
Tiga hari kemudian...
Ayu sudah diperbolehkan pulang setelah perawatan intensive. Selama itu juga yang menunggu adalah Abimanyu, sebab Om Pram baru bisa kembali setelah pekerjaannya kelar.
Resiko pekerja seni adalah, tidak bisa selalu stay di rumah, apalagi mengurus sesuatu yang berada disatu tempat. Misalnya keluarga, dia akan sangat kesulitan untuk membagi waktu. Maka itu adalah salah satu alasan mengapa Om Pram belum berkeluarga hingga saat ini. Namun setelah bertemu Lia yang notabenenya adalah anggota dari musik yang dia pimpin, dia kini berubah pikiran, Dan akhirnya memutuskan untuk menempuh hidup yang dulu tak pernah terlintas dipikirannya. Ya, kadang memang butuh seseorang untuk berubah dan merubah keadaan.
" Kak Abi, terima kasih banyak." ucap Ayu.
Mereka kini berada di rumah Om Pram, dan kebetulan saat ini Om Pram sudah ada di rumah.
" Sudah jadi tanggung jawab saya. Jadi jangan sungkan." ucap Abi.
" Kalau begitu saya ijin pulang."
" Om Pram, saya pamit." Abi beralih ke Om Pram.
" Kalau butuh bantuan, calling aja." Abi berucap sambil menjabat tangan Om Pram.
Ayu memperhatikan dua orang yang tampak akrab.
" Ayu cepat sembuh ya."
" Ma kasih Kak."
Setelah itu Abi diantar keluar oleh Om Pram. Ayu kini sendiri di kamar, dia bersiap untuk kembali beristirahat.
" Makan dulu baru tidur Yu." Lia masuk membuat Ayu kembali duduk.
Semangkuk bubur nasi ditaburi bawang goreng dengan kuah soto membuat Ayu rindu masakan Ibunya.
" Mau pakai daging ayam gak?" tanya Lia.
" Ini aja tante. Makasih."
Ayu mulai menyuap bubur ke dalam mulutnya, sementara itu Lia mempersiapkan obat resep dari dokter.
Sambil makan, Ayu tak lepas dari Lia yang nampak cekatan dalam mengurusnya.
Pantas Om Pram kepincut sama tante Lia. Batinnya.
" Tante kenal Om Pram dimana?" tanya Ayu.
" Ya di studio."
" Kenapa?"
" Cuma nanya aja." jawab Ayu sambil meletakkan mangkuk yang sudah habis isinya.
" Umur tante berapa?"
" 30."
" Kenapa sih kok tanya terus?" tanya Lia sambil memberikan obat yang sudah diracik pada Ayu.
" Tante hebat loh, bisa bikin Om Pram mencair."
" Kayak es batu aja mencair." Lia terkekeh mendengar Ayu yang mangatai pria yang awalnya membuatnya juga memiliki penilaian yang sama, tetapi saat mereka dekat penilaian itu tak sepenuhnya benar. Sebab sifat dingin pria itu hanya berlaku pada orang-orang yang belum benar-benar mengenalnya.
" Emang es batu loh tan, nyatanya sampai sekarang baru pacaran sekali. Apa itu namanya kalau bukan es batu."
" Kamu itu bisa aja."
" Dah buruan diminum obatnya!" ucap Lia sambil mengulurkan air minum.
__ADS_1
" Makasih tante." Ayu mengembalikan gelas pada Lia.
" Kamu kenapa malah milih Abbas ketimbang Abi? Padahal Abi lebih baik lho, bertanggung jawab lagi orangnya." tanya Lia.
" Abbas itu pilihan Ayah sama Ibu Tan, tapi kalau Kak Abi, dia kan bukan siapa-siapa Ayu. Dia jagain Ayu juga karena Om Pram kan? Jadi gak ada alasan untuk memilih." jawab Ayu.
" Kalau Tante bilang Abi itu jagain kamu bukan karena Om kamu, kamu percaya gak?"
Ayu spontan tergelak " Tante jangan ngarang deh, mana mungkinlah."
Lia hanya tersenyum " Kalau misalnya mungkin."
" Apa alasannya coba?" Ayu balik bertanya dengan nada tak percaya.
" Dia suka kamu."
" Uhuk!" Ayu tersedak, spontan dia langsung menepuk-nepuk sendiri dadanya.
" Minum." Lia mengulurkan lagi gelas yang sudah diisi lagi.
" Kamu pikirin lagi... Mana ada seseorang yang rela ambil cuti kerja hanya untuk jagaian seseorang. Apalagi hanya untuk berlibur aja susah mengingat dia seorang tentara."
" Dia pasti punya rasa sama kamu." ucap Lia.
" Tante seyakin itu?" tanya Ayu.
" Ya yakinlah." jawab Lia.
" Alasannya?"
" Karena Abi adalah....."
Tok... Tok... Tok....
Seseorang mengetuk pintu kamar Ayu, membuat perbincangan mereka terhenti.
