Bukan Terminal

Bukan Terminal
Ayu Bertemu Iren


__ADS_3

Tangan lentik itu dengan lihai mengetuk tuts piano, menciptakan melodi indah mengiringi suara merdu sang biduan, memberikan warna bagi penikmat indahnya seni dalam nuansa pesta yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan.


Ayu dengan penampilan semi tomboynya karena mengenakan stelan blazer berwarna hitam dipadukan dengan celana panjang yang menjuntai sampai mata kaki, nampak menawan. Rambutnya diikat seperti biasa, ekor kuda, tapi riasan wajah yang berwarna mencolok membuat kesan tajam di wajahnya yang memang sudah ayu.


Sampai beberapa lagu dimainkan Ayu tetap berada dibarisan para pemain musik, tetapi saat jeda dia harus berganti pakaian dengan nuansa anggun. Gaun panjang tanpa lengan berwarna putih kini sudah melekat ditubuhnya, riasan dengan cepat diganti oleh tim MUA, begitu juga dengan pernak-pernik yang seharusnya melengkapi kini sudah siap.


Ayu harus tampil solo dengan musik klasiknya.


Acara dansa adalah salah satu acara yang dikemas dalam pesta itu.


Di ruang ganti, seorang gadis sibuk menyiapkan beberapa busana untuk artis yang akan tampil selanjutnya.


Tangan lentik itu terkadang harus gesit memainkan jarum untuk mengepaskan ukuran busana yang terkadang memerlukan sedikit renovasi.


Sambil bekerja, telinganya kadang berkonsentrasi pada musik yang sedang dimainkan.


Tak dipungkiri, kadang dibalik kesibukan dia juga butuh hiburan.


Suasana di balik panggung sungguh sibuk, bahkan bagi seorang Ayu yang harus bergonta-ganti pakaian sampai tak sempat untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya, begitu juga untuk penata busana. Mereka harus sigap membantu artis untuk berganti hanya dalam hitungan menit.


" Ayu kesana, minta busana untuk acara selanjutnya." Lia mengkomando.


Ayu segera masuk ruang ganti, disana sudah siap team yang khusus membantunya.


Ayu segera mengenakan kostum yang disiapkan.


" Tolong tangannya coba diangkat sedikit Mbak." pinta seseorang yang membantu Ayu.


Ayu melakukan apa yang diminta " perutnya agak sesak Mbak." ucap Ayu.


" Bahannya akan menyesuaikan tubuh Mbak, nanti saat sudah selesai dipakai akan terasa." Iren mencoba untuk membedah sedikit bagian samping agar Ayu bisa merasa nyaman.


" Bagimana?" tanya Iren.


Ayu mencoba untuk beradaptasi, sebelum akhirnya mengangguk.


" Sudah ok, terima kasih." Ayu segera beralih ke MUA di setelahnya.


" Itu make up nya pakai yang soft aja ya Ning, diseusaikan sama warna kostumnya." Iren mengkomando lagi.


Iren juga Ayu kini berada di tempat dan ruang yang sama, namun mereka belum menyadari satu sama lain.


Kesibukan yang mereka jalani membuat mereka hanya fokus pada apa yang seharusnya dilakukan. Karena mereka kini berhadapan dengan sebuah perusahaan yang akan membawa mereka pada keberhasilan jika mereka berhasil untuk pesta kali ini.


Ayu sebagai bintang tamu, sedangkan Iren sebagai penata busana. Mereka sedang bertaruh disini.


Jika Ayu mungkin tidak terlalu kesulitan dengan musiknya sebab dia memang ahlinya, tetapi Iren dia harus berusaha sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik sebab baru kali ini dia mendapat job untuk pesta besar yang melayani artis-artis ibukota.


Dia harus bekerja extra agar karyanya bisa dipamerkan dalam tubuh artis yang saat ini sedang tampil, salah satunya adalah Ayu.

__ADS_1


Seringnya tampil solo atau mengiringi secara pribadi di atas panggung membuat Ayu juga harus tampil layaknya artis. Seperti sekarang ini, walaupun dia hanya bermain piano tetapi dengan penampilan yang disesuaikan dengan musik yang dia bawakan, semuanya nampak sempurna.


" Terima kasih kerja samanya." Ayu menyalami para kru.


" Sama-sama." para kru satu persatu bergantian bersalaman.


Namun Ayu punya tujuan lain saat ini, dia ingin menemui perancang busana yang membuat busana yang saat ini masih melekat padanya. Dia ingin membeli pakaian itu, karena dia merasa nyaman.


