
Om Pram masih setia berada di rumah sakit bersama Lia. Dua orang itu menunggu seseorang yang akan menggantikan menjaga Ayu.
Sengaja Om Pram tidak memberi tahu keluarga Ayu, dia menunggu Ayu bercerita baru kemudian memutuskan untuk mengambil langkah selanjutnya.
" Om." suara itu memanggil Om Pram yang setengah sadar dalam duduknya. Dia mengantuk karena ini sudah tengah malam. Lia berjaga di dalam bersama Ayu yang juga terlelap.
" Kamu sudah sampai?" Om Pram memperjelas penglihatannya untuk memastikan suara milik siapa yang dia dengar.
" Maaf Abi terlambat, karena tadi harus laporan dulu di kantor." ucap Abimanyu sambil mengalihkan tempat duduk di samping Om Pram.
" Tidak apa-apa."
" Dari kantor langsung kesini jadinya?" tanya Om Pram kemudian.
" Iya Om." Abimanyu mengangguk.
" Sudah beres ijinnya?"
" Sudah Om." sekali lagi Abimanyu mengangguk.
" Kalau begitu kita istirahat dulu tapi disini aja, sambil menunggu mereka bangun."
Abimanyu melihat dari jendela kaca, Ayu sedang tidur pulas, di dekatnya ada Lia yang tak lain adalah sepupunya.
" Om gak langsung pulang?" tanya Abimanyu.
" Om nunggu Ayu bangun. Ada yang harus Om tanyakan, baru Om pulang. Biar jelas alasannya, kenapa anak itu tiba-tiba datang kesini dalam keadaan buruk begitu."
" Om yakin dia memiliki beban yang dia pendam, sampai dia sakit. Apalagi tadi dia langsung pingsan begitu sampai di rumah." jelas Om Pram.
Lia keluar, membuat dua orang yang sedang ngobrol itu menoleh ke arah pintu bersamaan.
" Ayu demam lagi." ucap Lia.
" Tunggu sini."
Om Pram segera mencari dokter jaga.
" Besok hasil labnya baru keluar. Untuk sementara ini saya beri penurun panas dulu." ucap dokter.
" Tapi dari datang dia belum makan dok, apa tidak ada masalah?" tanya Om Pram.
" Kalau dia mau makan bisa diberi tapi harus yang bertektur lembut. Tapi biasanya akan ada reaksi mual bahkan muntah. Jadi akan saya berikan anti mual dulu. Baru setelah perut terasa nyaman, nanti kita siapkan makanannya." jelas dokter.
Ayu membuka matanya.
" Haus Om." suara serak Ayu terdengar lemah.
Lia yang paling dekat dengan meja langsung memberikan segelas air hangat, namun saat Ayu baru menegak malah kembali keluar.
" Suster tolong ambilkan obat...."
Dokter menyebutkan obat anti mual berupa sirup untuk Ayu.
" Minum ini dulu, baru setelah itu minum. Kalau sudah tidak mual dicoba untuk makan." saran dokter.
Lia membantu Ayu meminum obatnya.
" Lapar?" tanya Om Pram. Ayu menggeleng sebagai jawabannya.
__ADS_1
Ayu menoleh ke arah lain dimana disana berdiri seseorang.
" Kak Abi?"
" K-kok disini?" Ayu nampak bingung, namun yang ditanya hanya tersenyum dan memandangnya lalu kemudian beralih ke Om Pram yang kini menjawab pertanyaan Ayu.
" Om yang minta dia datang."
" Kok?" Ayu makin bingung.
" Om besok ada job, jadi tidak bisa menemanimu disini. Sedangkan kamu masih butuh perawatan intensive." jelas Om Pram.
" Tapi kenapa Kak Abi yang...."
" Apa kamu mau Om beritahu orang tuamu kalau kamu ada disini?" Om Pram memotong ucapan Ayu, membuat Ayu menggeleng.
" Jangan Om, mereka gak tau kalau Ayu ke tempat Om Pram, apalagi Ayu sampai sakit. Takutnya Ayah dan Ibu kawatir, juga...."
" Kenapa?" Om Pram langsung bertanya agar Ayu mulai bercerita.
" Ayu ingin Om nyumputin Ayu."
Hampir semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar kalimat Ayu.
" Kamu bukan barang, gimana Om nyumputinnya?" Om Pram terkekeh.
" Bukan itu maksud Ayu Om... Ish, Om ini! Ayu lagi serius." Ayu nampak kesal.
" Ok... Ok... " Om Pram mencoba untuk menyudahi tawanya.
" Cerita sama Om, kamu ada masalah apa?" tanya Om Pram dengan nada serius.
" Kalau begitu saya permisi."
" Ya." Ayu yang menjawab, sebab dia yang mengusir orang yang telah mengobatinya itu.
Kini di ruangan itu hanya ada empat orang, Ayu, Om Pram, Lia dan Abi.
