
Abbas menerjang masuk ke dalam butik seolah sudah biasa dia ada disana dan sudah hapal dengan sudut ruangan itu.
" Abbas!" Iren terkejut dengan kedatangan Abbas yang tiba-tiba.
" Ada apa?" dengan cepat Iren mengubah air makanya menjadi biasa saja. Dia sudah bertekad untuk tidak menunjukkan perasaan apapun pada pria yang selama tiga tahun terkahir ini mengisi hidupnya, namun menyakitinya hanya dalam hitungan hari.
" Aku mau kamu kembali sama aku!"
" Kamu meminta atau memerintah?" sindir Iren sinis.
" Atau kamu sakit hati karena akan ditinggal menikah oleh mantan istrimu?" mata Iren menantang Abbas yang tampak terkejut.
" Darimana kamu tahu? Apa selama ini kamu memata-matai kami?" ucapan Abbas menajam.
Namun Iren malah terkekeh, tangannya meletakkan pinsil yang sedari tadi dia gunakan untuk membuat pola.
" Saya tidak ada waktu untuk melakukan hal rendah itu Abbas, jadi jangan menuduhku!" sekak Iren.
" Darimana kamu tahu dia akan menikah?" Abbas mengendur, tanpa dipersilahkan dia mengambil tempat duduk. Dia nampak lelah. Itu yang Iren lihat saat ini.
" Ayu... Dia memintaku merancang gaun pertunangannya." jawab Iren sambil mengambil gelas untuk diisi minuman dari dispenser.
" Maaf hanya air putih." tangan Iren meletakkan gelas berisi cairan bening itu di hadapan Abbas. Abbas masih ingat betul Iren tidak suka minum kopi ataupun teh, hanya air putih itu yang selalu menjadi andalan gadis itu.
" Mengapa harus kamu?" tanya Abbas sambil menenggak air itu sampai tandas.
" Aku juga tidak tahu." Iren mengedikkan bahunya, cuek.
" Apa dia tahu siapa kamu?" tanya Abbas lagi.
" Aku juga tidak tahu." lagi Iren menjawab jawaban yang sama untuk dua pertanyaan dari Abbas.
" Tolak!"
" Ini karirku, ini kesempatanku untuk maju!"
Abbas menatap tajam pada Iren yang menurutnya gadis itu bukan seperti gadis yang dia kenal. Iren-nya akan selalu patuh jika dia melarang.
" Kamu tidak ada hak melarangku melakukan apa yang aku mau Abbas! Sadarlah, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi." Iren beranjak keluar karena dia mendengar ada yang datang di ruangan lain, tempat dia meletakkan hasil karyanya. Rasti sedang keluar mencari makan siang untuk mereka.
" Selamat da...." Iren terkejut, Ayu datang ke butiknya.
" Mbak Ayu... Silahkan duduk." Iren mengiring Ayu menuju tempat biasanya dia menemui kliennya.
" Sendiri?" tanya Iren saat mencari orang lain selain Ayu.
" Kak Abi langsung ke markas, tadi cuma nganter."
" Oh ya ya..." Iren mengangguk-angguk.
Tapi pikirannya kini beralih pada seseorang yang ada di dalam ruang kerjanya. Abbas ada disana, bagaimana jika dia tahu Ayu ada disini.
Namun nasib buruk sedang mengintainya, Abbas yang merasa ditinggal begitu saja oleh Iren segera ikut keluar saat mendengar Iren berbicara dengan seseorang yang kini membuatnya memaku...
" Dokter Abbas..." Ayu terkejut.
Iren bungkam. Jelas dia tahu ini akan terjadi sejak awal.
" Kok disini?" Ayu memandang Abbas juga Iren bergantian, seolah ingin mencari jawaban sendiri atas pertanyaannya.
" Oh!" Ayu kini mengerti.
Suasana mendadak menjadi hening. Tak ada yang ingin bicara, ataupun bergerak dari tempatnya masing-masing. Sibuk dengan hati dan pikiran yang kini menggelut ketiga orang yang berada dalam satu ruangan itu. Sampai akhirnya Ayu yang memecah keheningan itu.
" Mbak Iren, kita bisa lanjutkan pemesanan kebayanya? Soalnya setelah ini saya ada acara lain." tampak Iren mengangguk dengan senyum yang terlihat canggung. Namun lega, karena ternyata Ayu tidak mengajaknya membahas tentang apa yang terjadi diantara mereka mengenai satu pria yang kini terdiam memaku.
Iren mulai mengukur Ayu dengan meteran di tangannya. Dengan profesional dia bekerja, bahkan Ayu pun terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apapun.
