Bukan Terminal

Bukan Terminal
Kegundahan Abbas


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit...


Abbas nampak bingung dengan administrasi yang akan dia selesaikan terkait Papanya.


" Maaf Suster, ini biaya perawatan siapa ya?" Abbas meminta penjelasan saat dia membaca ada biaya perawatan pasien lain selain Papanya.


" Oh ini... Pasien ini dirawat beberapa jam waktu itu Dok, dengan riwayat gastritis. Kalau gak salah pasien ini perempuan yang waktu itu melangsungkan pernikahan dengan anda."


Mata Abbas melebar, seketika nafasnya seakan berhenti.


" Apa dia perempuan dengan rambut panjang diikat ekor kuda pakai jaket warna biru?"


Perawat itu mengangguk membenarkan.


Abbas kini tahu kemana perginya Ayu waktu itu. Namun memorinya kembali mengingat saat itu dia malah menuduh Ayu keluyuran.


Parahnya lagi saat itu Ayu meminta diantar pulang, tapi dia malah menurunkan di tengah jalan. Dia benar-benar seperti orang jahat saat ini, karena membiarkan Ayu yang dalam keadaan sakit harus pulang sendiri. Jahat sekali dia. Padahal dia seorang dokter, keselamatan orang sakit adalah hal utama baginya, tetapi saat orang yang berstatus istri sedang sakit, dia malah tak peduli.


" Ya sudah Suster, terima kasih untuk informasinya."


Abbas segera kembali ke ruangan Papanya lalu membantu Papanya untuk bersiap.


" Ayu kemana Bas?"


Pertanyaan itu akhirnya muncul juga dari orang tuanya. Abbas menatap Papanya yang menunggu jawaban darinya.


" Ayu belum bisa datang Pa, ada kerjaan."


Beruntung Papanya mengerti dengan alasan Abbas, sebab dia cukup paham dengan pekerjaan menantunya itu.


" Kamu gak kembali ke Wonogiri?" tanya Mamanya.


" Besok Ma."


" Kalau begitu sebelum kamu kembali kesana, bawa Ayu ya, biar sekali-sekali dia menginap di rumah. Kan kamu bilang waktu itu Ayu gak pulang ke rumah karena harus ke luar kota. Jadi mumpung kamu juga masih disini ajak istrimu itu menginap di rumah. Semalam aja udah cukup kok."


Abbas hanya mengangguk, dia belum cukup berani untuk mengungkap kebenarannya. Dia perlu waktu untuk berpikir.


" Kalau udah siap ayo kita pulang. Sudah selesaikan administrasinya?"


" Udah Ma." jawab Abbas.


Mereka akhirnya pulang ke rumah. Namun pikiran Abbas bingung sendiri sebab dia harus mencari Ayu kemana, dia tak tahu. Atau sebaiknya dia jujur saja kalau sebenarnya dia dan Ayu sudah berpisah. Namun saat melihat orang tuanya, Abbas tak punya keberanian untuk jujur.


" Kamu gak kabari istrimu?"

__ADS_1


" Kabari gih, siapa tahu dia butuh kamu untuk jemput dia."


" Kamu tahu kan dia kerja di kota mana?"


" Berapa hari katanya?"


Pertanyaan beruntun itu tak ada satu pun yang bisa Abbas jawab, karena kenyataanya Abbas tak tahu harus menjawab apa.


" Abbas!"


" Iya Ma." Abbas terkejut tak kala Mamanya menepuk bahunya.


" Mama tanya kok kamu malah melamun." tanya Mamanya dengan pandangan menyelidik.


" Mungkin Abbas perlu istirahat Ma. Abbas ke kamar dulu ya." kilah Abbas yang langsung mengarahkan kakinya menuju kamar.


Mamanya hanya memandang dengan bingung pada Abbas yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar.


" Kenapa sih dia?" gumam Bu Murni.


Di dalam kamar, Abbas segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.


Pikirannya kini melayang ke Ayu. Haruskah dia menghubungi Ayu menanyakan seperti yang ditanyakan Mamanya, lalu meminta Ayu datang seperti permintaan Mamanya.


Mana mungkin dia mau?


