
Ayu termangu dengan berpegangan alat pel. Miris kan? Seharusnya ada yang bisa menenangkan dia disaat seperti ini, tapi yang ada hanya gagang kain pel, itu sudah lebih dari cukup ketimbang gak ada sama sekali. Sabar ya Ayu...
Suara dari dapur yang bergelontang akibat ulah Mbok Sami yang jatuh tak membuat Ayu bergeming.
Pikirannya memikirkan kejadian ironis yang terjadi pada dirinya.
Beberapa malam yang lalu dia menikah, tetapi belum genap hitungan jari, dia sudah berstatus janda. Apa semenyedihkan itu nasibnya.
Sambil menggerakkan pelan alat pel itu, Ayu melamun. Ngepel lantai berukuran 4x6 m itu memakan waktu hampir dua jam.
Mbok Sami sambil berjalan terhuyung-huyung ingin meminta bantuan, tak jadi. Memilih pergi lagi saat melihat Ayu seperti orang linglung.
" Ngapa Mbok?" Ayu akhirnya sadar karena sekilas melihat kelebat Mbok Sami.
" Eh... Mbak Ayu... Ini simbok jatuh, bisa minta tolong...."
Ayu terkejut saat mendengar Mbok Sami jatuh, matanya langsung beralih ke kaki Mbok Sami yang membengkak.
" Kita ke rumah sakit ya Mbok." ucap Ayu gugup.
" Ke tukang pijit aja Non." pilih Mbok Sami.
" Dimana? Sebentar saya siap-siap dulu."
Ayu bergegas mengambil helem milik Om Pram, lalu meraih kunci motor dan menyambar jaket yang tergeletak di ranjangnya.
" Ayo Mbok... Pelan-pelan." Ayu membantu Mbok Sami berjalan, kemudian meminta menunggu sebentar karena dia harus mengunci pintu.
Mereka kini langsung menuju tukang pijat yang ditunjuk Mbok Sami.
Dengan kecepatan tinggi Ayu membawa motor agar cepat sampai. Walaupun keadaan hati tak baik, tapi kalau urusan keselamatan Ayu tetap on, jadi tak perlu kawatir akan terjadi kecelakaan.
" Hati-hati Mbok." Ayu membantu lagi Mbok Sami untuk turun.
" Ayu tunggu di luar." ucap Ayu saat Mbok Sami sedang di urut.
Tak berapa lama Mbok Sami keluar dengan kaki berbalut perban.
" Kenapa Mbok?" Ayu penasaran dengan apa yang terjadi pada kaki Mbok Sami.
" Retak Mbak Ayu."
Hatiku juga retak Mbok, bisakah diperban juga?
Ayu termangu...
Seandainya luka hati bisa seperti luka fisik, mungkin akan mudah untuk mengobatinya..
Ayu mengantar Mbok Sami pulang ke rumah. Setelahnya dia melaju menuju pasar terdekat untuk membeli sayuran.
__ADS_1
Ayu punya kegemaran lain selain bermain piano, yaitu memasak masakan rumah. Baginya memasak bisa menjadi saluran lain untuk mengekspresikan emosinya.
" Ayu...."
Suara Vony terdengar nyaring berbarengan dengan pintu yang terbuka.
" Di dapur." suara teriakan Ayu tak kalah nyaring.
Sudah bak hidup di hutan saja mereka saat ini, memanggil dan menyahut dengan berteriak. Jika ada Om Pram tentu mereka sudah mendapat teguran keras.
" ANAK GADIS BICARA YANG SOPAN! TERIAK-TERIAK KAYAK TARZAN, GAK BAGUS!"
Tapi bagi Ayu dan Vony itu hanya angin belaka, karena saat ini Om Pram tidak ada di rumah, jadi mereka tidak harus mengindahkan teguran dari sang pemilik rumah.
" Ngapain?" Vony meletakkan tasnya di atas meja, lalu menghampiri Ayu yang sedang berkutat dengan seekor ikan berukuran setengah kilo.
" Dipepes Yu." mata Vony melebar, sangat senang dengan menu yang dia sebutkan, tetapi Ayu menggeleng.
" Di goreng aja ya. Tuh sambel trasi mentah sama lalapan udah siap."
Bahu Vony jatuh, ada sedikit kecewa, tetapi dia akhirnya mengangguk.
" Kamu masih sakit, kenapa masak menu ini?" Vony mengamati mata cabai yang terlihat memyeramkan di dalam cobek, dia sudah bisa menebak kalau itu sangat pedas.
