
Bu Murni menatap cemas pada anaknya yang memar di pipi bagian kiri.
" Ini kenapa?" dia hampir menyentuh luka memar itu, tetapi Abbas segera menghindar.
" Kena pintu Ma." alasan yang masuk akal, sehingga Bu Murni hanya bisa menggeleng tak percaya.
" Kok bisa?" Bu Murni kembali bertanya.
" Mata Abbas lagi slewer, jadi gak liat udah lewat pintu kirain belum." jelas Abbas, dan hanya dimendapat tanggapan dari Bu Murni berupa dua huruf yaitu 'oh'. Padahal lebam itu akibat dipukul oleh Petro. Tetapi Abbas Tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa jadi masalah, itu pikirnya.
Sialan tuh orang! Awas aja ntar.
Abbas menatap tajam pada Petro yang dibawa keluar oleh Ayu, tetapi masih terlihat oleh Abbas.
" Ayu mana?" Bu Isty muncul bersama Ayah.
" Disana tante." Abbas menunjuk Ayu dan Petro yang berada di sekitar taman.
" Pipimu kenapa?" bukannya melihat Ayu, Bu Isty malah heran dengan lebam yang ada di pipi Abbas.
" Nyium pintu katanya." Bu Murni yang menjawab.
" Lah, po wes gak sabar pengen nyium Ayu? Kok wes praktek karo lawang?" Bu Isty malah menanggapi dengan bercanda, membuat gelak tawa seketika terdengar.
Ayah segera memanggil Ayu karena Pak ustad dan penghulu serta beberapa dokter yang diminta menjadi saksi sudah mulai berdatangan.
Tanpa kebaya, tanpa riasan, tanpa jas, hanya pakaian seadaannya yang dipakai Ayu dan Abbas pada hari itu juga, akhirnya mereka dinyatakan sah sebagai suami istri di mata agama. Proses yang sangat singkat.
" Nak Ayu, silahkan cium tangan suamimu."
__ADS_1
Ayu mengangguk, dia mengambil tangan Abbas yang sudah terulur padanya, tetapi saat punggung tangan itu mendekat di wajah Ayu, tiba-tiba seekor nyamuk melintas di dekat lubang hidung Ayu, sehingga membuat Ayu bersin seketika, dan semua yang hadir tercengang.
" Iihhh, jorok." Abbas menarik tangannya seketika, otomatis dia mengelap punggung tangannya dengan baju yang dia kenakan.
" Maaf, tadi ada nyamuk di idung."
Gelak tawa seketika memenuhi ruangan itu, bahkan Pak Nugraha yang tadinya hanya bisa diam, kini bisa menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Berbeda dengan Abbas yang langsung meminta tisu basah pada sang Mama.
Ayu tak bisa menahan tawa, walaupun hanya dalam hati, tetapi dia kini mengucapkan terima kasih banyak pada seekor nyamuk yang telah membantunya, sehingga dia tidak harus mencium tangan manusia arogan yang kini berstatus suami untuknya.
Terima kasih nyamuk.... 😂😂
Ijab kabul sederhana akhirnya selesai.
Ibu dan Ayah, Bu Murni nampak bahagia. Walaupun kedua mempelai hanya menampilkan senyum bahagia pura-pura.
" Menyakiti Ayu, berarti menyakiti kami. Kami berlima, tidak akan tinggal diam!"
Berlima?
Abbas dibuat bingung dengan kata 'berlima' yang diucapkan Abbas.
Dia hanya sendiri, kenapa bilang berlima. Apa dia kucing, punya nyawa serep( cadangan)?!
Petro segera melepaskan diri sambil menepuk-nepuk bahu Abbas, sok akrab. Sekali lagi Abbas hanya bisa tersenyum saat Petro mengucapkan kata selamat, karena semua orang masih memperhatikannya.
Ayu ingin tertawa lagi, dia melihat bahkan mendengar semua yang diucapkan Petro.
" Ayah, sama Ibu mau pamit pulang. Tadi buru-buru kesini, jadi gak ada persiapan." ucap Ayah.
__ADS_1
" Ayu kamu disini ya, temenin Mama." Bu Murni segera tanggap, meminta Ayu untuk tinggal.
Ayu bingung " Ayu besok kerja tante."
" Mama... Panggil Mama." ucap Bu Murni.
" Iyaa... M-ma. Maaf Ayu besok kerja, belum ijin juga." Ayu mangatakan keberatannya.
" Temenin dulu Mama mertuamu ya." Bu Isty ikut membujuk Ayu.
" Telpon Vony, biar dia yang mintain ijin." pinta Bu Isty.
Abbas berdiri tak jauh dari Ayu, dia kini ikut bergabung.
" Besok saya yang antar."
Akting lagi dia!
Ayu menaikkan sebelah alisnya. Dia ingin sekali memprotes tapi tak jadi karena ucapan Ayahnya.
" Nurut apa kata suamimu!"
" Kan ada Petro Yah." tunjuk Ayu pada Petro.
" Petro pulang sama kami. Besok kamu diantar sama Nak Abbas. Suamimu kan dia."
Tak ada gunanya berdebat, akhirnya Ayu mengalah. Malam itu dia menemani Bu Murni di rumah sakit. Abbas sendiri ijin keluar, tetapi nyatanya pagi hari baru kembali.
Pergi kemana dia?!
__ADS_1