" Sebentar lagi Kak Abi datang, kalau Mbak Iren gak keberatan, tolong tunggu sebentar." pinta Ayu setelah dirinya selesai diukur.
Abbas yang mendengar nama Abi disebut seketika menoleh ke Ayu yang tampak tidak memperdulikannya. Tapi Iren melirik dari sudut matanya.
Mangapa harus terkejut?
Iren nampak biasa dalam wajahnya, namun hatinya jelas terluka.
" Nah, itu dia." Ayu melihat mobil Abi yang terparkir di depan butik. Tak berselang lama, seorang pria melangkah masuk ke dalam yang langsung disambut oleh senyuman Ayu.
__ADS_1
" Sudah selesai Kak?"
Abi mengangguk sambil berjalan menuju Ayu. Namun tatapannya beralih pada seseorang yang ada di ruangan itu yang tak lain adalah Abbas.
" Langsung aja Mbak Iren." Ayu meminta Iren mengukur badan Abimanyu, sambil menggandeng tangan pria itu, sehingga membuat Abi beralih.
Abbas dicuekin permirsa 🙊
Setelah selesai, Ayu dan Abbas pamit. Namun ucapan Iren membuat keduanya mau tak mau harus tinggal barang sejenak.
" Saya ingin menjelaskan sesuatu."
Ayu menunggu dalam tanya. Abi mengangguk. Cukup paham dengan situasinya.
" Dia dulu adalah pacar saya. Tapi sekarang sudah bukan." ucap Iren sambil menatap Abbas yang juga menatapnya dengan iba.
" Seharusnya saya tidak perlu membahas ini." Iren tersenyum kecut, tetapi dia ingin menjelaskan agar tidak ada salah paham.
" Dulu dia adalah suami saya, tapi sekarang juga sudah bukan, Mbak Iren." Ayu berkata dengan nada santai.
" Saatnya sekarang kita menatap masa depan sambil berkaca dari masa lalu, agar tidak jatuh di lubang yang sama."
" Pengalaman jatuh itu menyakitkan, tapi saat kita bisa melewati masa sakit itu, percayalah kita akan sangat bersyukur setelahnya, karena kita akan mendapat yang lebih baik." Ayu berucap sambil tersenyum.
" Karena saya ada urusan lagi, saya permisi." pamit Ayu.
" Jika nanti ada yang perlu dibicarakan mengenai kebaya dan jasnya, silahkan kontek saya."
Iren mengangguk mencoba untuk tersenyum walaupun dia sendiri merasa bingung dengan sikap Ayu yang tampak santai berhadapan dengannya yang adalah mantan pacar Abbas yang notabenenya adalah mantan suaminya. Lalu beralih ke Abbas, sambil menatap Abbas yang sedari tadi hanya diam, Iren tak pelak menatap iba pada sosok yang tiga tahun ini menjadi sandaran hidupnya.
" Aku merasa cintamu bertepuk sebelah tangan." ejek Iren saat melewati Abbas, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangannya. Dia tahu Abbas mengikutinya.
" Aku sendiri tidak bisa menyimpulkan rasa sesaat itu adalah cinta atau hanya kekaguman, yang aku tahu di dalam sini hanya ada kamu." tunjuk Abbas di dadanya sendiri.
Iren tersenyum kecut " mengapa kamu tidak bisa melanjutkan hidup seperti Ayu yang begitu berpisah darimu tapi bisa langsung membuka diri untuk cinta baru!" sarkas Iren.
" Jika semua orang seperti dia, saya rasa dunia akan damai tanpa ada rasa sakit seperti yang saya rasakan, dan tidak ada orang yang terluka seperti yang kamu rasakan. Iya kan?!"
" Dan perlu kamu tahu, di dalam hubungan saya Dan dia, tidak ada yang namanya cinta."
" Cinta dia adalah laki-laki itu, sedangkan cintaku adalah kamu. Mungkin Tuhan memang punya cara untuk menyatukan mereka dengan cara ini..."
" Aku terjebak dalam situasi sulit Iren."
" Papa sakit, sempat koma."
" Mama mendesakku untuk memenuhi permintaan terakhir Papa, yang ternyata permintaan itu adalah obat untuk beliau. Nyatanya saat aku memenuhi permintaan itu beliau bisa pulih."
" Lalu bagaimana kabar beliau saat kalian memutuskan untuk bercerai?" tanya Iren.
" Alhamdulilah keadaan Papa tetap baik-baik saja." jawab Abbas.
" Syukurlah." ucap Iren.