Iren....


Mengingat Iren dia teringat dengan janjinya untuk memberikan mobil pada kekasihnya itu.


Segera dia menghubungi seseorang.


" Tolong kirimkan mobil yang di rumah praktek ke alamat yang saya Sherlock."


Abbas mengirimkan pesan.


Lalu dia beralih kenama lain yang kini hanya dia eja hurufnya tanpa berani untuk menghubungi.


Ingatannya kembali pada perkataan Ayu " Ketika saya pergi maka tak akan ada cela untuk kembali."


Kata itu selalu terngiang dikepala Abbas seolah itu akan menjadi benteng tertinggi yang harus dia panjat jika dia ingin bertemu Ayu.


Tetapi untuk jujur pada orang tuanya dia masih belum siap, apalagi melihat Papanya yang baru mulai pulih dari sakitnya.


Abbas mulai menyesal kenapa kemarin dia berbuat keji pada Ayu. Seharusnya dia mengajak Ayu bekerja sama untuk sekedar bersandiwara di depan keluarganya.

__ADS_1


Abbas hanya menggulir layar yang menampilkan kontak Ayu. Tanpa sengaja tangannya menekan tombol penghubung.


Ayu yang mendengar hpnya berbunyi segara berlari ke kamar.


Vony yang sedang menikmati ikan goreng tak begitu peduli.


Ayu hanya menatap layar yang menampilkan nama Dokter Abbas itu dengan pandangan datar.


Dia merasa tak perlu lagi berhubungan dengan pemilik nama itu, jadi dia membiarkan saja hpnya terus berdering. Tanpa ada niat untuk mengangkat. Cukup lama, sampai akhirnya terhenti.


Ayu belum beranjak, dia hanya diam.


Sedangkan Abbas nampak terkejut ketika sadar dia tengah menghubungi Ayu segera menekan tombol mati.


Dia segera mengirim pesan agar Ayu tidak salah sangka.


" Maaf kepencet."


Ayu yang tahu ada pesan masuk hanya membaca sekilas.


Abbas yang tahu pesannya langsung dibaca kini berharap Ayu membalas pesannya, tetapi nyatanya sampai 10 menit, tak ada tanda-tanda Ayu akan membalas pesannya. Dia kecewa.


Dia benar-benar sudah tak ingin berhubungan lagi denganku.


Abbas meletakkan hpnya di samping tubuhnya, lambat laun matanya terpejam karena kelelahan.


Saat pagi tiba hal pertama yang dia cari adalah hpnya, berharap Ayu membalas pesannya, tetapi yang dia dapat bukan pesan dari Ayu melainkan dari Iren.


TERIMA KASIH SAYANG UNTUK MOBILNYA... kapan kesini, aku rindu....


Namun Abbas hanya membaca sekilas, untuk pertama kalinya dia tak menghiraukan Iren.


Bahkan setelah itu telpon dari Iren tak pernah dia jawab. Hanya pesan saja yang dia balas itupun hanya jarang-jarang.


Saat Iren memintanya datang, dia juga merasa enggan untuk memenuhi undangan yang biasanya selalu membuatnya bersemangat.


Pikirannya terlalu lelah, hingga dia butuh waktu untuk sendiri dulu. Tanpa Iren, tanpa Ayu, tanpa orang tuanya, kini dia hanya fokus pada pekerjaan. Bahkan dia kini merasa perlu suasana baru, maka dia mengundurkan diri dari rumah sakit itu. Dia berencana pindah ke Malang.


Dan hari itu setelah dia keluar dari rumah sakit, dia langsung mengurus kepindahannya ke Malang. Tanpa di duga dia malah bertemu dengan Vony.


" Von... Kok disini?" tanya Dokter Abbas.


Yang ditanya sebenarnya terkejut, tapi dia berusaha tetap tenang.


" Saya bekerja disini Dok." jawab Vony.

__ADS_1


Abbas mengernyit, pikirannya bertanya sesuatu tetapi belum sempat terucap, Vony Sudah berlalu sebab Ayu sedang tergesa-gesa.


" Vony kerja disini, apa mungkin Ayu juga?"


__ADS_2