Bukan Terminal

Bukan Terminal
Sakitnya Di Bandingkan


__ADS_3

Abbas hanya menatap tanpa minat isi pesan juga beberapa panggilan dari Iren.


Entah mengapa melihat Ayu dia bisa membandingkan sifat keduanya yang sangat bertolak belakang.


Ayu yang seperti kata orang tuanya, mandiri, sederhana, penurut, tetapi tegas dalam menghadapi masalah. Sedangkan Iren, gadis itu lebih manja dan banyak maunya. Walaupun seorang pria tanpa disangkal suka dengan perempuan manja, diisi lain mereka juga akan membutuhkan perempuan mandiri yang tidak hanya mengandalkan kekuatan dari seorang laki-laki. Dan semua itu ada pada Ayu.


Abbas, aku di kantor posisi


Pesan masuk yang disertai foto tempat Iren berada baru menggerakkan hatinya.


Dia tak bisa membiarkan terjadi sesuatu yang buruk pada Iren. Walaupun dia kini merasa Iren terlalu manja, tapi dia bukan manusia yang tidak punya hati untuk tidak peduli.


Sebulan tanpa Iren membuat mata Abbas terbuka, bahwa dia tidak benar-benar membutuhkan Iren. Nyatanya, dia bisa mengesampingkan gadis itu.


Abbas merasa bersalah sebenarnya telah menghianati gadis itu.


Walaupun sekarang dia sadar Iren tak sesempurna Ayu, tetapi Iren pernah menjadi bagian dari hidupnya yang sempat tak akan pernah terganti.


Abbas bisa menerima Iren apapun kelebihan juga kekurangan gadis itu. Walaupun berkali-kali orang tuanya mengatakan keburukan Iren. Baginya selama Iren tidak mendua, itu tidak akan menjadi soal yang sulit untuknya. Sebab Abbas tidak akan pernah mentolerir ketidaksetiaan. Namun semua itu malah dia yang melakukannya. Dia menikahi Ayu tanpa sepengetahuan Iren. Walaupun hanya pernikahan kilat, tanpa hubungan yang berarti, hanya sekedar menyenangkan hati orang tua. Namun saat ini Abbas merasa tak lebih menjadi seorang penghianat bagi Iren.


Semisal dia mengatakan pada Iren permasalahannya, apakah gadis itu akan memahaminya?


" Abbas, kamu gimana sih. Kasih mobil tapi gak kasih STNK!" Iren yang melihat Abbas muncul di kantor polisi langsung uring-uringan.


" Aku gagal dapet proyek gara-gara kamu. Proyek aku jadinya batal!"


Abbas terdiam. Dia sebenarnya sudah tidak terkejut dengan sikap Iren yang seperti ini. Sebab sudah biasa baginya jika Iren marah padanya. Iren punya emosi yang meledak-ledak. Itu dikarenakan dia punya latar keluarga yang broken.


Iren hidup hanya bersama ibunya. Ayahnya menikah lagi dengan janda kaya.


Kekecewaannya pada Ayahnya membuat Iren menjadi pribadi yang amburadul. Beruntung gadis itu bertemu dengan Abbas.


Kehadiran Abbas sedikit banyak mempengaruhi kehidupan Iren.


Dia yang pembangkang, setidaknya bersama Abbas dia belajar untuk menjadi penurut, walaupun terkadang masih lepas kontrol.


Bersama Abbas dia belajar untuk bisa menjadi gadis yang bisa mengerti keadaan, nyatanya walaupun sebulan Abbas tidak mengubunginya, dia tidak menuntut lebih pada sang pacar, sebab Iren cukup pengertian dengan pekerjaan Abbas yang sibuk juga jarak keduanya yang membuat tidak bisa setiap hari bertemu.


Abbas meluangkan waktu seminggu sekali untuknya saja dia sudah bersyukur, tetapi sebulan tidak datang juga membuat Iren bertanya-tanya, kemana dia? Walaupun Abbas tidak memberi tahu keberadaannya, namun Iren selalu berusaha berpikir positive jika Abbas memang sedang sibuk bekerja.


Namun disaat dia dihadapkan pada masalah, tentu saja dia mengharapkan kehadiran Abbas. Makanya saat Abbas sulit dihubungi, Iren jadi hilang kesabaran.


" Ditelpon gak diangkat, pesan juga gak dibalas!" omel Iren.


