
Sementara itu di Solo...
Seorang gadis anggun memekik kesal, lengkap dengan sumpah serapahnya, sebab perjalanan nyamannya dengan mobil dari sang kekasih harus terhenti karena ulah polisi gabungan.
Dia lupa dengan surat kendaraan yang tidak lengkap...
" Percuma dong punya mobil!"
" Apa dia sengaja, kasih mobil tapi gak kasih STNK?"
" Gini deh jadinya."
Iren uring-uringan.
Dia menghubungi Abbas, tetapi tidak juga diangkat padahal terhubung.
" Ish! Kemana sih tuh orang?" Iren kesal.
" Maaf Mbak, terpaksa mobil ini kami bawa ke kantor. Nanti kalau surat sudah ada silahkan diambil." Iren jelas naik pitam.
" Terus saya pulang naik apa dong? Pak jangan jahat gitulah."
" Bapak gak liat lagi mendung, nanti kalau saya kehujanan gimana coba?" rengek Iren.
" Kalau begitu silahkan ikut kami ke kantor saja Mbak." ucap petugas polisi dengan santainya.
" Apa bedanya saya ikut. Emang kalau saya ikut mobil boleh saya bawa pulang?" tanya Iren sewot.
" Setidaknya Mbak tidak harus kehujanan dan tidak berpisah dengan mobil ini." usul Pak polisi.
Iren mendengus. Lagi dia menelpon Abbas.
" Kemana sih kamu Bas?! Dasar gak guna!" umpatnya saat dering dari telponnya belum juga bersambut.
" Ini surat tilang anda. Selamat siang."
Iren melongo " Pak! Tunggu dulu dong, saya lagi usaha nih." Iren merengek, namun mobil derek sudah melaju perlahan.
" Saya hanya menjalankan tugas Mbak, silahkan selesaikan di kantor." Pak polisi segera beralih ke kendaraan lain, tanpa peduli dengan Iren yang menghentak-hentakkan kaki bersepatu runcing itu yang alhasil malah membuat kakinya keselao.
" Uuuhhg! Sial!"
Sementara itu Abbas terus melajukan mobil ke arah rumah orang tuanya. Banyaknya pasien membuatnya hampir telat pulang. Bahkan bunyi hpnya yang berulang-ulang tak membuatnya bergeming selain fokus ke jalanan. Yang ada di pikirannya hanya segera sampai ke rumah. Sebab jam yang sudah disepakati sudah lewat 15 menit.
__ADS_1
Dia berlalu begitu saja sambil setengah berlari begitu sampai di halaman rumah orang tuanya.
" Assalamualaikum... Maaf terlambat."
Mata Abbas mangabsen satu persatu seraya memperlihatkan raut canggungnya pada anggota yang sudah lengkap dan sedang menatapnya juga.
" Duduk sini Bas." Papanya menggeser tempat di samping agar Abbas duduk disana.
Abbas segera melangkah. Matanya tak lepas dari Ayu yang kini juga duduk di dekat ibunya.
" Kami sudah mendengar dari Nak Ayu. Tapi kami juga ingin mendengar dari kamu tentang masalah kalian." pinta Pak Nugraha.
Abbas menghela nafas sejenak, sebelum dia memulai.
" Apa yang dikatakan Ayu memang benar Pah. Maaf, kami tidak bisa melanjutkan pernikahan ini." ucap Abbas seraya menggenggam erat tangannya yang saling bertautan.
" Alasannya?" suara Pak Nugraha terdengar mengintimidasi Abbas membuat Abbas hanya sekedar melirik ke samping tempat Papanya berada saja tidak berani.
" Kami tidak cocok." ucapnya sekilas.
" Hanya dalam berapa hari kamu bilang gak cocok, kamu kira menikah itu sama kayak pilih baju, gak cocok terus gak jadi. Abbas berpikirlah yang logis." Pak Nugraha mencoba memberi pengertian pada Abbas.
" Tapi semua sudah terlanjur Pa, kami sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan ini." Abbas malah minta pengertian dari Papanya.
" Saya juga Ayu mungkin akan kesulitan dengan hubungan ini. Makanya lebih baik kami memilih jalan damai daripada harus bertikai setiap kali bertemu."
" Jadi selama ini kalian memang tidak akur?" tanya Pak Nugraha sambil menatap Ayu dan Abbas bergantian.
