Bukan Terminal

Bukan Terminal
Menunggu Positif


__ADS_3

" Saya turun disini saja." ucap Ayu pada Abimanyu saat mereka sampai diperempatan besar arah rumah Ayu.


" Ini malam, masih agak jauh kan? Gak baik menurunkan gadis di tengah jalan." ucap Abimanyu sambil menyertakan sedikit senyum, yang mengutamakan Ayu meleleh, hanya saja seorang Ayu itu pandai menyimpan perasaan, sehingga yang keluar hanya anggukan dan ucapan Terima kasih.


" Belok kanan atau kiri?" tanya Abimanyu saat sampai di persimpangan.


" Kiri." jawab Ayu.


" Berarti belum pindah ya."


" HAH! Apa?" Ayu agak terkejut, bagaimana bisa Abimanyu tau rumahnya.


" Belum pindah kan? Masih dekat pasar Gede." ucap Abimanyu.


Ayu makin heran mengapa Abimanyu tahu letak rumahnya. Abi melirik Ayu yang terlihat terkejut.


" Dulu gak sengaja pas lewat, kamu ada di depan rumah." jelas Abimanyu.


" Kapan?" tanya Ayu.


" Dulu waktu kamu pulang ekskul."


" Ya ampun... Kok masih ingat?" tanya Ayu. Tetapi Abimanyu hanya tersenyum, lalu fokus masuk ke gerbang rumah Ayu.


" Sudah sampai."


Ayu mengangguk " mampir?"


" Terima kasih. Lain kali aja." ucap Abimanyu.


Ayu melepas seatbeltnya, lalu turun.


" Terima kasih Kak, udah nganterin." ucap Ayu sebelum benar-benar turun dari mobil.


" Sama-sama."


" Langsung ya."


" Ok." yay mengangguk, berdiri menunggu sebentar sampai mobil Abimanyu keluar dari gerbang rumahnya.


Tinnn....


Ayu melambai, membalas lambaian Abimanyu yang segera melaju setelahnya.


Ayu menghela nafas.


*Seandainya dia menjadi milikku, batapa bahagiannya...

__ADS_1


Udah ganteng, bertanggung jawab pula... Gak kayak dokter menyebalkan yang bisanya cuma bikin naik darah*!


Ayu berbalik akan masuk rumah, tetapi dia terkejut Ibunya ada di pintu.


" Kok bukan nak Abbas yang nganterin? Apa gak mampir ke rumah sakit?" tanya Ibu Isty.


Seandainya Ibu tahu kelakuan dia, mungkin Ibu akan langsung membatalkan perjodohan ini. Tapi buat apa bilang, kalau tidak melihat sendiri, pasti Ibu gak percaya. Sama aja ngomong sama angin.


" Ayu kesana sebentar."


" Dia nemenin Mamanya, jadi Ayu pulang dianter orang suruhan Om Pram." jelas Ayu.


Ayu melangkah masuk. Mendekati Ibunya.


" Buk, Ayu langsung berangkat ya." pamit Ayu. Mengambil tangan Ibunya lalu mencium takzim.


" Kamu mau kemana lagi? Ini udah malam lho." ucap Ibu Isty keheranan.


" Besok aja Yu berangkatnya. Benar kata Ibunya, ini sudah malam." ucap Ayah yang muncul dari dalam.


" Besok Ayu harus kerja Yah, jadi harus pulang malam ini juga." ucap Ayu.


" Dianter sama Petro kok. Ayah sama Ibu jangan kawatir."


Baru selesai bicara ada mobil yang datang. Tapi bukan mobil Petro tapi itu adalah mobil Abimanyu.


Ketiga orang itu terpaku, menunggu orang yang turun dari mobil.


" Tas mu." Abimanyu mengulurkan tas milik Ayu.


" Oh ya ampun, aku lupa. Makasih ya."


" Sama-sama."


Abi beralih ke Ibu dan Ayahnya Ayu.


" Mari Bu, Pak." pamit Abi seraya menunduk sopan.


" Terima kasih ya, sudah mengantar Ayu." ucap Bu Isty.


" Sama-sama. Mari."


" Ya, hati-hati." ucap Bu Isty.


Abimanyu masuk kembali ke mobil. Kemudian mengklakson sebelum akhirnya melaju di jalanan.


" Ayu juga pamit Buk, Yah." Ayu pamitan lagi, karena mobil Petro sudah datang, tetapi tidak masuk, hanya Petro yang turun.

__ADS_1


" Bude, Pakde... Jalan dulu ya." pamit Petro.


Akhirnya Ayah dan Ibunya Ayu hanya bisa merelakam Ayu pergi.


" Apa anak itu gak capek ya Yah." Ibu Isty menghela nafas sambil menggeleng.


" Kok gak hapal watak anakmu to Buk.... Wes, ayo masok." ajak Ayah melangkah lebih dulu.


Sedang Ibu Isty mengikuti di belakang, tetapi ketika mendengar dering telpon dari dalam rumah, Bu Isty segera berlari mendahului suaminya.


Segera Bu Isty mengangkat panggilan yang ternyata dari Bu Murni.


" Ya Mur..."


" ........."


" Kami segara kesana."


" YAHHHH." Bu Isty berteriak memanggil suaminya yang berada tak jauh, sehingga suaminya terkejut karena suara istrinya yang keras.


" Ono opo to Buk, kok teriak-teriak?" tanya Ayah dengan wajah heran bercampur bingung.


" Nug...."


" Kenapa dengan Nug?" Ayah kini makin bingung nampak dari wajahnya yang berubah langsung penuh dengan kekawatiran.


" Kita ke Jogja Buk."


" Telpon si Ayu, jangan lupa!" Pak Salim seolah tahu telah terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Sehingga dia memutuskan berangkat ke Jogja malam itu juga.


Sedangkan Ayu yang mendapat kabar dari Ibunya hanya bisa menghela nafas beratnya.


" Kenapa Yu?" tanya Petro. Mereka masih dalam perjalanan.


" Puter balik Pet. Kita ke Jogja." ucap Ayu.


" Kenopo? Eneng opo?" Petro jadi bingung.


" Bapaknya si Abbas kritis."


Petro " weleh!"


" Dadi puter balek ki?" Tanya Petro sambil melihat Ayu. Anggukan dari Ayu membuat Petro memutar balik kendaraan.


" Kenopo gak nunggu positif'e wae." ucap Petro.


" Maksudmu?" tanya Ayu yang tak paham maksud Petro.

__ADS_1


" Positif ko' id." celetuk Petro dengan nada santai.


" His! Lam be mu!" Ayu langsung memukul lengan Petro.


__ADS_2