Bukan Terminal

Bukan Terminal
Bisakah Kita Bertemu?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke Jogja, Abbas tak henti berpikir tentang keberadaan Vony di rumah sakit tadi.


Apa mungkin Ayu juga bekerja disana?


Mereka kan sahabat?


Jika memang iya, harus bagaimana aku jika nanti bertemu dengan Ayu?


Abbas mulai bergumul dalam batinnya.


Nada dering ponselnya membuat perhatiannya terbagi, diraihnya hp yang berada di dashboard mobilnya.


Nama Ayu tertera disana membuat alisnya berkerut sekaligus terkejut.


Abbas mencari tempat untuk berhenti agar tidak menganggu pejalan lain, walaupun dia di dalam mobil, tetapi bertelepon sambil berkendara itu jelas berbahaya.


" Halo." Abbas segera menyahut.


" Bisakah kita bertemu? Saya rasa kita harus menyelesaikan masalah ini depan orang tua kita?"


Abbas terdiam. Dia akhir-akhir ini sedang berpikir bagaimana caranya menghadapi orang tuanya, tetapi Ayu kini malah memberikan solusinya.


" Apa kamu sudah sembuh?" malah pertanyaan melenceng itu yang keluar dari mulut Abbas, seketika diseberang sana menjadi sunyi.


" Maksudku, apa kamu waktu itu sakit? Kenapa tidak memberitahuku?" ralat Abbas, dia tahu pertanyaan itu sudah tidak berlaku bagi Ayu sebab kejadian itu sudah sebulan yang lalu.


" Saya baik-baik saja, maka dari itu saya mengajak anda bertemu untuk berbicara mengenai masalah kita. Walaupun diantara kita tidak ada masalah apapun, hanya saja orang tua kita juga berhak tahu tentang itu." ucap Ayu.


" Baiklah..."


" Kapan kita bisa berbicara mengenai ini?" tanya Abbas.


" Vony bilang anda ada di Malang? Jika benar, saya akan datang ke rumah sakit tempat Vony bekerja." ucap Ayu.


Abbas beruntung dirinya kini belum begitu jauh, masih sekitar 10km. Dirinya memutuskan untuk berbalik setelah meminta Ayu menunggu sekitar 1 jam.


Cafe seberang rumah sakit...


Nampak dari jendela kaca seorang gadis yang berpanampilan seperti biasa, rambut panjangnya terikat rapi berbentuk ekor kuda, tanpa riasan dan hanya mengenakan kaos yang terlihat pas di tubuhnya berwarna hitam serta celana dasar berwarna hitam juga.


Sederhana, tetapi bagi Abbas ini luar biasa. Bagaimana tidak, dijaman orang berlomba-lomba mempercantik diri dengan memakai produk skincare, tetapi gadis di depannya ini tak terpengaruh, bahkan sapuan bedak yang digunakan hanyalah bedak bayi serta lipglos yang hanya melembabkan bibir yang memang dari sananya sudah berwarna pink.


Berbeda dengan Iren yang selalu tampil sempurna dengan make up lengkapnya, dengan alasan dia memiliki butik jadi penampilan juga harus menunjang. Semula Abbas berpikir ada benarnya juga. Tapi dihadapkan pada Ayu semua itu tidak ada hubungannya.

__ADS_1


Ayu yang seorang entertain, yang notabenenya harus menjaga kecantikannya kini malah berpempilan begitu sederhana.


Lupa Abbas, Ayu bukan orang yang tampil di atas panggung dengan gaya glamour. Dengan bakat yang dia miliki, penampilan seolah adalah nomor sekian, sebab saat jari-jari tangannya telah menekan tuts piano, maka semua mata akan menyatu dengan telinga untuk mengajak hati menikmati suguhan harmoni yang selaras dan mendebarkan.


" Silahkan duduk."


Lamunan Abbas buyar oleh suara Ayu yang memintanya duduk.


Uluran tangan Ayu disambut dengan keterkejutan Abbas.


Selama ini mereka belum pernah melakukan kontak fisik walaupun hanya sekedar salaman.


Saat ijab kabul pun Ayu tidak mencium tangan Abbas sebab dia sendiri mengacaukan moment itu, dan Abbas sendiri tidak begitu peduli.


Jabatan erat dari tangan Ayu membuat Abbas terlena.


Bukan seperti bersalaman dengan seorang gadis yang ingin menggoda dengan kelemahlembutan kulit sang pemilik, tetapi Ayu menyiratkan kepribadian tegasnya lewat jabatan tangan itu.


Mengapa Abbas bisa menilai Ayu tegas, sebab saat ini Ayu malah berinisiatif untuk membantunya menjelaskan permasalahan yang sejujurnya selalu dia hindari.