" Aku tau kamu sibuk. Kamu punya banyak urusan, tapi bisakah sedikit saja kamu meluangkan waktu disaat aku berteriak-teriak lewat hpmu. Ngomel lewat pesan, tapi gak ada respon juga."


" Kamu kenapa sih berubah? Apa kamu akhirnya juga sadar kalau aku hanya jadi beban buat kamu? Kebukti ya omongan orang tuamu tentang aku. Jadi sekarang kamu mau jauhin aku karena nyatanya aku gak ada baik-baiknya buat kamu?"


Abbas mencoba meredam perasaannya.


" Kita bicara nanti ya. Kita urus dulu mobilnya."


Abbas menggenggam tangan Iren dan membawa gadis yang sedang penuh dengan amarah itu masuk ke dalam.


" Ini surat mobilnya Pak."


Urusan itu segera terselesaikan.


Abbas memberikan STNK yang itu pada Iren.


" Udah gak perlu." tolak Iren.


Iren lantas bergegas pergi mendahului Abbas. Melangkah cepat menuju jalan untuk mencari taksi.


Abbas sangat paham Iren marah. Maka apa yang diberikan sudah pasti tidak akan diterima.

__ADS_1


" Iren tunggu." Abbas mengejar Iren. Dia bahkan menghalangi Iren saat gadis itu akan membuka pintu taksi.


" Aku antar kamu."


Abbas tanpa persetujuan Iren segara mengetuk pintu kemudi untuk membayar kompensasi pada supir taksi.


Setelah itu Abbas menggeret Iren yang tak ingin mengikuti Abbas menuju mobilnya.


" Aku bisa pulang sendiri!" Iren mencoba melepas tangan Abbas.


Abbas merasa Iren kekanak-kanakan. Disaat banyak mata yang melihat, seharusnya Iren tidak melakukan itu.


Kalau dulu dia tidak pernah mempersoalkan Iren yang begitu, tapi kini entah dia merasa kurang nyaman.


" Iren, please!" bentak Abbas.


Iren mematung, seketika dia menyadari perubahan Abbas. Dia merajuk, tapi Abbas malah berteriak padanya. Ini bukan seperti Abbas yang dia kenal.


Tiga tahun menjalin hubungan, baru kali ini Iren mendengar nada tinggi dari seorang Abbas.


Abbas yang langsung sadar dengan tindakannya segara meminta maaf pada Iren.


" Iren, maaf." mohonnya.


" Kamu lagi ada masalah?" Iren dengan tenang bertanya pada Abbas.


Abbas sangat tahu, Iren akan menyadari itu.


" Kita bicara." Iren kini tanpa diminta berjalan lebih dulu menuju mobil milik Abbas.


" Kita bicara disini saja." Iren yang memutuskan.


Abbas terdiam cukup lama. Dia bingung bagaimana mengatakan apa yang sedang dipikirkannya.


" Apa benar ucapanku, kalau kamu mulai sadar kalau aku bukan gadis baik, sama seperti yang orang tuamu katakan?" sindir Iren.


" Bas.... Jawab!" tuntut Iren saat Abbas tak juga kunjung bicara.


" Maafkan aku Iren." lirih Abbas.


Iren tertunduk, sambil meremas jari tangannya yang lentik. Dia sana dia mengusap cincin yang berasal dari Abbas.


" Kamu sekarang sudah bisa melihat mana yang lebih baik kan setelah bertemu gadis itu?"


Ucapan Iren membuat Abbas seketika menoleh ke arah Iren yang kini juga menatapnya.


Mata itu, adalah mata yang selama ini memancarkan cinta untuknya, namun kali ini genangan air yang seakan tak mampu lagi terbendung, seolah mengatakan kalau cinta itu sudah berubah menjadi luka.


" Kamu sudah bisa menilai juga membandingkan sekarang. Kalau aku sangat jauh dari gadis itu. Dia bisa segalanya. Tapi aku hanya bisa menjadi parasit di hidup kamu."


Iren bergerak mulai dari jari, dia melepas cincin. Kemudian dari tangan, dia melepas gelang, kemudian ke leher, dia melepas kalung.


" Aku kira kamu adalah laki-laki loyal yang tidak akan memperhitungkan harta. Yang tidak memandang harta sebagai alasan dalam sebuah hubungan. Tapi dari perubahan mu, aku sekarang paham. Kamu mulai keberatan dengan aku yang seperti ini."


