
" Serius lo!" Aris terkejut dengan pemberitahuan Ayu.
Aris adalah salah satu sahabat Ayu dari jaman SMA sampai sekarang. Selain Aris, masih ada Bayu, Noel, Petro juga Sam. Mereka adalah pandawa lima yang selalu setia bergantian mengawal Ayundia selama ini. Maka tak heran jika Ayu belum juga memiliki pacar.
" Emang gue keliatan lagi bercanda?" wajah murung Ayu terlihat jelas.
Aris yang cengengesan langsung berubah serius.
" Gue kira bercanda. Jugaan sekarang jaman apa, kok orang tua lu masih main jodo-jodoan? Apa mungkin karena mereka ragu ma anak gadisnya ya?"
Buk!
" Auhhh...." Aris meringis merasakan nyeri di lengannya akibat ditimpuk oleh Ayu pakai centong. Mereka lagi ngumpul di warung milik Sam.
" Maksud lu apa?" mata Ayu melotot. Tangannya mengangkat centong yang tadi untuk memukul Aris.
" Macan lagi marah jangan diganggu Ar." Bayu datang-datang langsung menyela, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Ayu.
" Napa sih say... Kok sensi amat?" tanya Bayu saat melihat wajah Ayu yang ditekuk.
" Dia dijodohin ma Emaknya." Aris yang menjawab mewakili Ayu.
" Serius lu Yu? Sama siapa? Ganteng gak? Kaya gak?"
Ayu kini bergantian melotot ke arah Bayu.
" Tanya doang, jangan marah." Bayu meringis sambil menunjukkan dua jari pertanda perdamaian.
" Kalau ganteng dan kaya, gue ikhlas. Tapi kalau cuma kuli kayak gue, mending kawin ma gue aja. Mau gak?"
__ADS_1
" Kalau urusan setia, gue bisa jamin. Tapi kalau nafkah, insya Allah gue coba penuhin." celoteh Bayu.
" Nyaca Bay!" Sam meraup wajah Bayu, membuat Bayu langsung mengelap wajahnya. Pasalnya tangan Sam basah habis cuci piring.
" Sial lu Sam! Tangan lu bau trasi." umpat Bayu.
" Rasain! Makanya jadi orang ngaca dulu. Masa iya, bidadari kita mau dikawinin ma manusia monyet mirip lu! Gue yang gak ikhlas." Sam berkacak pinggang.
" Kalau gue, gimana?" Petro muncul, turun dari Honda jazz miliknya, ralat milik kakaknya.
Diantara mereka emang Petro yang lumayan punya. Orang tuanya maksudnya. Karena Petro sendiri sekarang masih merintis toko onderdil motor.
" Lu mah, gaya keren hasil nebeng." Bayu terkekeh.
" Noel mana?" tanya Ayu pada Petro.
" Lagi nganter Emaknya kondangan." jawab Petro sambil duduk di dekat Bayu.
Mereka sering ngumpul di warung nasi milik Sam. Sekedar ngumpul sambil bantu-bantu.
" Kasih pendapat dong! Gimana menurut kalian?" Ayu menatap satu-satu diantar empat orang yang duduk bersama dirinya.
" Gue gak bisa kasih solusi Ay, lu tau sendiri kalau lu hidup ma tuh orang pasti bakalan enak. Kajaminlah idup lu. Apalagi titel tuh orang dokter. Kayak kata orang tua lu."
Ayu terdiam.
" Tapi gue ogah dijodohin." Ayu menunduk sambil memainkan centong di tangannya.
" Kalau enggak lu milih diantara kita berlima, gimana?" celetuk Noel yang baru datang.
__ADS_1
" Tapi gue gak cinta mau lu orang." jawab Ayu dengan santainya.
Mereka berlima saling pandang.
" Duduk sini El." Bayu menepuk tempat disebelahnya agar Noel duduk, pasalnya dia datang malah berdiri kayak patung pancoran.
Noel patuh, dia segera duduk.
" Gini aja... Gimana kalau lu bilang sama orang tua lu, kalau lu udah punya pacar?" kata Sam.
" Bo'ong maksud lu? Ogah! Gini-gini gue masih anak yang berbakti." tolak Ayu.
" Ya gak bo'onglah Yu." ucap Sam.
" Maksud lu?" tanya Ayu.
" Lu Mau gak jadi pacar gue. Dengan begitu lu jadi punya pacar kan?"
Buk... Buk... Buk...
" Ngaca Bro... Ngaca...!"
" Langkahi dulu mayat gue!"
" Becanda dipikir dulu!"
Bayu, Petro, Noel dan Aris seketika menyerang Sam bersamaan.
Ayu terkekeh melihat mereka saling menyerang. Walaupun sebenarnya hanya dalam konteks bercanda. Namun Ayu sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Walaupun tidak kaya, tetapi selalu menjunjung rasa kekeluargaan.
__ADS_1