
" Yu... Aku berangkat ya." pamit Vony yang sudah mulai masuk kerja di rumah sakit tempat kemarin Ayu dirawat.
" Hati-hati Von." Ayu mengantar Ayu sampai gerbang, karena dia juga harus menutup gerbang setelah Vony pergi diantar ojek online yang sudah menunggu di depan.
Ayu kembali ke dalam. Sementara ini dia belum punya kegiatan. Om Pram melarang Ayu untuk bekerja sampai Ayu pulih. Maka satu-satunya kegiatan Ayu hanyalah beberes rumah ditemani oleh Mbok Sami.
Asik ngepel, hp Ayu berbunyi membuat Ayu meletakkan alat pel dan segera mencari hpnya.
" Dia lagi..."
" Halo." Ayu menjawab dengan nada sedikit malas.
" Kamu dimana?" tanya dokter Abbas.
" Besok Papa pulang dari rumah sakit. Bisakah kamu ada di rumah sebelum Papa tiba?" pinta Abbas.
Tidak!
Ayu sudah bertekad untuk tidak bertemu lagi dengan Abbas setelah apa yang dilakukan Abbas padanya beberapa hari yang lalu.
" Saya sibuk!"
" Demi kesehatan Papa, bisakah kamu...."
" Maaf saya banyak kerjaan." potong Ayu.
Jelas Abbas bingung, biar bagaimanapun ini adalah kesalahannya. Tak memikirkan sampai sejauh ini waktu dia menurunkan Ayu di jalanan. Kejam kah dia?
" Bagaimana aku harus memberi alasan pada Papa saat beliau tanya nanti?"
Begitu hormat dia pada orang tuanya, tau kenapa padaku dia hanya mengaggap seperti sampah yang mudah dibuang?
" Anda lebih pintar berbohong dari saya, jadi saya yakin anda tidak akan kesulitan mencari alasan." jawab Ayu.
" Ayu please!" Abbas memohon.
" Anda selalu memohon saat ditelpon, tapi saat saya berada di dekat anda, hanya kemarahan dan kebencian yang saya dapatkan. Apakah menurut anda saya pantas menerima itu setelah apa yang saya lakukan untuk orang tua anda?" Ayu mengeluarkan isi hatinya.
__ADS_1
Dia merasa sudah cukup memberikan kesempatan pada Abbas. Tetapi Abbas tanpa perasaan malah membuat Ayu seperti tak ada harganya.
Kali ini tekad Ayu sudah bulat, dia tidak akan pernah kembali.
Rasa sakit fisik dan mental yang dia alami kemarin sudah cukup membuktikan bahwa Abbas bukanlah orang yang pantas untuk diperjuangkan.
" Terakhir kita bertemu saya sudah mengatakan bahwa sekali saya pergi, tak akan ada cela untuk kembali. Dokter Abbas, maaf kali ini saya tidak bisa lagi membantu anda."
" Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."
" Tapi kita sudah menikah..." sanggah Abbas, walaupun Abbas sendiri sangat tidak bisa menerima pernikahan itu.
" Pernikahan itu tidak berkuatan sama sekali. Bahkan kertas putih saja belum ternoda oleh hitamnya tinta."
" Jadi kita tidak perlu repot untuk masalah itu."
" Berjuanglah dengan orang yang pantas anda ajak berjuang. Saya yakin kekasih anda akan sangat bersedia berjuang demi restu orang tua anda." ucap Ayu dengan sok bijaknya.
" Saya tahu, tapi orang tua saya cuma mau kamu." ucap Abbas.
" Tidak ada gunanya Dokter, yang menikah itu bukan mereka tapi saya dengan anda. Kalau anda memang tidak mau menikah dengan saya. Saran saya jujur saja pada mereka. Saya yakin mereka akan mengerti."
" Bagaimana jika kejujuran saya, akan membuat Papa saya kembali drop?" Abbas mengatakan ketakukannya.
