
Sebulan berlalu...
Ayu menerima gaji pertamanya di klinik itu.
" Barapa gajimu?" Bukannya tidak tau sopan santun, Vony menanyakan gaji Ayu. Tetapi cenderung ke perasaan tidak enak kepada Ayu, secara Ayu adalah seorang sarjana. Memiliki pendapatan yang dibilang lebih dari cukup. Bahkan sekali tampil saja gaji Ayu bisa melebihi gajinya sebulan.
" 800 ribu." Vony membaca selip gaji milik Ayu.
" Pulang aja deh kamu Yu... Aku gak enak sama kamu." ucap Vony.
" Aku gak butuh gajinya, tapi cuma butuh tempat sama kegiatan Von." Ayu mencoba membuat Vony merasa tak bersalah, toh ini juga bukan salahnya Vony.
Ting
Suara pesan masuk ke hp Ayu.
" Lihat... Tanpa kerja, aku masih dapet duit." Ayu memperlihatkan pesan yang baru masuk ke hpnya yang ternyata dari bank. Dia mendapat bagian dari tempat les piano miliknya yang sekarang dikelola oleh anak buah Om Pram.
Vony terbelalak melihat nominal yang tertera di pesan itu " gila, segitu pendapatanmu sebulan Yu?" Vony terkejut.
Jelas Vony terkejut dengan nominal yang memiliki angka 0 berjumlah 7 angka, apalagi dengan angka yang tertera di depannya.
" Hitung-hitung aku cari pengalaman disini Von." ucap Ayu.
" Sebulan disini, aku jadi tau cara mandiin bayi. Terus jadi tau gimana cara dampingi Ibu mau lahiran. Belum lagi jadi tau kalau orang sakit apa itu, obatnya apa. Itung-itung buat persiapan kalau nanti jadi nikah." lanjutnya.
" Kamu beneran mau nikah sama orang yang gak kamu kenal?" tanya Vony.
" Gak ngerti, belum tau." Ayu menjawab dengan mengedikkan bahunya.
" Siapa tahu setelah setahun, Ibu sama Ayah berubah pikiran." katanya kemudian.
__ADS_1
" Kamu gak coba cari tau dulu siapa calon suamimu itu Yu? Siapa tau kamu kenal... Ehh, akhirnya cocok." saran Vony.
" Buat apa cari tau Von. Ayah sama Ibu bilang kalau dia suami idaman, jadi anggap aja orang itu emang udah sempurna kayak yang mereka bilang. Jadi pasrah ajalah. Toh mau nolak juga udah gak bisa. Mereka udah terlalu yakin sama pilihan mereka." ucap Ayu, ada nada keputusasaan dari kalimat yang dia ucapkan, dan itu membuat Vony merasa trenyuh.
" Yang sabar ya Yu." Vony mengelus pundak Ayu.
" Aku jadi orang emang sabar kok Vony, kalau gak sabar, aku pasti udah kabur dari kemaren."
" Lah... Bukannya sekarang kamu emang lagi kabur?" sahut Vony.
" Iyaaaa..... Kabur dari kenyataan!"
" Hahhahaha." mereka tergelak bersama, menertawakan penderitaan Ayu.
Sementara itu di kediaman keluarga Nugraha...
Sudah jadi kebiasaan Abbas pulang ke rumah orang tuanya di Jogja, dan sekarang adalah kesempatannya pulang akhir weekend.
" Papa kabari dulu si Salim, takutnya dia gak di rumah." jawab Pak Nugraha.
Abbas hanya diam tak menyahut obrolan kedua orang tuanya. Dia asik berkirim pesan dengan Iren, kekasihnya.
" Abbas, kamu ikut ya. Sekalian kenalan." ajakkan Mamanya membuat Abbas mengalihkan pandangannya dari hp di tangannya.
" Papa sama Mama serius mau jodohin Abbas?" tanyanya.
" Apa kamu kira orang setua kami akan main-main? Apalagi menyangkut masa depan anaknya?!" jawab Pak Nugraha dengan wajah ketus.
" Abbas gak mau!" tolak Abbas.
" Abbas punya Iren. Kalau Papa sama Mama mau Abbas nikah, Abbas bisa nikah sama Iren. Kenapa harus cari orang lain? Emang apa kurangnya Iren sih?" ucapnya kemudian.
__ADS_1
" Papa mau menantu yang tidak hanya bisa berdandan, atau hanya bisa foya-foya. Tapi menantu yang bisa dibanggakan seperti anaknya Om Salim itu. Mandiri, punya usaha sendiri, bahkan dia sudah setuju dengan perjodohan ini. Itu bukti kalau dia adalah anak yang penurut dan berbakti sama orang tua. Tahu cara membuat orang tua senang. Bukan malah membuat orang tua merasa pusing dengan kegiatan belanja barang mewah." ucap Pak Raharja.
" Kamu kenalan dulu aja Bas. Siapa tahu cocok." bujuk Mamanya.
" Ck!" Abbas berdecak, dia tak senang dengan keinginan orang tuanya yang seolah mengatur dirinya. Apalagi tentang jodoh.
" Abbas tidak mau, titik!" Abbas bergegas menuju kamarnya.
" Kalau begitu warisan kamu tidak berhak mendapatkannya dari Papa!"
Langkah Abbas terhenti saat mendengar kalimat ancaman Pak Nugraha.
" Papa mengancam Abbas?" Abbas membalikkan badannya, menghadap ke arah Pak Nugraha yang menatapnya tajam.
" Silahkan! Abbas bisa hidup tanpa warisan Papa."
PLAK!
" PAPA......" Bu Murni menjerit langsung memeluk Abbas, saat Pak Nugraha melayangkan tamparan di pipi Abbas.
" Sudah berani kurang ajar kamu!" Pak Nugraha marah, mengangkat tangannya untuk memukul lagi, tetapi Bu Murni menghadang sehingga tangan Pak Nugraha berhenti di udara.
Abbas geram.
" Pukul lagi Pah! Pukul lagi Abbas kalau Papa mera......"
BRUK
" Mamaaa...."
Bu Murni pingsan, Abbas belum sempat selesai berbicara saat Pak Nugraha dengan sigap memapah tubuh istrinya dan meninggalkan Abbas yang termenung mematung ditempatnya, menyaksikan Mamanya dibawa masuk ke kamar.
__ADS_1