
Abbas tak bergeming dari tempat duduknya. Matanya memandangi benda-benda yang dulu pernah menghiasi Iren.
Menyesal....
Satu kata yang saat ini melanda hatinya.
Belum lagi satu dus besar yang kini teronggok di pojok kamarnya, ketika matanya menatap benda berwarna coklat itu, hatinya sudah pasti perih. Bukan dia yang terluka, tapi nyerinya dia yang merasa ketika teringat saat indah ketika dulu dia memberikan isi yang ada di dalam kardus itu.
Pikirannya kini penuh dengan Iren.
Gadis itu benar-benar meninggalkannya. Labih tepatnya dia yang mengusir. Jika saja dia tak bermain dengan perasaannya, mungkin kini dia masih bisa memanggil Iren dengan sebutan 'sayang'. Masih bisa melihat senyuman dari bibir Iren yang memang dia akui tak pernah lepas dari lipstick, tapi dia tak pernah keberatan dengan itu dulu. Namun saat ada Ayu, dia jadi membandingkan. Alangkah bodohnya dia. Jelas Iren sakit dengan apa yang dia lakukan.
Iren yang setia walaupun dipandang buruk oleh orang tuanya. Tetapi berkat dirinya, gadis itu mampu bertahan dengannya. Mau berjuang bersamanya untuk tak putus asa meraih restu. Namun karena kebodohannya lagi dia malah mendua rasa, bukan hati. Tetapi intinya sama saja, mendua! Karena jika boleh jujur, hatinya masih milik Iren. Cintanya masih milik gadis manja yang akan penuh dengan binar bahagia ketika menerima pemberian darinya.
Matre...
Satu kata itu tersemat untuk gadis yang dia cintai selama tiga tahun ini, bahkan sampai detik ini. Tapi dia tidak peduli dengan itu. Baginya barang itu belum cukup untuk menggantikan rasa bahagianya ketika dicintai, dibutuhkan dan rasa nyaman yang dia dapatkan.
Tapi kini satu kata itu seolah lenyap. Iren-nya ternyata bukan gadis matre.
Gadis itu menyimpan barang pemberiannya. Tanpa kurang dari satupun.
Tangan Abbas mengeluarkan satu demi satu barang-barang yang dia berikan dulu.
Peristiwa demi peristiwa ikut menyertai saat dia memegang benda-benda itu. Bayangan wajah Iren yang ceria, yang membuatnya bahagia, kini berganti menjadi tetesan air mata.
Iren-nya kini telah pergi karena kebodohannya. Padahal dia masih sangat mengingat dengan jelas komitmen yang mereka berdua ucapkan waktu itu.
Walaupun terpisah jarak dan waktu, hati kita akan selalu satu. Selama ada cinta, tak akan ada kata mendua.
Aku tidak mendua Iren.... Isaknya.
Hanya saja aku hilaf oleh rasa kagum sesaat. Aku mohon maafkan aku.
Abbas mendekap erat boneka monyet yang dia keluarkan dari dalam kardus.
" *Kenapa milih ini? Kenapa bukan yang itu?" telunjuk Abbas mengarah pada boneka besar berwarna pink yang berbentuk beruang.
" Aku lebih suka ini, kulitnya coklat kayak kamu."
__ADS_1
Abbas mencembik tak suka " Kamu samain aku sama monyet?"
" Aku gak bilang gitu." bantah Iren.
" Terus maksudmu?"
" Monyet itu adalah salah satu-satunya binatang yang menyeruapi manusia. Dia akan melindungi apa yang menurutnya miliknya dan akan selalu mengeganggam erat apa yang ada di tangannya. Dia akan lebih baik bertaruh nyawa ketimbang kehilangan apa yang ada di tangannya*."
Abbas waktu itu tercengang mendengar penuturan Iren. Gadis itu punya pemikiran yang luar biasa.
"*Jadi kamu suka monyet?"
" Gak! Aku suka kamu*."