" Katakan saja keburukan saya yang menghilang tanpa kabar. Saya yakin mereka akan mempercayai anda, dan dengan mudah percaya bahwa saya menantu yang sangat buruk. Jangan lupa tambai dengan bumbu yang membuat mereka bisa membenci saya. Sehingga mereka akan menyesal telah menjodohkan kita. Mudahkan?" ucap Ayu dengan santainya.
" Tak bisakah kamu pulang, kita bicarakan ini jika kamu memang ingin menolak." pinta Abbas.
" Saya tidak bisa! Kesempatan itu sudah saya berikan, tapi anda tidak bisa menggunakannya dengan baik."
" Jangan lupa dokter Abbas, saya adalah perempuan. Walaupun bagi anda saya tidak punya perasaan, tapi mungkin bagi orang lain saya berharga. Jadi lebih baik kita jangan membuang waktu untuk hal yang sia-sia."
" Saya tidak ingin menjadi benalu yang mencari keuntungan disaat anda sedang berjuang mendapatkan restu dari orang tua anda untuk hubungan anda dengan kekasih anda. Karena saya rasa yang patut anda perjuangkan itu bukan kebohongan tentang anda ke saya. Tapi kenyataan anda dengan Mbak Iren." ucap Ayu.
" Kamu tau Iren?" Abbas nampak terkejut.
" Saya tahu semua tentang kalian. Maka dari itu, tolong jangan membuat saya menjadi penjahat untuk dia juga orang tua anda." Ayu kini mencoba tegas.
__ADS_1
" Maaf saya banyak kerjaan, saya harap ini adalah terakhir kalinya kita bicara."
" Jika anda tidak keberatan, tolong talak saya sekarang juga!" pinta Ayu.
Abbas kini menyerah, tak bisa lagi membujuk Ayu. Dia cukup sadar bahwa tak seharusnya dia menyeret Ayu dalam masalahnya hanya karena kebetulan Ayu hadir karena orang tuanya. Dia juga sadar bahwa Ayu juga bukan orang yang seharusnya ikut menanggung kewajiban yang harus dia lakukan demi baktinya pada orang tua. Jadi kini hanya dengan menalak Ayu, maka dia bisa melepas Ayu dari masalah yang seharusnya dia selesaikan sendiri.
Jujur....
Mungkin itu lebih baik, sebab kebohongan itu hanya akan membuatnya semakin membenci Ayu yang memang tak bersalah sama sekali.
" Ayundia Salim, mulai saat ini kamu aku talak."
" Terima kasih."
Ayu akhirnya bernafas lega.. Kini dia benar-benar lepas dari bebannya. Untuk urusan orang tuanya, dia akan membicarakan nanti. Walaupun dia harus egois, tapi dia yakin ini yang terbaik daripada harus berbohong.
Abbas kini diam merenung di depan pintu rumah yang pintunya sedang diotak-atik oleh tukang guna mengganti kunci.
Dia merasa bingung bagaimana harus menjelaskan pada orang tuanya.
Jika dia jujur, akankah mereka bisa menerima.
Tetapi jika dia tidak bicara, itu sama saja akan membuat masalah semakin panjang. Terlebih lagi dia tak ingin melibatkan Ayu lebih jauh lagi.
Ini adalah keinginannya dari awal ketika dia dijodohkan. Seharusnya dia memang jujur, bukan malah membuat semuanya menjadi bomerang.
Mengapa bomerang, sebab sekarang dia berada dipilihan yang sulit.
Jika dia jujur, maka kesehatan Papanya menjadi taruhannya. Namun jika dia berbohong seperti yang disarankan Ayu, itu sama saja dengan berlindung dibalik fitnah yang cepat atau lambat akan terbongkar juga.
" Mas..." suara tukang menyadarkan Abbas dari lamunannya.
" Sudah selesai... Ini kuncinya."
Abbas menerima kunci yang diberikan pekerja itu lalu membayar ongkos.
" Selebihnya ambil aja Mas." ucap Abbas pada orang itu yang mengucapkan terima kasih juga mendoakannya.
__ADS_1
" Terima kasih Mas, moga Mas nya dapat rejeki melimpah, panjang umur dan dimudahkan segala urusannya."
" Aminnnn." Abbas ikut mengaminkan doa dari tukang bangunan tersebut.