Bukan Terminal

Bukan Terminal
Masih Normal


__ADS_3

Abbas POV


Aku sedikit terkejut mendengar nama Salim. Tapi nama itu mulai menganggu pikiranku, karena permintaan Papa dan Mama bulan lalu.


" Papa ada calon buat kamu."


Aku jelas jengah dengan kalimat itu. Kenapa? Karena aku sudah punya gadis pilihan sendiri.


Orang tuaku tidak suka dengan Iren. Nama kekasihku itu Iren.


" Kamu masih sama gadis matre itu?" Papa menatapku dingin.


" Jaman sekarang mana ada perempuan gak matre Pa." sanggahku.


" Mama yakin anaknya Om Salim lain." Mama ikut nimbrung dari arah dapur sambil membawa cemilan untuk kami.


" Dia mandiri. Punya usaha sendiri, Sarjana kesenian." Papa berusaha membuatku tertarik dengan kalimat yang mengunggulkan kelebihan gadis itu.


" Papa liat sendiri?" tanyaku.


" Papa belum liat secara keseluruhan. Tapi waktu acara nikahan teman Papa, dia ada disana. Main musik ngiringin band." ucap Ayah.


" Tapi bukan berarti dia mandiri hanya karena ikut kelompok musik kan Pa?"


" Banyak kok orang yang bisa main musik, tapi tetep aja jadi benalu dikeluarganya." Aku tetap tak mau goyah.


" Iren juga punya kerjaan. Papa, Mama tau sendiri dia punya butik." kataku ikut mengunggulkan kelebihan Iren.


" Tapi nyatanya dia tetap minta ini itu sama kamu."


" Belum lagi kemarin Mama lihat dia borong barang branded sama teman-temannya." nada Mama kentara sekali ketusnya saat mengatakan keburukan Iren. Aku hanya menggeleng, lalu memilih pergi daripada lanjut berdebat, kepalaku malah pusing.


Kembali aku melihat gadis bernama belakang Salim itu di koridor klinik tempatnya bekerja.


Perawakannya lumayan untuk gadis yang tampil tanpa make up. Nampak cantik natural. Tinggi juga ideal. Tapi kalau dibanding dengan Iren kalah jauh soal penampilan, karena Iren-ku adalah gadis modis yang tau cara menjaga penampilan. Bukan seperti gadis yang berpapasan denganku ini. Hanya menguncir rambutnya yang sebahu seperti ekor kuda.


Aku mencoba menepis lagi pikiranku tentang gadis itu.


Mana mungkin juga itu dia kan?


Papa bilang dia pekerja seni. Lah ini kerja jadi asisten di klinik kecil. Pasti bukan kan? Pikirku.


* * *

__ADS_1


" Von..."


" Hem... Apa?" Vony mengalihkan matanya dari hp, lalu menoleh ke arah Ayu.


" Dokter Abbas itu asli orang sini?"


" Bukan. Setauku dia kalau weekend sering pulang ke Solo. Kanapa?" Tanya Vony balik.


" Tanya aja."


" Kenapa? Naksir yaaa...." ledek Vony, Ayu hanya melirik Vony yang tersenyum meledek.


" Mending jangan deh, udah punya pacar. Jangan belajar jadi pelakor."


" Idih, siapa juga yang naksir. Apalagi jadi pelakor. Kayak gak ada laki-laki lain aja." Ayu mencelos. Tak terima dengan tuduhan Vony. Tetapi dalam hati dia bersyukur dengan jawaban Vony yang mengatakan dokter Abbas adalah orang Solo, bukan orang Jogja.


Berarti bukan dia orangnya.


" Yu..."


" Apa?"


" Kamu dijodohin sama siapa?" Vony tiba-tiba bertanya tentang pria yang akan dijodohkan dengan Ayu.


" Orang mana?"


" Jogja."


Vony terdiam.


" Kenapa gak kamu trima aja sih tuh orang." Vony bertanya sambil membaca pesan yang baru masuk di hpnya.


" Aku belum kepikiran nikah Von..." ucap Ayu.


" Kalau kamu cuma main sama lima manusia monyet itu, kapan kamu punya pikiran buat nikah?!" timpal Vony.


" Umur masih 23." ucap Ayu.


" Tapi belom punya cowok juga." Vony mengingatkan.


" Kamu terlalu asyik sama mereka Yu. Tapi kamu lupa kalau orang tua mu punya kekawatiran masalah jodoh buat kamu."


" Makanya mereka punya niat jodohin kamu sama anak temen mereka."

__ADS_1


" Mereka pikir itu adalah cara terbaik untuk membuktikan kalau kamu itu ' Normal'." Ayu mempertegas kata diakhir kalimatnya.


" Aku normal kok." ucap Ayu dengan nada santai.


" Normal kok gak pernah pacaran?"


" Gak pernah pacaran, bukan berarti gak punya perasaan sama lawan jenis kan?" Ayu tak terima dengan tuduhan Vony yang seolah meremehkan ke 'normal' annya.


Vony langsung menoleh ke arah Ayu setelah mendengar kalimat Ayu yang terakhir.


" Kamu pernah jatuh cinta?" tanya Vony.


" Kalau cuma cinta monyet pernahlah. Emang kamu doang yang bisa jatuh cinta." jawab Ayu.


" Sama siapa? Kapan?"


" Rahasia." Ayu tak mau memberi jawaban tentang siapa cinta monyetnya itu.


" Kalau dipikir-pikir kamu kan gak pernah pacaran, berarti cinta monyet mu bertepuk sebelah tangan dong." Vony membuat kesimpulan sendiri, membuat Ayu jengah.


" Cinta gak harus terbalas to. Cinta dalam hati itu lebih bebas, tanpa beban."


" Gak juga, enak terbalas lah. Masa iya tepuk tangan kok cuma pakai satu tangan. Kayak gini." Vony mempraktekan bertepuk dengan tangan satu...


" Gak dapet apa-apa nih, dapetnya cuma angin." Vony tertawa terbahak-bahak.


" Tapi mending gitu, ketimbang tepukannya terlalu keras, jadinya malah sakit."


" Ya jangan terlalu keras-keraslah. Yang sedeng aja." timpal Vony.


" Gak ada yang namanya perasaan itu gak dalem Vony.... Emang kamu mau si Petro cinta sama kamu cuma agak-agak? " Ayu tak mau kalah.


" Ya enggaklah!" jawab Vony.


" Jadi keinget waktu kamu patah hati sama si Joni. Bawaanya nangis mulu, gak mau makan, gak mau keluar kamar, ngurung diri kayak kelelawar. Tapi kalau malem keluyuran cari makan."


" Sialan lu, ngatain aku kelelawar... Dasar kalong!"


Vony menimpuk Ayu dengan bantal, beruntung Ayu sempat menghindar.


" Gak kenak wleee....." Ayu segera berlari, saat Vony akan melempar bantal yang kedua.


" Dasar rese!"

__ADS_1


__ADS_2