Bukan Terminal

Bukan Terminal
Sekilas Tentang Iren


__ADS_3

Air bening tak henti-hentinya mengalir di dua mata lentik milik Iren.


Gadis itu kini sedang telungkup di pangkuan sang Ibu.


" Sudah Iren... Tuhan sangat baik padamu, karena menunjukkan padamu pria seperti Abbas sebenarnya." hibur sang Ibu.


" Lebih baik tahu dari awal, ketimbang terlanjur. Ibu tidak mau kisah Ibu terulang padamu. Biarkan Ibu saja yang merasakan sakitnya penghianatan. Ibu hanya berharap kamu bisa menemukan seorang pria yang bisa menerimamu tanpa membandingkan dengan perempuan lain."


Iren tampak menikmati belaian tangan Ibunya.


Ya... Dia selalu datang pada Ibunya saat dia mengalami hal-hal luar biasa dalam hidupnya. Tak terkecuali dengan hal buruk yang saat ini dia rasakan. Baginya, Ibunya adalah teman sekaligus sahabatnya.


Dia tidak akan sungkan menceritakan apapun yang terjadi padanya.


" Ternyata menjadi cantik bukan jaminan bisa mempertahankan pasangan ya Buk." Iren berucap sambil mengusap air matanya.


" Ibu dulu memang ditinggalkan Bapakmu demi perempuan yang lebih cantik dari Ibu. Tapi bukan berarti semua laki-laki akan terpikat pada kecantikan fisik Ren. Walaupun untuk kecantikan yang satu itu akan tetap kalah pada kecantikan fisik yang nampak lebih menggoda." ucap Ibunya.


" Iren sekarang harus apa Buk?" Iren bangkit sambil membenarkan wajahnya yang nampak kusut. Jejak air mata masih nampak.


" Jalani sesuai dengan keyakinanmu. Jangan berubah hanya karena kamu patah hati."


" Apa Iren harus berhenti berdandan?" tanya Iren dengan wajah polosnya.


" Kenapa?" tanya ibunya balik.


" Nyatanya Abbas tetap berpaling pada gadis lain, walupun Iran sudah berusaha cantik Buk."


Ibunya tersenyum, seraya menyelipkan helaian rambut Iren ke belakang telinga.


" Tetap jadilah dirimu sendiri. Berdandanlah demi kesenanganmu, bukan untuk kesenangan orang lain." ucap Ibunya.


" Seorang perempuan memang harus pandai merawat diri. Menghargai keindahan yang Tuhan berikan. Rawat selagi kamu punya waktu dan biaya."


" Kamu bekerja di butik, tentu penampilan yang utama. Bagaimana orang akan melihat karyamu kalau penampilanmu tidak menunjang. Ibu benarkan?"


Iren mengangguk. Ya... Iren memang selalu menjaga penampilannya sebab dia mempunyai butik. Dia bertanggung jawab pada bisnisnya yang memang fokus untuk mempercantik penampilan.


Selama ini dia memang gemar berbelanja barang mewah itu hanya untuk mengisi butiknya. Belanja kain mahal untuk bahan membuat pakaian, tas mahal untuk dagangan, juga kadang dia berbelanja asesoris mahal itu juga untuk pesanan pelanggan.


Beruntung kini bisnisnya itu sudah diperhitungkan oleh beberapa WO juga EO. Desainnya mulai dilirik untuk beberapa even. Makanya Iren selain harus menjaga kualitas dari karyanya, dia juga harus menjaga penampilannya agar orang tidak kecewa saat datang ke butiknya. Hanya saja apa yang tampil padanya kadang di salah artikan oleh orang lain. Orang tua Abbas misalnya. Men-judge dirinya sebagai gadis pesolek yang hanya hobi berbelanja barang mewah, yang hanya mampu berfoya-foya demi bergaya.

__ADS_1


Waktu itu Iren tak begitu peduli sebab Abbas meyakinkannya untuk tidak ambil pusing dengan penilaian orang tuanya. Tapi saat ini pria yang tiga tahun ini dia cintanya, nyatanya malah ikut membenarkan ucapan orang tuanya disaat dia disodorkan pada sosok gadis sempurna yang pandai dalam segala bidang, yang memiliki segalanya, yang bisa menempatkan diri dalam setiap hal. Iren kalah telak.


Dia memutuskan untuk mundur saat Delima, sahabatnya memberikan informasi padanya tentang Abbas yang mengikuti seorang gadis yang dia sendiri tahu siapa gadis itu. Video itu menjawab semuanya. Ya, Delima sengaja membagikan video padanya saat tak sengaja melihat Abbas berada disebuah gedung.


Iren pernah melihat foto gadis itu saat Abbas berjanji padanya waktu itu untuk tetap memilihnya.


Namun saat melihat bagaimana Abbas menatap gadis itu yang saat itu terlihat cantik dalam balutan kebaya berwarna keemasan yang dia jahit sendiri dengan tangannya.Iren sadar bahwa dirinya kini sudah kalah.


Dirinya yang saat itu akan datang mengalami kemalangan di tengah jalan. Mobil yang diberikan Abbas ditilang. Memang kebodohanya waktu itu, tidak memeriksa kelengkapan surat, sebab dia buru-buru sudah ditunggu oleh pihak WO.


Disaat itu berkali-kali dia menghubungi Abbas, tetapi Abbas yang akhir-akhir ini sulit dihubungi masih saja tak menjawab telponnya. Pesan juga tak dibalas walaupun dibaca.


Iren mencoba untuk diam selama ini. Namun saat dia mendapat kiriman video itu, hatinya seolah ditusuk oleh ribuan bahkan jutaan jarum. Sakit, itulah yang dia rasakan.