" Hanya saat kami dihadapkan pada perjodohan ini Om. Tapi sekarang semua baik-baik saja. Kemarin kami sudah berbicara secara baik-baik, bahkan kami tidak melibatkan emosi seperti sebelumnya. Jadi saya harap Om juga tante, Ayah dan Ibu bisa mengerti dengan keputusan kami." ucap Ayu.
" Saya minta maaf kalau saya secara pribadi tidak bisa memenuhi keinginan kalian. Tapi saya juga ingin kalian tahu bahwa saya sudah berusaha semampu saya untuk tidak mengecewakan kalian, walaupun kenyataannya kalian tetap kecewa." Ayu menambahkan.
" Kalau kita mulai dari awal bisa? Anak-anak juga sekarang sudah menyadari. Mungkin dengan adanya pertemuan kali ini, semua bisa dibenahi." usul Pak Nugraha.
" Bagaimana Lim?" tanya Pak Nugraha pada Pak Salim.
" Aku sangat ingin menjalin hubungan silaturahmi dengan kalian Nug, hanya saja ternyata anak-anak tidak bisa, jadi kita sebaiknya menjalin hubungan baik dengan cara lain saja. Toh, walaupun mereka batal menikah, kita tetap sahabat."
Pak Nugraha mengangguk mendengar penuturan Pak Salim.
" Ibu juga setuju kalau begitu. Kita tetap bisa berteman walaupun gagal berbesan." timpal Bu Murni, yang disetujui juga oleh Bu Isty.
" Jadi kalian tidak masalah kalau kami membatalkan perjodohan ini?" tanya Ayu.
__ADS_1
" Kami bukan orang tua egois Ayu. Jika kalian ngomong dari awal, kami juga tidak akan memaksa. Walaupun kami punya pemikiran kalau kalian bersama itu adalah hal baik. Tapi kalau akhirnya kalian tidak bahagia, apa gunanya?"
" Lebih baik dikatakan sekarang, daripada menyesal dikemudian hari. Iya kan Is?"
Bu Isty mengangguk setuju.
" Jadi kalian tidak marah?" tanya Ayu.
" Untuk apa marah, justru kami lega kalian mengatakan keberatan di awal, daripada kalian harus main sandiwara di belakang, itu malah lebih menyakitkan."
Abbas bagaikan ditampar dengan perkataan Mamanya.
" Persahabatan kita tetap akan berlanjut walaupun perjodohan batal." Pak Nugraha menimpali.
" Jadi sekarang gimana?" tanya Pak Salim.
" Ya enggak gimana-gimana. Kalau emang jodoh gak akan kemana. Siapa tahu sekarang menolak besok mencari." sindir Bu Murni.
Abbas hanya terdiam, sedangkan Ayu hanya ikut tertawa seolah itu bukan membicarakan dirinya. Abbas hanya bisa membatin sikap santai Ayu.
Dia begitu bahagia, berarti dia sangat senang akhirnya bisa lepas dariku.
" Ayu tetap boleh panggil kami Papa, Mama. Jangan panggil Om, Tante. Gak bisa jadi menantu, jadi anak juga gak papa. Kan Abbas gak punya adik."
" Mau kan jadi anak Mama, jadi adiknya Abbas?" tanya Bu Murni.
Ayu yang ditanya hanya tertawa. Sedangkan Abbas nampak terkejut.
" Gimana Bas menurut kamu?"
Pertanyaan Bu Murni membuat Abbas menatap Mamanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun sejurus kemudian dia berkata.
" Terserah Mama aja."
" Kalau begitu Abbas pamit karena masih ada kerjaan." Abbas mulai berdiri.
Dia merasa hanya dirinya yang tidak senang dengan keputusan itu. Makanya dia memilih pergi dari suasana bahagia dua keluarga yang sedang bercengkerama.
Bahkan saat dia sampai di ambang pintu dia sempat berhenti saat mendengar Mamanya berceloteh...
" Ayu kalau emang sudah ada calon lain, kenalin dong ke Mama?"
Ingatan Abbas beralih ke sosok pria yang kemarin bersama Ayu.
__ADS_1
" Apakah karena pria itu dia punya keberanian untuk bicara?" Abbas bergumam sambil melanjutkan langkahnya.
" Jika pria itu adalah kekasihnya, lantas mengapa dia mau menerima perjodohan ini?"