
Ayu sebenarnya merasa bosan, menunggu di rumah sakit tetapi tidak ada teman.
Ibu mertuanya hanya sesekali keluar, hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, setelahnya masuk lagi. Untuk makan beliau, tadi Ayu yang membelikan. Sedangkan Abbas beristirahat di ruang kerja milik saudaranya yang menjadi dokter disana.
Ayu menunggu hampir setengah hari, sekarang sudah lewat pukul satu siang. Ayu merasa sangat lelah. Jadi dia memberanikan diri untuk berpamitan pulang. Dua malam tidak beristirahat dengan benar membuatnya benar-benar lelah. Apalagi ditambah perutnya yang kadang terasa melilit. Beruntung obat dari dokter bisa membantunya.
" Maa... Ayu ijin pulang dulu ya." pamitnya pada Bu Murni.
Bu Murni mengerti Ayu kelelahan.
" Pulang ke rumah Mama aja. Ini kuncinya. Ajak Abbas, minta dia antar." Bu Murni menyerahkan kunci ke tangan Ayu.
Ayu mengangguk saja. Dia memilih menyimpan kunci itu di saku jaketnya.
Menunggu Bu Murni kembali ke dalam ruangan, baru menelpon Abbas.
" Apa?"
Nada datar langsung terdengar begitu telpon tersambung, membuat Ayu yang sudah paham dengan sikap Abbas tak begitu terkejut.
" Mama bilang suruh anterin pulang."
Tiba-tiba telpon terputus, Ayu menatap layar hpnya sendiri dengan kesal.
" Malah dimatiin." gerutu Ayu.
Dia tak mau ambil pusing, memilih untuk melangkah mencari pintu keluar. Namun sesampainya di gerbang, ternyata Abbas sudah menunggunya disana.
Abbas hanya membuka pintu mobil tanpa turun. Ayu tak banyak bicara langsung masuk lalu menutup pintu mobil.
" Pulang kemana?" tanya Abbas tanpa menoleh ke arah Ayu.
__ADS_1
" Terserah."
Ayu memilih diam setelahnya... Matanya terpejam karena merasa benar-benar butuh istirahat, tanpa sadar Abbas tidak membawanya pulang ke rumah orang tuanya, tetapi melaju menuju Solo.
Abbas tidak berniat membawa Ayu pulang ke rumah orang tuanya ternyata. Makanya dia membawa Ayu ke Solo. Ayu yang samar-samar sadar hanya memilih diam, sampai akhirnya mobil Abbas terparkir di seberang jalan tempat les milik Ayu.
" Kok kesini?!" Ayu bingung.
" Bisa pulang sendirikan?" Abbas tanpa menoleh, malah sibuk dengan hpnya.
" Paham kan daerah sini?"
Dua pertanyaan itu membuat Ayu menggeleng tak percaya dengan manusia di sampingnya itu.
" Dasar tak punya hati!" geram Ayu.
Abbas tertawa mengejek... " Jangan pakai hati! Takutnya nanti terluka, bisanya cuma nangis."
" Jangan memintaku untuk kembali! Karena saat aku telah pergi maka tak akan ada cela untuk kembali. Kau tau kenapa? Karena aku BUKAN TERMINAL, sehingga kau bebas untuk datang dan pergi!"
" Kau pikir kamu siapa?" senyum remeh tercetak jelas di bibir seorang Abbas Nugraha.
" Bahkan sampai matipun, aku tak akan pernah memintamu kembali, tidak akan pernah! Camkan itu!" tegas Abbas penuh keyakinan.
" Benarkah?" Ayu juga menampilkan senyum yang sama, yaitu meremehkan Abbas.
" Kita lihat saja nanti!" Ayu lantas menutup pintu mobil sekuat tenaganya, sampai Abbas terjingkat kaget.
" Sialan!"
Abbas langsung tancap gas meninggalkan Ayu.
__ADS_1
Ayu menoleh ke belakang, ada tiang listrik disana.
Dia mengeluarkan hpnya dari saku jaketnya, namun tangannya menyentuh sesuatu.
" Kunci?"
Ayu teringat itu kunci rumah orang tua Abbas. Namun dia tak ambil pusing, kemudian memasukkan kunci itu ke tasnya, lalu mulai fokus dengan hpnya.
Dipilihnya icon bergambar kamera, lalu dibidiknya tiang listrik itu... Lalu menambahkan beberapa kata disana....
Tiang listrik jadi saksi luka tak berdarah
Bukan permainan hati tetapi takdir
Takdir Bisa dirubah
Luka Bisa Sembuh
Tak Bartuan Bukan Berarti Tak Punya Tujuan
Tetap Jadi Penyangga Cahaya Walau Selalu Dipukul Tangan Iseng, Anggap Saja Mereka Orang Gila...
Hai Tiang Listrik... Nasib Kita Sama...
Kemudian Ayu menambahkan tanggal hari itu...
20-06-2022
Selamat Tinggal Tiang listrik.... 😱
Lalu Ayu mempostingnya ke media sosial milik Ayu.
__ADS_1
****Today is the worst day****