" Akan lebih sakit kalau gak makan Vony... Makanan itu gak akan bikin orang sakit, kecuali MAKAN ATI!"
Vony berjingkat dengan ketegasan Ayu saat mengatakan dua kata diakhir kalimat.
" Abbas...."
" Dia kenapa?" Tanya Vony sambil menyomot irisan mentimun.
" Dia nalak aku."
" WHAT!" suara keterkejutan Vony membuat Ayu mencibir.
" Biasa aja kale!"
" Bukan gitu Yu... Bisa jelasin kenapa gitu?" jelas Vony merasa kalau sahabatnya itu sangat memenuhi kriteria istri idaman.
Uang punya, kerjaan punya, usaha punya, cantik udah dari sananya, baik ada, hanya saja Ayu tak begitu senang berhias juga bukan pas dia terima job yang mengharuskan dia berhias. Tapi seorang perempuan kan tidak hanya pandai berhias, tetapi paket lengkapnya dia juga harus pandai membuat suami betah di rumah. Misalnya dengan masakan. Ayu kalau soal masak, dia cukup pandai, kurang apa lagi coba?!
" Dari awal emang kami udah sepakat buat menolak perjodohan ini Von." jelas Ayu.
" Tapi kok jadinya malah nikah." Vony makin penasaran.
" Bokapnya collapse, punya permintaan terakhir..."
" Pengen liat kalian nikah gitu?" tebak Vony, Ayu mengangguk.
__ADS_1
" Terus cerai." sambung Vony.
" Itu karena aku yang minta."
" Kenapa?"
" Sikap dia ke aku sudah tidak bisa ditoleransi Von. Dia selalu memandang penuh kebencian padaku."
" Jadi menurutku sesuatu yang tidak bisa, lebih baik jangan dipaksakan." ucap Ayu sambil memasukkan ikan ke dalam minyak panas.
Dia bisa sesantai itu bercerita, apa karena dia berusaha tegar. Padahal aku tahu dia terluka.
Vony menepuk-nepuk bahu Ayu, seolah memberi kekuatan lewat itu.
" Yakinlah, Tuhan pasti akan mengirimkan seseorang yang lebih baik."
Ayu menoleh lagi menatap Vony yang memandangnya dengan pandangan iba, lalu mencibir.
" Apa aku terlihat semenyedihkan itu?"
" Lihatlah, aku baik-baik saja."
" Nyatanya aku masih bisa memasak, bukan menangis di pojokan sambil memeluk lutut seperti gadis yang sedang patah hati." ucap Ayu menyindir Vony.
" Itu kan dulu." Vony gantian mencibir tak terima disindir.
" Aku malah bersyukur, setidaknya sekarang bisa lepas dari satu masalah."
" Tapi gimana sama Bapak Ibumu?"
" Mereka akan mengerti kok. Apalagi jika melihat anak gadisnya tidak bahagia, pasti mereka akan menyetujui jalan yang aku ambil."
" Tapi kamu harus menjelaskan pada mereka agar mereka tidak kawatir."
Ayu membalik ikan yang masih setengah matang, sambil berkata.
" Aku bukan orang yang lari jika menghadapi masalah Von. Aku pasti akan menemui mereka." jawab Ayu.
" Lalu apa yang kamu lakukan sekarang ini? Pergi kesini tanpa memberi kabar pada siapapun. Bikin geger geden tau gak!" sungut Vony.
" Aku cuma butuh tempat dan waktu. Karena keadaanku saat itu tidak memungkinkan untuk pulang. Bahkan aku baru sampai depan pintu aja udah pingsan. Kalau aku pulang dalam keadaan seperti itu, bukankah mereka lebih kawatir? Apalagi tanpa Abbas yang mereka tau aku pergi bersamanya. Itu akan menimbulkan banyak perkara baru."
Vony mengangguk-anguk " tapi setidaknya beri tahu aku atau salah satu kelima pendawamu itu, biar kamu tidak kawatir. Itu pun kalau kamu masih mengaggap kamu adalah sahabatmu." gerutu Vony.
" Apa kamu tahu akibat lainnya, aku harus bertengkar dengan Mas Petro hanya demi dirimu."
" See... Maafkan aku." ucap Ayu sambil mengangkat ikan dari penggorengan lalu meniriskannya.
" Aku maafkan, tapi sekarang mari kita makan, aku laparrrrrr." Vony yang memindah ikan goreng ke wadah lain, lalu mendahului Ayu yang mengekor sambil membawa lalapan dan sambal.
__ADS_1
Apapun masalahnya jangan lupa makan ya..... 😂😂😂