Bukan Terminal

Bukan Terminal
Minta Bertemu part 2


__ADS_3

Nafas Ayu tersengal-sengal karena berlari. Sesampainya di perempatan jalan, Ayu segera mencari keberadaan dokter Abbas.


Motor Gede berwarna merah yang biasa terparkir di depan klinik tak nampak membuat Ayu mengedarkan pandangannya untuk mengamati kendaraan yang lalu lalang satu persatu.


Namun baru saja Ayu ingin duduk, hpnya berdering... Ayu segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Dokter Abbas.


" Lihat mobil di samping car wash warna putih, saya disini."


Baru Ayu menoleh mencari arah yang dikatakan dokter Abbas, sambungan Teflon sudah dimatikan. Ayu menemukan mobil putih yang dimaksud dokter Abbas. Sambil memasukkan hp ke dalam saku jaketnya, Ayu berjalan menuju mobil itu.


" Masuk!" Dokter Abbas membuka pintu samping kemudi tanpa turun dari mobil.


Ayu segera masuk, namun pintu mobil tidak ia tutup.


" Tutup pintunya!" nada perintah itu membuat Ayu menoleh ke samping.


" Kita bicara disini saja." pinta Ayu.


Dokter Abbas berdecak kesal " tolong tutup pintunya!"


" Kalau dokter tidak mau berbicara disini, saya turun!" Ayu tetap kekeh dengan keinginannya. dia cukup tau apa yang akan terjadi, karena saat ini dia juga sudah sadar bahwa orang yang di sampingnya itu adalah orang yang akan dijodohkan oleh orang tuanya.


" Kalau begitu jelaskan! Mengapa kamu bekerja disini?!"


" Kamu memata-matai saya?!" tuduh Dokter Abbas, tatapan tajam itu seolah sangat membenci Ayu.

__ADS_1


" Saya hanya meminta waktu. Bukan untuk memata-matai anda!" jawab Ayu tenang.


" Bohong! Kamu sengaja datang kesini kan? untuk apa?" Dokter Abbas makin terlihat marah, nampak dari wajahnya yang memerah, tetapi Ayu tak mau menanggapi amarah dokter Abbas.


" Begini saja Dokter.... Kita sama-sama tau apa keinginan orang tua kita. Hanya saja kita punya kehidupan masing-masing. Bisa jadi anda juga sudah punya pilihan sendiri. Jadi menurut saya, jika anda ingin menolak, tinggal katakan saja! Karena menurut saya, anda marah sama saya juga tidak akan merubah apapun." jawab Ayu dengan nada yang sangat tenang, dan itu membuat dokter Abbas semakin geram.


" Apa maumu?!" pertanyaan yang membuat Ayu bingung.


" Maksud Dokter?"


" Jawab kenapa kamu bisa ada disini!"


" Saya bekerja!"


" Apa saya terlihat berbohong?" Ayu menantang tatapan tajam Dokter Abbas.


Tatapan mereka bertemu. Sejenak Abbas menilai sorot tenang di mata Ayu yang seolah mengatakan bahwa dia memang tidak berbohong.


" Kebenarannya adalah memang saya tidak tahu kalau anda ada disini. Dan saya ada disini karena Vony adalah teman saya. Jadi saya minta dia untuk mencarikan saya pekerjaan, lebih tepatnya tempat bagi saya untuk mengulur waktu, siapa tahu mereka bisa mengubah keputusan mereka atas perjodohan ini. Perkara ternyata dokter ada disini ini merupakan suatu kebetulan, karena nyatanya saya sama sekali tidak tahu anda juga bekerja disini. Bahkan anda dan saya sama-sama tidak tahu saat kita pertama bertemu, karena saya juga belum pernah bertemu sama sekali dengan anda, begitu juga anda kan Pak Dokter?" jelas Ayu panjang lebar.


" Jadi kamu juga tidak menyetujui perjodohan ini?" tanya Dokter Abbas.


" Sama seperti anda, jadi jangan kira saya dengan senang hati menerima dijodohkan dengan orang yang tidak saya kenal sama sekali. Jika boleh memilih, saya ingin mengatakan tidak, hanya saja saya menghargai permintaan orang tua saya. Tetapi jika anda juga ingin menolak, kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik. Tidak perlu pakai emosi, apalagi harus menuduh orang yang sama sekali tidak tahu apa-apa." sindir Ayu.


" Kita bertemu orang tua mu, sekarang!" Dokter Abbas tanpa aba-aba langsung menutup pintu mobil yang otomatis membuat Ayu langsung memundurkan tubuhnya.

__ADS_1


" Saya tidak bisa pergi sekarang!" ucap Ayu dengan tegas.


" Saya butuh kamu untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin!" Abbas tak mau kalah, dia sudah mulai menjalankan mobilnya.


" Jika anda bersikeras, maka saya akan melompat!" ancam Ayu.


Decik rem seketika terdengar, membuat Ayu yang tidak mengenakan seatbelt tergoncang dan keningnya membentur dashboard.


" Aouh!" Ayu merasakan sakit di keningnya.


" Turun!"


Ayu melotot! Tak percaya ada laki-laki sekejam dokter Abbas. Baru saja membuatnya terbentur, bukan permintaan maaf yang dia dapatkan, tetapi malah diusir.


" Baru kali ini saya bertemu dengan orang yang tidak punya hati seperti anda!" ucap Ayu dengan nada penuh kecewa.


Dokter Abbas malah tertawa sinis " jangan pakai hati! Takutnya malah terluka." sindir dokter Abbas, Ayu hanya menggeleng tak percaya.


" Akhir minggu ini, di rumah saya atau di rumah anda, kita bertemu!" setelah mengatakan itu, Ayu langsung turun dari mobil, tak lupa dia membanting pintu mobil saat menutup, membuat beberapa orang tersentak kaget.


" Mbak, kasihan pintunya kalau rusak." Ayu menatap orang itu sambil mengelus keningnya yang masih sakit.


" Pintunya nakal Pak, bikin jidat saya penyok!" jawab Ayu sekenanya, dan dia langsung pergi begitu saja.


Sedangkan Dokter Abbas langsung melajukkan mobilnya pergi.

__ADS_1


__ADS_2