ucap Ayu.


" Ya sudah, pulanglah. Hati-hati." Ayu mengangguk kemudian mulai membereskan barang-barangnya.


" Ayu naik kereta Om." ucap Ayu memberi tahu.


" Kan Noel sama Bayu masih belum selesai." Ayu tahu Om Pram akan protes. Tapi tidak jadi.


" Om minta pengawal buat kamu. Tunggu dulu!" Om Pram segera keluar dan tak lama dia sudah kembali.


" Orang sudah ada. Kalian hati-hati." Om Pram memeluk sebentar keponakan kesayangannya itu. Ayu mengangguk lalu berpamitan.


" Dia berangkat Om." Ayu bergegas keluar.


Ayu sudah ditunggu oleh seseorang di pintu keluar, tanpa Ayu sadari pengawal berseragam itu ternyata adalah Abimanyu Putratama. Cinta monyetnya yang terpendam.


Ya ampun... Mimpi apa gue semalem!


9 tahun tidak bertemu. Tetapi Ayu masih mengingat jelas wajah seorang pria yang kini berjalan beriringan dengannya.


Ayu berusaha untuk biasa saja, karena jika dilihat ternyata pria tegap, gagah nan rupawan di sampingnya ini tidak mengenali dirinya. Padahal Ayu sekuat tenaga untuk menetralkan degup jantungnya yang perpacu dengan keras, jika saja ada yang mau memegang telapak tangannya, pasti bisa merasakan tangan sedingin es milik Ayu.


Namun Ayu sadar, bahwa cinta monyetnya dulu adalah cinta dalam hati yang tidak seorang pun tahu. Apalagi sosok itu jelas tidak akan mengingatnya walaupun pernah satu sekolah. Yang membedakan hanya Ayu masih 1 SMA, sedangkan Abimanyu saat itu sudah lulus tepat disaat Ayu masuk. Namun kegiatan extra, membuat Ayu masih bisa melihat pujaan hati, karena Abimanyu saat itu aktif menjadi pendamping di sekolahnya.


Makin mateng aja... Serrrrr....


Ya Allah... Kenapa jantungku berdesir? 😍😍

__ADS_1


__ADS_2