Abi cukup tahu diri, makanya dia bergegas berjalan keluar, namun Om Pram mencegah.
" Kamu disini aja Abi!"
Abi berhenti lalu membalikkan tubuhnya dan menatap Ayu meminta persetujuan.
" Dia akan menjadi pengawalmu mulai saat ini, jadi dia juga harus tahu masalahmu." jelas Om Pram.
Ayu akhirnya mengangguk, sehingga Abi mengambil tempat untuk duduk di ruangan itu.
" Cerita sama Om, kamu ada masalah apa?"
Ayu akhirnya mulai bercerita tantang apa yang terjadi padanya.
" Kamu jangan pulang! Tetap tinggal di rumah Om!" Om Pram nampak marah.
" Biar Om yang bicara sama ayahmu!"
" Tapi Om...." Ayu nampak ragu-ragu.
" Om sudah pernah bilang sama kamu, jangan mau disetir kalau berhubungan dengan hidup dan mati. Pernikahan bukan sandiwara yang harus dimainkan sebaik mungkin saat dilihat orang Ayu!" Om Pram mencoba menasehati Ayu.
__ADS_1
" Pernikahan itu belum sah secara hukum. Jadi masih bisa dibatalkan. Om akan bantu kamu."
" Lalu bagaimana dengan Pak Nugraha Om?" Ayu nampak bingung.
" Peduli dengan orang yang tidak peduli itu namanya sia-sia Ayu! Kamu peduli dengan orang tuanya, tetapi anaknya jelas-jelas menyakiti kamu. Kamu tidak ada kewajiban pada orang tuanya, jadi biar dia yang menanggung. Kamu lebih baik fokus pada kebahagiaanmu sendiri."
Ayu diam saja karena apa yang diucapkan Om Pram memang semuanya benar. Tetapi Om Pram juga belum tahu pasti situasi apa yang dia hadapi.
Ayah dan Ibunya sangat bahagia dengan pernikahan itu, juga orang tua Abbas . Tetapi disisi lain dia dan Abbas adalah satu kutub yang tidak bisa didekatkan. Meraka sama seperti dua ujung kutub yang saling menolak, walaupun Ayu sendiri berusaha menerima. Namun jika yang sebelah tidak ingin, dia bisa apa?
" Kalau kamu ingin menikah, menikahlah dengan laki-laki yang mencintaimu, yang punya prinsip tidak akan menyakiti hatimu, dan mau menerima apa adanya kamu. Bukan laki-laki yang menikah hanya untuk sebuah alasan yang tidak masuk akal seperti.... Siapa itu namanya....?"
" Abbas Om." jawab Ayu.
" Dia jelas bukan laki-laki. Sebab seorang laki-laki tidak akan menggunakan kebohongan untuk menghadapi kenyataan."
" Dia akan mengatakan iya jika memang sanggup, begitu juga sebaliknya." ucap Om Pram.
" Lalu Ayu harus bagaimana sekarang Om?" tanya Ayu.
" Sekarang kamu harus istirahat biar cepat sembuh." jawab Om Pram. Ayu mendengus kesal.
" Maksud Ayu bukan itu Om...!"
" Sembuh dulu, nanti kita pikirkan sama-sama jalan keluarnya untuk masalahmu ini." ucap Om Pram.
" Om harus pamit..." Om Pram melihat jam dipergelangan tangannya.
" Karena Om harus bersiap-siap untuk besok."
" Lah terus Ayu sama siapa?"
" Tante Lia juga ikut?" tanya Ayu pada Lia.
Lia hanya mengangguk " Kamu tahu kalau tante juga ikut andil sama pekerjaan Om mu itu. Jadi mau gak mau tante harus ikut." ucap Lia yang nampak iba pada Ayu yang kini murung.
" Ada Abi yang akan menemanimu." ucapan Om Pram membuat Ayu menoleh pada pria yang kini duduk sambil menautkan jari-jarinya itu.
" Om yang minta dia kesini."
" Om percaya dia adalah laki-laki sejati. Jadi jangan takut, kamu pasti aman bersama dia." ucap Om Pram.
Tapi hatiku Om yang gak aman kalau deket-deket dia. Jawab Ayu dalam hati.
" Abi, Om titip Ayu. Jaga dia selama Om pergi." pinta Om Pram pada Abi.
" Emang Kak Abi gak kerja?" tanya Ayu.
" Jagaian kamu itu sekarang jadi kerjaannya dia." jawab Om Pram.
" Ayu mana sanggup bayar Kak Abi Om?"
Om Pram terkekeh...
" Jangan kawatir tentang itu... Gak dibayar aja dia ikhlas kok kalau untuk kamu... "
" Iya kan Bi?"
Yang ditanya hanya tersenyum... Membuat Ayu bingung.
__ADS_1
Maksudnya apa yak?