Ayu mengamati postur tinggi semampai yang kini tengah membuka pintu.
" Kita harus berangkat sekarang. Nanti Ayu ditemeni sama Vony."
Ayu yang mendengar nama Vony mengernyitkan dahi....
Vony....?
Baru dia berpikir tentang sahabatnya itu, sosoknya langsung muncul, membuat Ayu terkejut.
" Vony... Kok?" Ayu bingung.
" Om Pram yang kasih tau kalau kamu sakit. Jadi aku langsung datang kesini." jawab Vony yang kini memeluk tubuh Ayu.
" Kok gak cerita kalau kamu ada masalah sampai sakit kayak gini." Vony nampak marah saat mereka sudah saling melepas pelukan.
" Ceritanya kamu udah dengerkan dari Om Pram, jadi ya begitulah." ucap Ayu.
" Tapi... Kamu kesini gak kasih tau siapa-siapa kan kalau aku disini?"
Vony menggeleng " Gak ada... Aku kesini juga karena melarikan diri."
" Kenapa?" Ayu kini malah gantian bingung.
" Mas Petro marah gara-gara kamu ngilang. Dikira aku yang nyumputin. Jadi aku gak terima dia nuduh aku gitu, ya udah aku kabur aja sekalian. Beruntung Om Pram nyuruh orang buat jemput aku, jadi aku sekalian aja pergi."
" Terus kerjaan kamu?" tanya Ayu.
__ADS_1
" Aku udah keluar, terus sama Om Pram udah dimasukin di rumah sakit tempat kamu dirawat kemarin." jelas Vony.
" Oh ya.... Mau tanya nih Yu." wajah Vony berubah serius.
" Apa?"
" Kamu nyuri apa dari rumah dokter Abbas?" Tanya Vony.
" Nyuri? Nyuri apa? Aku aja gak tau rumah dia dimana? Mana bisa dia nuduh aku nyuri! Emang dia ngomong apa sama kamu?" tanya Ayu dengan wajah bingung campur kesal karena dituduh.
" Dia pesan sama aku, katanya kalau ketemu kamu, kamu suruh balikin barang milik orang tuanya." jawab Vony.
Ayu jelas bingung, dia mencoba mengingat-ingat, tetapi tidak ingat karena seingatnya dia tidak menerima apapun dari orang tua Abbas.
" Ayu, Vony, Om berangkat ya." Pamit Om Pram yang masuk ke kamar, menyalami dua gadis yang sedang asyik berbincang.
" Ya Om hati-hati."
Setelah Om Pram pergi, gantian Lia yang pamit. Kini tinggal mereka berdua.
" Coba kamu ingat-ingat lagi... Soalnya dokter Abbas bilang, gara-gara kamu orang tuanya gak bisa masuk rumah."
Puk...
Seketika Ayu menepuk jidatnya....
" Kunci.... Ya, ya.... kunci."
" Aku bawa kunci rumah orang tuanya." Ayu akhirnya mengingat.
" Kapan dia tanya ke kamu?"
" Dua hari yang lalu."
" Haduh... Terus gimana mulanginnya ya? Aku males banget ketemu sama mereka." ucap Ayu.
" Gak usah pulangin! Biar kapok gak bisa masuk rumah." Vony kini yang gantian emosi.
" Kok kamu gitu? Kan kasihan mereka gak bisa masuk."
" Biar cari tukanglah. Masa iya mereka gak punya akal." jawab Vony.
" Kamu kok emosi kenapa Von?" Ayu bingung dengan cara bicara Vony yang terlihat begitu marah.
" Kesel aku tuh sama Dokter Abbas. Dia ngancam aku kalau terbukti nyumputin kamu, dia mau laporin ke polisi."
" Lapor polisi?" Ayu terkejut.
" Dia nyari kamu selama kamu ngilang." ucap Vony.
" Aku gak ngilang Von, tapi dia yang ninggalin aku di jalan waktu orang tuanya nyuruh nganterin aku pulang. Makanya aku sampek bawa kunci rumah orang tuanya itu ya gara- gara itu."
" Jahat banget ya dia, padahal selama ini dia keliatan baik lho." ucap Vony.
" Gak nyangka banget aku kalau ternyata dia kejam gitu." gumam Vony.
" Aku juga gak tau ada manusia modelan gitu." tambah Ayu.
" Makanya aku bingung mau jelasin ke Ayah sama Ibu kayak mana tentang dia yang jahat. Sedangkan di mata mereka Abbas itu baik banget."
" Kita pikirin lagi nanti ya... Kita butuh berpikir jernih untuk menghadapi manusia gak waras."
Ayu terkekeh melihat Vony yang berbicara dengan nada kesal itu.
__ADS_1
" Ya kamu benar, sekarang kita istirahat dulu. Takutnya kepalamu jeblok kelebihan emosi."
" Sialan!" umpat Vony yang langsung melempar bantal ke Ayu yang seenaknya mengintainya.