Bukan Terminal

Bukan Terminal
Nasihat Mama


__ADS_3

Ayu manghidupkan hpnya yang lowbat selama dia sakit.


Aplikasi WhatsApp itu menunjukkan begitu banyak angka, bangkan panggilan tak terjawab mencapai 99+. Ayu sudah menduga itu. Dia memeriksa beberapa pesan terlebih dahulu.


Ayah ( Baik-baik di rumah mertuamu. Bantu Mama mertuamu merawat Papa mertuamu)


Ibu ( Sudah makan belum?)


Dua pesan yang dia baca itu dari Ayah dan Ibunya membuat Ayu berpikir mereka tidak tahu keberadaannya.


Ayu menghela nafas berat. Antara sedih dan lega bercampur menjadi satu. Sedih karena orang tuanya tidak tahu dia menghilang, lega karena kepergiannya tidak ketahuan.


Lanjut baca pesan berikutnya.... Dia berharap orang tuanya akan mengirim pesan lain, tetapi ternyata tidak.


Ayu kembali melihat pesan lain...


Nomor tak dikenal


( Baik-baik jaga kesehatan)


( Hubungi aku jika butuh bantuan)


( Save ya... Ini aku Abimanyu)


Ada rasa hangat yang menjalar di hati Ayu membaca pesan yang ternyata dari Abi.


Dia aja peduli, tapi mengapa orang yang seharusnya peduli malah cuek!


Ayu lantas menyimpan nomor Abi, kemudian membaca lagi pesan yang lain, namun baru saja dia akan membaca pesan dari dokter Abbas, tiba-tiba hpnya bergetar...


" Kenapa dia menelpon?" Ayu menoleh ke arah Vony.


" Von..." Ayu mengarahkan layar pada Vony, meminta pendapat Vony.


" Jangan diangkat!" Vony berkata tegas.


Ayu menurut, namun Abbas ternyata tidak menyerah dia terus menelpon.


Akhirnya Ayu menggeser juga warna hijau dari layar hpnya, namun suara mengagetkan itu membuatnya menjauhkan ponselnya.


" Kamu dimana?!" Abbas jelas marah, nada suaranya sangat tinggi.


" Pulang!" Abbas lagi-lagi berteriak.


Jika itu bertemu muka, Ayu mungkin sudah pingsan karena suara Abbas.

__ADS_1


" Kenapa saya harus pulang?" Ayu mencoba untuk tenang.


" Orang tuaku akan masuk rumah. Kembalikan kuncinya!"


" Kamu minta aku pulang cuma gara-gara kunci." Ayu nyaris terkekeh, tapi dia urungkan.


" Bilang saja hilang. Bereskan!" ucap Ayu dengan santainya.


" Kamu pikir apa?! Aku kawatir sama kamu? Jangan ge'er! Mana kuncinya?"


" Mereka harus kembali ke rumah sakit gara-gara kamu!"


Jadi orang tua Abbas sudah pulang? Secepat itulah Papanya sembuh? Aku aja yang infeksi lambung harus diopname tiga hari. Dia yang kritis bisa secepat itu pulih.


" Hei....!"


" Cari tukang aja buat ganti kuncinya. Maaf ya, kuncinya hilang."


Abbas naik pitam, dia marah besar.


" Kamu kira hanya kunci pintu depan yang kamu bawa HAH! Kunci kamar Mama, kunci ruang kerja, kunci gudang, kunci... Semua kamu bawa! Gimana sih kamu!"


Ayu mencari jaketnya untuk memastikan apakah sebanyak itu kunci yang dia bawa, sebab waktu itu dia hanya menerima begitu saja tanpa memeriksa berapa banyak kunci yang dijadikan satu dalam tas kecil itu.


" Ambil kesini, saya sibuk." kata Ayu kemudian.


" Kamu dimana?"


Ayu nampak berpikir, haruskah dia memberitahu Abbas keberadaannya sekarang?


" Saya masih kerja, jadi maaf sebentar lagi saya harus tampil, jadi sekian dulu ya."


Setelah itu hp berubah menjadi gelap, segelap aura wajah Abbas saat ini.


Dia ingin membanting hpnya, namun dia masih berpikir untuk tidak terlalu merugikan dirinya sendiri.


Dia mengantongi benda yang baru saja ingin dia banting itu ke dalam saku celananya, kemudian dia masuk ke ruang perawatan Papanya lagi.