" Aku harus bekerja." Iren mulai mempersiapkan peralatan.
Abbas merasa Iren mengusirnya secara halus.
" Aku ingin disini."
Iren menatap Abbas dengan datar, sebelum akhirnya dia membiarkan laki-laki itu berada disana sesuka hatinya.
Sementara itu di perjalanan....
" Kak Abi gak mikir apa-apa kan tentang kami?" tanya Ayu pada Abimanyu.
Abi menoleh sekilas ke Ayu sebelum kembali fokus ke jalanan.
" Aku percaya sama kamu." ucapnya sambil tersenyum.
" Aku kepikiran sama pikiranmu lho." Ayu ingin Abi tidak memiliki prasangka pada dirinya dengan pertemuan tak terduga di butik tadi.
Abi mencari tempat yang tepat untuk menepi. Setelah itu dia mengajak Ayu keluar dari mobil dengan membukakan pintu untuk Ayu.
" Kita makan dulu, biar pikiranmu gak aneh-aneh." ucap Abi sambil menggandeng Ayu masuk ke restoran.
" Mau makan apa?" tanya Abi sambil membuka buku menu.
__ADS_1
" Samain aja."
" Minumnya juga sama?"
" He'eh." Ayu mengangguk.
Abi memesan setelahnya baru dia menjawab pertanyaan yang tertunda dari Ayu.
" Aku gak punya pikiran tentang masalah tadi, jadi jangan mikir yang aneh-aneh ya." ucapnya lembut.
" Beneran?" tanya Ayu. Abi mengangguk.
" Selama aku adalah masa depan kamu, masa lalu biar menjadi masa lalu." ucap Abi, membuat Ayu tersenyum bahagia.
" Kak Abi sejak kapan suka sama aku?" tanya Ayu kemudian.
" Mau tau?"
" He'eh."
" Sejak ada yang curi-curi pandang waktu ekskul."
" Masa! Bohong!" Ayu merona antara malu dan bahagia. Malu karena ketahuan curi-curi pandang.
" Kan banyak yang gitu juga."
" Tapi yang nyuri liatnya gak kelihatan cuma kamu."
" Emang iya?!" tanya Ayu tak percaya.
" Iya... Apalagi kalau pas deketan, pura-pura gak lihat, pura-pura cuek. Bikin gemes-gemes gimana gitu." wajah Ayu memanas, Abi tergelak.
" Tapi kok Kak Abi gak kelihatan kalau suka sama aku waktu itu?" tanya Ayu.
" Orang cool gak jadi cool kalau perasaan aja bisa ditebak."
" Preet! Cool apanya! Cerewet gini!" Ayu mencibir.
" Masa iya sama calon istri cool, dikiranya nanti gak punya perasaan, dikiranya nanti cuek, dikiranya gak perhatian, terus habis itu merasa kecewa, nangis...."
" Stop! Jangan diterusin!" Ayu merasa jengkel dengan godaan Abi.
" Emang gitukan, WA gak cepet dibales ngambek, padahal lagi apel. Masa iya lagi mimpin apel suruh buka hp." ucap Abi mengingatkan Ayu yang waktu itu marah gara-gara gak dibales pesannya.
" Iya... Iya maaf." ucap Ayu.
" Kan gak tahu kalau kakak masih mimpin apel. Belum paham jadwal jugakan waktu itu. Kan masih baru jadian, jadi wajarlah...."
" Iyaaa... Makan dulu yuk." ajak Abi saat makanan datang.
" Makasih ya Mbak." ucap Ayu pada pelayan.
" Kalau misalnya nih, Kakak berhenti jadi abdi Negara gimana?" tanya Abi disela-sela acara makan, membuat Ayu menghentikan sendok yang sudah ada di depan mulutnya.
" Maksud Kak Abi?" tanya Ayu dengan wajah bingung.
" Rencana Kakak mau mengundurkan diri sebelum kita resmi."
" Kenapa?" Ayu makin bingung.
" Ingin fokus sama keluarga."
" Kenapa?" Ayu masih bertanya.
" Intinya aku mau cinta ini gak terbagi, cuma buat kamu sama anak-anak."
" Aku meleleh Bang, tapi aku bingung harus bagaimana?" ucap Ayu.
" Bingung ntar aku kerja apa gitu?"
" Bukan itu. Emang gak sayang mau berhenti gitu aja?" tanya Ayu.
" Jadi kayak Kakak gini susah loh!"
" Udah jadi niatan, pengen fokus sama keluarga aja."
" Gak nyesel?"
__ADS_1
" Selama sama kamu, insya Allah gak." ucap Abi dengan tegas.