" Besok kita ke Jogja, saya juga akan mengabari orang tua saya untuk datang juga."


" Makin cepat selesai makin baik. Saya lega begitupun juga anda Dokter Abbas."


" Jika tidak keberatan, bisakah kita pulang bersama?"


Ayu terdiam mendengar permintaan Abbas. Namun sejurus kemudian dia terkekeh.


" Saya hanya takut di tengah jalan Dokter. Maka dari itu saya akan datang sendiri besok. Dan terima kasih untuk tawarannya."


Abbas tahu Ayu menyindirnya, hanya saja dia tahu diri itu adalah kesalahannya.


" Jangan kawatir, saya akan tepat waktu." ucap Ayu.


" Ya." suara Abbas terdengar berat.


" Kalau begitu sampai bertemu besok." Ayu kembali mengulurkan tangan sebelum berpamitan, dan Abbas mau tak mau membalas jabatan tangan Ayu yang seolah menertawakan dirinya yang tak bisa mengambil keputusan sendiri atas masalah itu.


Abbas menatap punggung ramping yang semakin lama menjauh dari hadapannya, namun dia sempat melempar pandangan ke arah lain saat di depan kasir Ayu menoleh ke arahnya, tepatnya ke meja yang saat ini masih di tempatinya. Tak ingin ketahuan Ayu jika dia terus memperhatikan.


Setelah Ayu keluar dari cafe pun, Abbas masih menatap sosok yang kini menghilang bersama mobil sport yang tadi parkir di samping mobilnya. Penasaran, Abbas langsung keluar dari cafe.


Dia mengikuti mobil yang membawa Ayu, beruntung jalanan lengang , jadi dia masih bisa memperpendek jarak yang tadi cukup jauh.

__ADS_1


" Dengan siapa dia?"


Mobil yang ditumpangi Ayu berhenti di sebuah gedung yang ramai dengan pengunjung, tampaknya akan ada konser musik disana. Abbas sempat mengamati poster besar di dekatnya berhenti, masih dengan mengamati Ayu yang turun bersama dengan pintu kemudi yang terbuka.


Abbas mencoba mengingat siapa pria yang kini berjalan bersama Ayu.


Mmemorinya dipaksa keras berputar balik sampai dia menemukan ingatan di rumah sakit.


Ya Abbas ingat laki-laki itu adalah orang yang sama dengan orang yang mengantarkan Ayu waktu itu.


Penasaran lebih lanjut Abbas mencari tempat parkir.


Di pintu masuk tempat yang dilewati Ayu tadi, dia dihadang oleh petugas.


" Maaf Pak, ini khusus untuk kru. Jika anda ingin masuk, silahkan lewat pintu depan."


Abbas jadi tahu, Ayu akan tampil di gedung itu.


Dia akhirnya berjalan memutar menuju pintu depan gedung. Disana dia lagi-lagi dicegat oleh petugas.


" Maaf Pak, hanya tamu dengan undangan exsklusif yang bisa masuk ke dalam."


Abbas menatap tak percaya, dia menggeleng lemah.


" Ini acara apa ya Pak?" tanya Abbas, dia heran mengapa harus ada undangan untuk masuk ke dalam gedung itu.


" Acara resepsi pernikahan anak Pak Jaya Wangsa."


Mata Abbas mendelik, dia cukup tahu siapa nama orang yang disebutkan oleh petugas itu. Beliau adalah crazy rich yang memiliki kekayaan nomor wahid se-Asia.


" Tapi di luar ada poster konser." tanya Abbas memastikan bahwa acara itu salah.


" Itu untuk minggu depan Pak. Maaf, tamu sudah berdatangan, kalau anda tidak memiliki undangan, sebaiknya silahkan meninggalkan tempat ini."


Abbas akhirnya mundur, dia tahu dia tidak akan bisa masuk ke dalam sana, hingga langkahnya terhenti saat matanya menatap sosok yang kini tengah memakai kebaya berwarna keemasan dengan rambut di cepol dan kini tengah berdiri di samping sebuah mobil menunggu kardus besar bergambar piano yang sedang di turunkan dari dalam mobil box.


" Hati-hati Pak, jangan dibanting." terdengar suara Ayu memberi peringatan pada dua orang yang sedang menurunkan alat yang akan dia gunakan untuk tampil.


Abbas mematung, dia hanya bisa menatap Ayu dari kejauhan hingga Ayu kembali masuk ke dalam gedung.


Ternyata dia tak kalah cantik dari Iren saat berdandan.


Abbas segera sadar dari keterpuakauannya, lalu melangkah meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Mikir apa sih aku?!


__ADS_2