" Ayu sudah ketemu?" kata pertama yang ditanyakan oleh Mamanya.


" Ayu ada kerjaan di luar kota Ma." Abbas akhirnya hanya bisa berbohong.


" Kok dia gak kasih tau kamu kalau dia di luar kota. Kamu sekarang suaminya, seharusnya dia ijin kalau mau pergi."


Abbas membenarkan ucapan Mamanya, hanya saja dia menyangkal, sebab kepergian Ayu dialah penyebabnya. Mana mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya, bisa-bisa dia sendiri yang kena semprot.

__ADS_1


" Ayu udah ijin Ma waktu itu, tapi Abbas lupa. Terus dia pindah kerja karena dapet job tambahan, karena hpnya lowbat jadi dia gak kasih kabar ke Abbas." Abbas berusaha mencari alasan yang masuk akal.


" Oh gitu."


" Kapan dia pulang? Sudah tanya belum?"


" Dia pulang katanya sebulan lagi Ma, sebab ada konser tour gitu." Abbas mengarang bebas, sebab dia juga tidak tahu kapan Ayu akan pulang.


" Oh gitu..." Mamanya mengerti.


" Kamu cari tukang ya buat ganti kuncinya. Kasihan Papa sudah waktunya pulang, tapi harus tinggal di rumah sakit lagi."


" Baik Ma." Abbas akhirnya bisa bernafas lega.


Namun dia akhirnya punya alasan untuk menjelekan Ayu dari peristiwa kali ini.


" Emmm... Ma." dia sebenarnya ragu.


" Apa?" Mamanya memandang Abbas penuh tanya, sebab Abbas terlihat ragu-ragu.


" Gini Ma... "


" Ayu jelas bukan gadis yang bisa tinggal diam saja di rumah. Dia punya kerjaan yang mengharuskannya bepergian dalam jangka waktu lama."


" Ya terus kenapa? Emang Ayu kerjaannya emang gitu kan? Kamu keberatan?" tanya Bu Murni.


" Sebagai seorang suami jelas Abbas keberatan Ma. Abbas pengen punya istri yang kalau Abbas pulang kerja sudah ada di rumah, nyiapin kebutuhan Abbas, minimal menyambut Abbas, biar Abbas merasa kalau Abbas itu..."


" Ya kamu tinggal bicarain baik-baik sama Ayu, kalau kamu inginnya dia begitu. Bukan malah ngomong sama Mama." Bu Murni memotong ucapan Abbas, membuat Abbas langsung merasa kalah, sebab apa yang dikatakan Mamanya itu benar.


Seharusnya memang aku protes ke Ayu, bukan ke Mama. Tapi apa gunanya protes, itu kan cuma alasan aku buat provokasi Mama biar benci sama Ayu, kenapa malah jadi gini sih!"


Abbas bilang kata, dia kini memilih diam.


" Besok aja dia ngomong baik-baik. Bilang sama dia kalau kamu maunya gitu. Biar dia ngerti. Dia belum pernah nikah jadi mana tau kalau suaminya maunya kayak gitu. Jangan malah ngomong sama Mama." Bu Murni menasehati.


" Kalau Mama ini mertua yang jahat, mungkin malah akan membuat masalah kalian runyam. Karena keberatanmu itu bisa disalah artikan bahwa Ayu jadi istri yang gak becus. Banyak lho mertua yang akhirnya jadi benci sama menantunya karena hal sepele begini. Cuma karena laporan dari sebelah pihak, akhirnya jadi alasan untuk memecah rumah tangga anaknya sendiri."


" Abbas... Pernikahan itu antara dua orang. Jadi kalau kamu sama Ayu emang lagi ada masalah, coba duduk berdua. Bicarakan baik-baik. Jangan buru-buru cari pembelaan dari sana-sini yang akhirnya malah membuat masalah meleber kemana-mana."


" Belajarlah dewasa... Umurmu sudah lebih dari 30 tahun, sedangkan Ayu baru 23. Jadi sudah wajibnya kamu itu 'momong' istrimu. Jadi imam yang baik buat dia. Itu adalah kunci agar dia bisa awet sama kamu."


" Mama yakin, dia adalah gadis baik. Hanya saja kamu belum mengenalnya."


Iren juga gadis baik Ma, hanya saja Mama tidak mau mengenalnya. Batin Abbas.

__ADS_1


__ADS_2