Itulah saat pertama mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
Tiga tahun lalu.... Tapi boneka monyet itu masih nampak sama seperti saat itu. Warnanya pun tak pudar sama sekali. Abbas masih ingat ketika itu Iren menyimpan boneka itu di meja dekat tempat tidurnya, saat itu dia melintas tanpa sengaja melewati kamar Iren.
Tiga tahun berhubungan, bukan berarti mereka bebas melakukan semaunya.
Iren memang gadis pesolek, tapi bukan berarti dia mudah membuka bagian pribadinya.
Tetapi hari itu juga saat dia berhadapan langsung dengan Iren, dia sadar ternyata dia belum mengenal benar gadis itu.
Gadis yang selalu bersorak senang saat menerima pemberian darinya, kini dengan mudah mengembalikan apa yang dia berikan bahkan tanpa kurang dari satu apapun. Kecuali uang yang digunakan oleh Iren untuk perawatan. Abbas sendiri memang dengan suka rela memberikan jatah bulanan untuk Iren.
Tetapi tangannya mendadak membeku saat di bagian bawah kardus, dia menemukan kartu ATM.
Semua yang kamu berikan ada disini.
Ada memo, Abbas meremas kertas itu.
Jadi selama ini dia tidak menunggunakan uang pemberianku?
Amarah dalam diri Abbas menguar. Dia segera bangkit, mencari hpnya dan men-dial nomer Iren.
" Apa maksudmu dengan memo itu?" tanya Abbas dengan cepat ketika telpon terhubung.
" Aku cukup tahu diri untuk tidak menggunakan uang itu. Orang tuamu pernah datang padaku dan mengatakan bahwa aku adalah gadis murah yang hanya bisa mengandalkan uang dari laki-laki untuk bersolek." ucap Iren dengan nada datar.
__ADS_1
Abbas terkejut " Kapan orang tuaku menemuimu?"
" Ingat saat kamu ingin memperkenalkan aku ke orang tuamu? Saat itu mereka sudah mencari tahu aku dan mengatakan hal menyakitkan itu." jawab Iran. Sekali lagi jawaban Iren membuat Abbas terhenyak.
" Mengapa kamu gak cerita ke aku?"
" Dia adalah orang tuamu. Aku hanya tidak mau kalian bertengkar hanya gara-gara aku. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu juga berakhir. Jangan jadikan masalah, karena semuanya sekarang sudah tidak penting."
" Tidak penting katamu! Iren, tiga tahun kita bersama, apa bagimu itu tidak penting." Abbas geram, dia marah.
" Apalah artinya tiga tahun Abbas, masih kalah dengan yang terakhir datang."
Sindiran Iren mengena di hati Abbas. Dia terdiam.
" Aku cinta sama kamu Iren, masih cinta sama kamu. Apa kamu tidak ingin kita bersama?" rengek Abbas kemudian.
" Tapi perasaanmu sudah terbagi." sahut Iren.
" Seperti katamu, aku tidak punya toleransi untuk yang satu itu."
" Itu cuma perasaan semu Iren. Tolong mengerti. Jangan begini, aku masih sayang sama kamu." mohon Abbas lagi.
" Jika itu semu, maka lihatlah lagi agar lebih jelas." ucap Iren.
" Abbas... Waktu itu orang tuamu melukaiku, aku bisa tahan karena kamu mau berjuang sama aku...."
" Aku masih ingin berjuang sama kamu Iren." potong Abbas.
Iren terkekeh, tetapi suara serak Iren menandakan gadis itu menangis.
" Jika kamu mau berjuang sama aku, lantas kenapa kamu menikah dengannya?"
Bagai tersambar petir, Abbas mematung ditempat tanpa mampu berucap saat Iren ternyata mengetahui dirinya telah menikah walaupun sekarang dia bercerai.
" Tapi kami sudah bercerai." ucap Abbas.
" Jadi benar, kamu sudah menikah dengan dia?" suara Iren terdengar putus asa.
" JAHAT KAMU ABBAS!"
__ADS_1
Tut tut tut