Bukan Terminal

Bukan Terminal
Sombong!


__ADS_3

Ayu berdiri di samping Petro di dekat jendela ruang gawat darurat.


Nampak beberapa dokter mondar-mandir.


Sesekali dia melirik Ibunya Abbas yang menangis sesenggukan ditemani ibunya.


Ayah duduk di kursi tunggu, sedangkan Abbas sendiri ikut masuk ke dalam bersama dengan beberapa dokter yang menangani Pak Nugraha.


Tiba-tiba Bu Murni berjalan mendekat ke Ayu.


" Nak Ayu...." panggilnya. Ayu menoleh ke arah Bu Murni yang melambai memintanya mengikuti.


Meraka kini duduk agak menjauh dari yang lain.


" Tante ingin memenuhi keinginan Papanya Abbas..."


Ayu menatap Bu Murni, menunggu kalimat selanjutnya.


" Papanya Abbas ingin sekali melihat kalian menikah...."


Ayu masih saja diam, mendengarkan kalimat selanjutnya lagi...


" Tapi dengan keadaan beliau yang seperti sekarang ini, apa masih mungkin beliau melihat kalian menikah." Bu Murni mengusap lelehan air mata yang tak kunjung mau berhenti.


Ayu hanya diam... Dia takut salah bicara. Karena sejujurnya dia sendiri enggan menerima perjodohan dengan pria yang dengan jelas menolaknya. Bahkan tak pernah absen berkata ketus jika berbicara dengan dirinya.


Bagaimana mungkin laki-laki seperti itu akan menjadi suami yang baik?!


Ayu menoleh ke arah pintu dimana ada yang keluar dari ruangan tempat Pak Nugraha mendapat penanganan medis.


Bu Murni segera beranjak menemui Abbas, ya... Orang yang keluar dari ruangan itu adalah Abbas.


" Mama.... Papa ingin bicara."


" Papamu sudah sadar?" tanya Bu Murni dengan tatapan takjub. Abbas mengangguk.


Segera Bu Murni mengenakan pakaian steril yang dibawakan Abbas lalu masuk ke dalam.

__ADS_1


Tak berselang lama, dia keluar dan memanggil Ayu.


" Nak Ayu... Bisa ikut masuk sebentar?" pinta Bu Murni.


Ayu mengangguk, walaupun dia tidak tahu kenapa dia harus ikut masuk ke dalam.


Ayu masuk dengan baju steril juga masker yang menutupi separuh wajahnya.


Nampak dari matanya dia tersenyum canggung ke arah seorang lelaki paruh baya yang berbaring lemah di atas ranjang, dengan peralatan medis lengkap yang terpasang.


Gerakan tangan lemah pria itu meminta Ayu mendekat. Ayu segera berdiri di samping pria itu.


" Nnnnak A-yu." ucapnya terbata. Nafasnya yang tersengal membuat Ayu merasa iba.


" Om jangan banyak bicara dulu... Istirahat aja ya."


Tetapi Pak Nugraha menggeleng.


" Saya akan segera sembuh... Jangan kawatir Nak." pria itu tersenyum walau nampak kesulitan.


" Ya... Ya... Sembuh.... Tapi.... Om ada permintaan sama kalian berdua." netranya bergantian melihat Ayu dan Abbas.


Ayu dan Abbas saling bertatapan, mereka berada tak jauh. Tetapi Ayu harus menoleh ke samping untuk melihat Abbas.


" Abbas akan lakukan apapun yang Papa minta, asalkan Papa sembuh."


Abbas berucap dengan menggenggam tangan Pak Nugraha yang bebas dari selang infus.


" Kalau begitu, kalian harus menikah sekarang."


Nafas Ayu tercekat, dia hampir lupa menghembuskan nafas. Bahkan dia mematung, tak bergerak sama sekali.


" Baik... Kalau itu yang bisa membuat Papa kembali sehat. Abbas akan menikah."


Ayu menatap Abbas dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia bahkan tak berani untuk mengatakan satu katapun di ruangan itu. Dia bingung, haruskah dia mengalah demi nyawa manusia yang tidak ada hubungannya sama sekali dengannya itu?


Sebenarnya itu bukan keharusan Ayu untuk menerima permintaan Pak Nugraha. Dia bukan anaknya, Pak Nugraha juga bukan orang tuanya. Jadi mengapa dia harus ikut menanggung akibat dari ketidakberdayaan seseorang yang kini menatapnya penuh harap.

__ADS_1


" Saya mohon."


Ayu hampir saja tertawa keras dengan permohonan dari seorang laki-laki yang biasanya membencinya itu. Tetapi kini kesombongan dari mata yang biasanya menatap Ayu tajam seolah menghilang digantikan dengan tatapan sayu.


Ayu ingin meledek dalam hati, tetapi dia hanya bisa diam.


" Kita perlu bicara." ucap Ayu mendahului keluar.


Abbas mengikuti Ayu.


Ayu hanya mencari tempat menjauh dari orang tua dan sahabat yang masih ada di depan ruangan. Jika menoleh, Ayu masih bisa melihat ketiganya.


" Mengapa tidak anda katakan saja penolakan anda tentang perjodohan ini Dokter Abbas?" tanya Ayu.


" Apa kamu kira saya manusia kejam yang tak punya perasaan disaat Papa saya sekarat, saya akan mengatakan tidak pada permintaan beliau?"


" Saya tahu persis, umur beliau sudah tidak lama lagi. Jadi apa salahnya menuruti permintaan terakhir beliau. Hitung-hitung sebagai bakti."


" Hah!" Ayu tertawa sinis.


" Bakti anda pada orang tua anda, jadi saya tidak punya kewajiban untuk berbakti pada orang tua anda kan?"


" Jika saya bisa melakukannya sendiri, maka saya akan lakukan." jawab Abbas dengan tegas.


" Anda punya kekasih kan?" pertanyaan Ayu membuat Abbas terkejut.


" Mengapa anda tidak membawa dia untuk mewujudkan bakti anda pada orang tua anda. Kalian pasti sangat saling mencintai, jadi dia pasti tidak akan keberatan anda ajak menikah." ucap Ayu.


" Kamu tau darimana saya punya kekasih?"


Ayu hampir terkekeh karena keterkejutan Abbas.


" Saya bukan orang bodoh yang hanya bisa diam saja. Jadi kalau hanya untuk mencari info tentang anda itu adalah sesuatu yang mudah bagi saya." ucapan Ayu mendapat decakan kesal dari Abbas.


" Sombong!" sungut Abbas.


" Apakah anda masih ingin menikah dengan orang sombong ini?!" dan Ayu tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2