" Ini aku kembalikan. Yang lain akan aku kirim."


Abbas terkejut " Iren?"


" Aku kira kamu akan teguh pada hatimu untuk berjuang bersamaku. Mau menerima apapun aku. Aku yang pesolek, aku yang matre, aku yang manja, aku yang...."


" Syut! Iren... Jangan teruskan!" Abbas terluka dengan ucapan Iren.


" Tapi itu kebenarannya Abbas. Kamu bukan lagi Abbas-ku. Kamu bukan lagi orang yang akan bisa berjuang bersama orang sepertiku." Iren tertunduk sambil mengusap air matanya.


" Aku yang salah, seharusnya aku tidak mencari sosok laki-laki yang mau melakukan apapun untukku. Memberikan dirinya secara utuh hanya untuk membelaku. Mau menerima kekurangan juga kelebihan yang memang tidak aku miliki."

__ADS_1


" Aku sempat berpikir kamu adalah orang yang tepat. Tapi nyatanya saat kamu dihadapkan pada pilihan lain, kamu mudah berbelok, bahkan dengan penuh penyesalan kamu melepaskan dia."


Abbas lagi-lagi terkejut.


" Apa maksudmu Iren?" tanya Abbas.


" Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja jika kamu ingin bersama gadis yang memiliki banyak kelebihan itu, aku juga tidak akan menghalangi."


Abbas makin bingung, cukup lama dia harus mencerna kalimat Iren.


" Dia cantik alami, bisa menghasilkan banyak uang dalam sekejap. Bisa dengan mudah mengambil hati, bahkan hati yang sudah menetap kini juga goyah." sindir Iren.


" Kamu mulai suka sama dia? Sampai kamu mengikuti dia kemarin?"


Abbas terbelalak.


" Jangan terkejut! Biasa aja." Iren tertawa sumbang melihat raut wajah Abbas.


" Kamu tau darimana?"


" Gak penting aku tahu darimana. Yang perlu kamu lakukan sekarang kejar dia kalau emang kamu suka dia." ucap Iren sambil menahan getar di hatinya yang perih.


" Aku cukup sadar diri, aku tak sebanding dengan dia yang memiliki banyak kelebihan."


" Tapi satu pesan aku buat kamu Abbas... Diamnya seorang wanita, bukan berarti dia tidak tahu kebohongan pasangannya."


" Dan juga... Dibandingkan itu sangat menyakitkan!"


" Ini kontak mobil mu. Sesuai ucapanku, aku akan mengirim barang-barang yang kamu kasih besok, kalau telat berarti lusa."


" Jangan begitu Iren... Barang itu aku ikhlas kasih ke kamu." sergah Abbas.


" Kamu tidak menyangkal kalau kamu suka dia kan?" Iren malah berkata hal lain.


" Saya tidak cukup kuat untuk menyimpan kenangan itu Abbas."


" Permisi."


Abbas mematung, sadar dia memang tidak menyangkal semua perkataan Iren. Tapi dia juga tidak menyangka kalau Iren akan meninggalkannya.


Yang membuat Abbas lebih terkejut lagi, Iren bukanlah gadis mata duitan yang manja. Bahkan mirisnya setelah tiga tahun berhubungan, dia baru tahu disaat detik-detik terakhir perpisahan mereka.


Hatinya selama ini meyakini itu, maka dia tidak ingin melepas Iren. Namun kehadiran Ayu menggoyahkan imannya.


Pembandingan yang dia ucapkan antara Ayu dan Iren ternyata malah membuatnya terjebak dalam dilema.


Ayu pergi, Iren pun pergi.


Bahkan kini dia tak punya kemampuan untuk mengejar salah satu diantar mereka. Bahkan Iren yang masih terlihat hanya bisa dia saksikan lewat kejauhan.


Sementara Iren hanya bisa menangis dalam hatinya. Bahkan semakin terguguk saat mendengar lagu seorang pengamen yang lewat di depannya....


Dia berhenti sejenak, sebelum kemudian larut dalam syair lagu itu...


Wong ko ngene kok dibanding-bandingke


Tak oyako aku yo ora mampu


Mung sak kuatku mencintaimu


Kuberharap engkau mengerti


Di hati ini


Cuma ada kamu...

__ADS_1


__ADS_2