" Bisa bertemu yang bikin gaun ini?" tanya Ayu pada salah satu kru.


Kebetulan kru itu adalah Rasti, teman Iren.


" Itu Mbak orangnya yang sedang beres-beres." tunjuk Rasti.


Ayu melangkah menuju Iren yang sedang memasukkan baju-baju ke dalam koper.


" Mbak... Mbak yang buat gaun ini ya?" tangan Ayu menjulur untuk menyentuh bahu Iren yang sedang fokus pada kopernya.


Iren yang merasa punggungnya disentuh segera menoleh. Tatapannya terpaku pada sosok di depannya ini. Ingatannya kembali pada video yang dikirimkan padanya beberapa waktu lalu.


Gadis ini?


Tetapi Iren segera sadar.


" Iya saya, ada apa ya?" dengan sopan Iren menjawab. Dia berusaha untuk terlihat biasa saja pada gadis di depannya ini.


" Saya Ayu." Ayu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


" Iren."


Ayu sekilas terdiam mendengar nama yang disebutkan itu.


Kenapa namanya sama seperti pacarnya Abbas?


Ya, walaupun Ayu tahu Abbas punya pacar bernama Iren, tetapi dia belum pernah melihat wajah Iren. Berbeda dengan Iren yang sudah pernah melihat Ayu lewat hp.


Ayu segera menepis prasangkanya kemudian melanjutkan tujuannya menemui Iren.


" Saya suka gaun ini."


" Nyaman dipakai, modelnya juga bagus."


Iren mencoba tersenyum, Ayu adalah kliennya saat ini. Jadi dia harus mengesampingkan masalah pribadinya.


" Saya mau pesan kebaya, bisa?" tanya Ayu.


" Untuk kapan ya Mbak?" tanya Iren.


" Waktunya sebulan dari sekarang."

__ADS_1


" Untuk acara?"


" Pertunangan."


Deg!


Jantung Iren seakan berhenti berdetak, dia merasakan seolah dipukul bertubi-tubi.


Apa Abbas kembali pada gadis ini setelah putus denganku?


Namun detik berikutnya Iren terkejut karena Ayu menyentuhnya.


" Mbak kenapa?" tanya Ayu yang memperhatikan perubahan pada raut wajah Iren.


Namun belum sempat Iren menjawab seseorang datang ke arah mereka.


" Belum selesai?"


" Udah, tapi ini masih ngobrol sama yang buat gaun ini. Rencaranya buat acara bulan depan aku mau minta Mbak Iren buat bikinin kebayanya."


" Bikinan dia enak dipakai, nyaman juga. Terus kainnya adem dikulit." Ayu berpromosi.


" Apa Kak Abi sekalian mau pesen, terus disamaian aja warna sama coraknya."


" Kalau untuk tunangan bisa, tapi kalau buat nikahnya pakai seragam."


" Jadi gimana?"


" Ya udah pesan aja sekalian, mumpung ketemu."


Iren yang mendengar percakapan keduanya sedikit lega, Ayu bukan bertunangan dengan Abbas. Lalu bagaimana dengan Abbas sekarang? Pertanyaan itu melintas dipikiran Iren.


" Minta alamat butiknya dong Mbak." pinta Ayu.


" Oh ya, sebentar." Iren segera melangkah mencari tasnya. Lalu mengeluarkan kartu dari dalam sana.


" Ini alamat butik saya. Telpon aja kalau mau datang, biar saya bisa meluangkan waktu."


Ayu menerima kartu dari tangan Iren, membacanya sekilas lalu memberikan pada Abi.


Ya... Kini Ayu bersama Abi. Setelah permasalahan Ayu dan Abbas selesai, Abi memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Ayu.


Ayu sendiri tak menyangka, ternyata perasaannya dulu juga bersambut. Abbas dari dulu menyukainya. Apalagi saat tahu ternyata Abbas mendekati Om Pram itu juga karena Ayu. Maka Om Pram tak ragu untuk mempercayakan Ayu pada Abimanyu yang notabennya adalah sepupunya Lia.


Kini mereka memutuskan untuk bertunangan dulu, sebab Abimanyu akan melakukan pendidikan setelahnya. Baru setelah pulang dari pendidikan mereka akan melangsungkan pernikahan.


Iren seolah tak percaya melihat gadis yang nampak bahagia bergandengan dengan pria itu berjalan menjauh darinya.


Lantas bagaimana dengan Abbas?!

__ADS_1


__ADS_2