Iren tak punya lagi kekuatan hanya untuk sekedar marah. Dia cukup tahu diri, kini dia sudah bukan lagi satu-satunya di hati Abbas.


Janji untuk setia walaupun jarang bertemu ternyata kini tak berlaku lagi. Abbas mendua, walaupun dia belum yakin kebenarannya. Tapi dia yakin pada kata hatinya.


Iren dalam kesakitannya mencoba hal terkahir untuk mengemis simpati Abbas dengan mengirimkan pesan kalau dirinya berada di kantor polisi.


Tanpa diduga, Abbas datang. Hatinya melonjak girang, namun Iren mencoba untuk mengesampingkan rasa sakitnya dengan berpura-pura marah pada Abbas.


Perubahan sikap Abbas membuat Iren merasa tercubit hatinya. Abbas dingin, seperti tak peduli dengan kemarahannya. Ya, Abbas berubah, bukan Abbas miliknya yang dulu yang akan membujuknya dan meredakan amarahnya.


Ya... Iren juga Abbas pernah punya kesepakatan untuk tidak mentolerir perselingkuhan. Iren sudah berusaha untuk komitmen itu, tetapi nyatanya Abbas tidak bisa. Mereka kini sudah berbeda jalur. Maka lebih baik untuk tidak berjanji untuk satu tujuan, sebab itu mustahil.


Tumbuh dari keluarga broken home, Iren sangat hati-hati dalam menjalin hubungan. Satu yang sangat dia benci yaitu penghianatan.


Ibunya dan dirinya terlantar lantaran Bapaknya menghianati mereka.


Ibunya harus berjuang bekerja menjadi seorang penjahit di pabrik konveksi demi membersarkan Iren.


Iren yang dari remaja sudah mencecap pahitnya hidup, lantas mengikuti jejak Ibunya dengan belajar menjahit. Dia mengambil jurusan tata busana di sekolahnya, kemudian dia mendapat beasiswa dari sekolah untuk meneruskan kuliah di bidang desain.


Pernah bekerja di perusahaan, tetapi saat melihat peluang usaha, Iren lebih memilih untuk membuka sendiri usahanya dengan berbekal gaji yang dia kumpulkan.


Dia sadar, Ibunya sudah mulai tua. Maka dia harus mandiri dalam hal finansial. Jika dia tetap jadi karyawan, maka dia tidak akan pernah sukses. Maka dari itu dia bertekad untuk membuka usaha sendiri. Dan sekarang dia bersyukur bisa melihat usahanya mulai berkembang.


Untuk urusan percintaan, Iren memang ingin punya suami yang royal yang tidak hitung-hitungan dalam hal uang. Tak pelit untuk pengeluaran, sebab baginya suami yang pelit hanya akan membuat hidup perempuan menderita. Sudah banyak contoh yang dilihat Iren. Tenganganya banyak yang istrinya harus bekerja jadi TKW lantaran suami pelit. Anak-anak terlantar, dan akhirnya bercerai.


Iren bukan gadis manja sebenarnya, Abbas tahu itu. Tapi Iren pernah mendengar dari temannya kalau seorang pria tak begitu suka dengan gadis yang terlalu mandiri. Mereka akan merasa tidak dibutuhkan. Iren mengikuti saran itu. Tapi nyatanya dia ditinggal karena manja dan dibandingkan dengan gadis mandiri.

__ADS_1


Iren tersenyum kecut merasakan itu.


Memang seharusnya aku tidak berusaha terlalu kuat untuk menjadi seperti orang bilang. Jadi diri sendiri, nyatanya lebih membahagiakan.


Mulai saat ini, Iren bertekad untuk hidup ssesuai kata hatinya. Luka yang dia dapat cukup untuk belajar. Jika masalah cinta, dia hanya pasrah saja, biarkan Tuhan yang mengatur. Sebab jika kita yang mengatur nyatanya cuma kecewa yang didapatkan.


Iren... Semangat!


" Buk... Doain Iren ya... Semoga Iren kuat." pinta Iren.


Ibunya dengan lembut mengusap kepala Iren.


" Ibu tak akan pernah lupa berdoa untuk kebahagiaanmu Iren. Hanya saja Tuhan mungkin punya cara lain untuk membuatmu bahagia. Kita hanya perlu bersabar, mungkin waktunya yang belum tepat." ucap Ibunya.


Iren mencium tangan Ibunya.


" Amin Buk."


Iren melepaskan diri dari Ibunya, sebab dia mengingat ada janji temu untuk membuat gaun pernikahan.


" Iren pamit ya Buk."


" Kamu mau pergi?"


Iren mengangguk " Iren ada janji sama pelanggan."


" Kamu yakin sudah baikan?"


" Iren harus tetap bekerja kan Buk..." ucap Iren sambil mempersiapkan diri.


" Kalau kamu belum siap pergi lebih baik di rumah dulu." bujuk Ibunya.


" Iren pergi sama Rasti Buk, jangan kawatir." ucap Iren.


" Ya sudah kalau gitu. Tapi kamu jangan di depan, biar Rasti aja yang di depan." ucap Ibunya saat melihat kedatangan Rasti yang mengendarai motor.


" Siap Ibuku sayang... Iren berangkat ya... Dah Ibuk."


Iren segera berlari tergesa setelah mencium tangan Ibunya.


Ibunya mengawasi dari dalam rumah Iren yang pergi dengan Rasti.

__ADS_1


Ibunya menghembuskan nafas beratnya saat anaknya itu sudah tak terlihat.


" Semoga kamu menemukan kebahagiaan lain Nak."


__ADS_2