Bukan Terminal

Bukan Terminal
Sakit...


__ADS_3

Pagi tiba....


Suara riuh di dalam ruangan membuat Ayu harus membuka matanya.


Butuh waktu baginya untuk mengumpulkan kesadarannya, walaupun dia hanya tidur sambil duduk bersender di kursi tunggu, tetapi karena dari kemarin dia tidak istirahat, dia akhirnya memilih menggunakan kesempatan malam yang pendeknya hanya 4 jam itu untuk tidur sejenak. Karena Ibu dan Ayahnya sudah pulang bersama Petro, Abbas juga pergi, sedangkan ibu mertuanya menunggui yang sakit di dalam. Dia akhirnya tertidur di kursi tunggu bersama beberapa keluarga pasien yang lain.


Ayu sejenak hanya memperhatikan petugas yang lalu lalang keluar masuk ke ruangan mertuanya. Bahkan saat Mama mertuanya keluar, dia hanya bisa bertanya lewat pandangan matanya.


" Papamu drop." jawab Bu Murni.


" Dimana Abbas?"


Ayu baru akan menjawab, yang dicari muncul sudah dengan penampilan berbeda, lebih rapi karena sudah berganti pakaian dan dari raut wajahnya, sepertinya dia tidur dengan nyenyak semalam.


" Abbas disini Ma."


Pahlawan kesiangannya muncul.


Sinis Ayu dalam hati, sembari membetulkan ikatan rambutnya.


" Papa ngedrop." ucap Bu Murni penuh kepanikan.


Abbas segera ikut masuk ke dalam, sementara Bu Murni kini menunggu di luar bersama Ayu.


" Padahal semalam Papa gak ada masalah apa-apa. Tapi pagi ini habis Mama subuhan, nafasnya sesak." tutur Bu Murni.


" Yang sabar Ma... Mudah-mudahan Papa tidak kenapa-napa." hibur Ayu. Bu Murni mengangguk. Lalu mengambil tempat duduk di samping Ayu. Meraka kini lebih banyak diam.


Bu Murni sibuk dengan rasa cemasnya, sedangkan Ayu sibuk dengan perutnya yang kini terasa melilit.

__ADS_1


Semalem lupa makan, pasti mag ku kumat nih.


Ayu memilih tetap di tempat, walaupun perutnya terasa sakit. Ingin pergi tetapi dengan situasi seperti itu dia lebih tidak enak hati untuk meninggalkan tempat itu. Dan akhirnya Ayu memilih untuk diam tanpa ekspresi agar rasa sakit tak terlalu terasa.


Beruntung tak lama kemudian pintu terbuka. Bu Murni segera menghampiri dokter yang keluar itu, dan kesempatan itu digunakan Ayu untuk menekan perutnya sendiri.


Bu Murni bernafas lega, suaminya ternyata bisa melewati masa kritisnya.


Sementara Ayu segera berpamitan, dia berjalan menuju klinik rawat jalan.


" Ada yang bisa dibantu Mbak." tanya petugas.


Ayu menjawab dengan mengatakan kepergiannya, sehingga petugas itu paham dan langsung mengarahkannya ke dalam.


" Asam lambung meningkat, sebaiknya jangan telat makan. Kurangi makan pedas, asem, dan yang paling penting istirahat yang cukup." saran dokter setelah memeriksa Ayu.


Beruntung Ayu segera mendapat obat dan meminumnya sehingga nyeri ulu hatinya kini agak berkurang.


Ayu menurut, hampir dua jam dia beristirahat. Kini perutnya sudah terasa ringan, dan dokter sudah memperbolehkan Ayu untuk pergi.


" Darimana?" suara ketus langsung menyapa Ayu saat Ayu kembali ke depan ruangan Pak Nugraha.


Ayu hanya diam, memilih menyimpan tenaga yang masih tersisa dari pada berdebat dengan manusia berstatus suaminya itu.


Boro-boro bertanya ' sudah makan belum' tetapi malah ditanya 'darimana' itupun dengan nada ketus, membuat Ayu semakin nelangsa jiwa dan raga.


Jiwa sakit, raga juga.


" Saya tanya, darimana?" ulang Abbas dengan nada sedikit naik.

__ADS_1


Tetapi Ayu masih tetap diam.


" Hei!"


" Anda tanya sama siapa?" Ayu bertanya seolah dia tidak merasa Abbas bicara dengannya.


" Kamu."


" Saya punya nama."


Abbas kesal, " Ayu kamu darimana?" Abbas mencoba menekan rasa kesalnya akibat Ayu.


" Dari klinik."


" Ngapain?"


" Berobat."


" Siapa?"


" Apa?"


" Yang sakit siapa?"


" Saya."


" Sakit apa?"


" Sakit hati!"

__ADS_1


Ayu memilih pergi, karena berbicara dengan Abbas, nyeri perutnya kini terasa lagi.


Abbas tak bergeming, padahal Ayu berharap Abbas ada empati sedikit saat dirinya sedang sakit. Tetapi emang manusia tidak berhati yang malah memilih duduk sambil memeriksa hp. Dan itulah yang dilihat Ayu saat Ayu menoleh ke belakang.


__ADS_2