Bukan Terminal

Bukan Terminal
Bertemu Keluarga Salim


__ADS_3

Akhirnya Abbas mengalah dengan ikut ke Solo keesokan harinya. Mengingat kemarahan Papanya juga Mamanya yang pingsan. Abbas lebih baik menuruti keinginan kedua orang tuanya.


Mereka sampai di rumah keluarga Salim, dan sudah disambut oleh pemilik rumah saat mereka sampai.


" Akhirnya sampai juga....." Bu Murni melangkah turun dari mobil diikuti oleh Pak Nugraha, kemudian Abbas yang sebenarnya enggan untuk turun dari mobil. Tetapi dia bukan anak kecil yang tidak tahu etika bertamu, sehingga dia akhirnya turun juga.


" Assalamualaikum....."


" Walaikum salam..."


Tamu dan pemilik rumah saling menyapa dengan ramahnya, saling menjabat tangan kemudian saling memeluk.


" Ini pasti anakmu ya." Bu Isty memandang ke arah Abbas.


Abbas hanya mengangguk dengan sedikit senyum. Walaupun jujur dia terpaksa, tetapi tidak mungkin juga dia akan bersikap tidak sopan.


" Namanya Abbas Is... Gimana, tampan to? Pasti cocok kalau sama anakmu." Bu Murni tertawa memamerkan anaknya. Abbas hanya bisa menggaruk keningnya sendiri melihat tingkah Mamanya.


" Ayo masuk dulu...." Pak Salim mempersilahkan keluarga Raharja untuk masuk.


" Ya... Mari-Mari masuk." Bu Isty mengajak Bu Murni masuk ke rumah.


Mereka melangkah masuk diikuti Abbas yang berada di paling belakang.

__ADS_1


" Mana anakmu?" tanya Bu Murni.


" Ayu.... Dia gak di rumah. Tapi jangan kawatir, dia udah setuju kok sama rencana kita untuk berbesan."


" Ayu duduk... Silahkan... Silahkan."


Mereka mengambil tempat duduk masing-masing di ruang keluarga, tetapi saat Abbas baru akan duduk, matanya menatap beberapa foto bertengger di dinding, meja juga etalase yang kebanyakan adalah foto Ayu, ya Ayundia....


Matanya memicing, hatinya terkejut...


" Kenapa Nak Abbas?...."


" Ohhhh..... Itu foto Ayu, anak kami." Pak Salim menyadari tatapan Abbas yang menatap setiap foto Ayu yang terpajang di rumah itu.


" Masih ada yang lain tante? Maksud saya anak lain selain Ayu?" tanya Abbas, dia masih belum menyimpulkan bahwa yang akan dijodohkan dengannya adalah Ayu.


" Ayu adalah anak satu-satunya yang kami miliki, dan dia adalah...."


Abbas mengepalkan tangannya geram, mencoba menahan amarahnya saat itu.


Dia merasa ditipu oleh gadis yang selama ini berpura-pura lugu yang bekerja sebagai asisten di klinik tempatnya bekerja.


Dia merasa selama ini dimata-matai oleh gadis yang seolah-olah tidak mengenalinya, bahkan cenderung cuek terhadap dirinya.

__ADS_1


Abbas menahan amarahnya saat ini karena dia berada di rumah orang tua gadis itu, tetapi entah nanti jika dia harus berhadapan dengannya. Yang pasti dia kecewa!


" Dia sekarang dimana Om?" tanya Abbas kepada Pak Salim.


" Oh... Ayu ya maksud Nak Abbas?... Kami minta maaf sebelumnya, karena saat ini dia belum bisa menemui kalian, karena setelah menyetujui perjodohan ini, dia minta waktu satu tahun untuk bekerja di luar." jawab Pak Salim.


" Lah bukannya Ayu udah punya kerjaan sendiri to Lim?" tanya Pak Nugraha.


" Sambil ngobrol, ayo diminum dulu." Bu Isty yang sudah selesai menyiapkan minuman dan cemilan mempersilahkan tamunya.


" Repot-repot lho Is." ucap Bu Murni.


" Kan kalian ndak pernah kesini." ucap Bu Isty.


" Yuk, monggo silahkan diminum."


Mereka mengambil minuman yang sudah disuguhkan, lalu meminum sebelum kemudian melanjutkan pembicaraan.


" Dia memang punya kerjaan sendiri. Itu, tempat les piano dan les vokal yang ada di perempatan jalan besar itu dia yang punya. Sama satu lagi di Malang, tapi sementara dikelola sama Om-nya. Katanya dia mau cari pengalaman lain dulu selama setahun ini." jelas Pak Salim. Pak Nugraha mengangguk mengerti.


" Tuh kan Bas, mandiri to calon istrimu itu. Pokoknya Papa sama Mama gak salah pilih calon mantu." ucap Bu Murni dengan bangga, yang diikuti dengan tawa serentak mereka yang duduk disana, kecuali Abbas yang hanya diam saja. Karena dia sekarang sebenarnya sedang marah dengan sosok yang tersenyum di dalam foto berukuran besar, yang seakan mengejek dirinya.


Kamu kira bisa menipuku Ayundia Salim?!

__ADS_1


__ADS_2