Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 22 : Dulu (Bagian 2)


__ADS_3

Gue bisa ngrasain kalau Bunga melebarkan senyumanya walau gue masih ngeliat ke langit. Kami berdua saling diam, suasana jadi hening. Gue yang setengah ngelamun ngerasa kalau Bunga mengetakan sesuatu, tapi gue nggak tau dia ngomong apa.


"Apa,nga? Lo tadi ngomong sesuatu?"


"Nggak kok. Bukan apa-apa." Dia tersenyum. Beberapa saat setelah sesi curhat dadakan, Bunga pamit mau pergi ke toilet. Dia tiba-tiba kebelet pipis, mungkin karena udara malem itu kerasa dingin banget.


Bunga pergi, gue pun duduk sendirian di tanah lapang, di bawah langit berbintang. Momen langka dalam hidup sih sebenernya, dan saat itu, gue bisa menikmatinya.


Sekitar sepuluh menit berlalu, Bunga kembali dengan nafas yang berderu-deru kayak habis ikut lari marathon.


"Lo kenapa? " Gue nanya.


"Gawat,yan, sumpah. Menurut lo, itu tadi manusia apa setan?" Dia ngomong sambil bibirnya gemeteran. Keliatan ketakutan banget.


"Maksut lo ?" Gue bingung.


"Lo nggak akan tau kalau lo nggak dateng ke TKP."


Akhirnya, Bunga maksa gue untuk ikut dia ke toilet cewek. Sebenernya gue males banget, apalagi dia bilang kalau dia denger suara-suara dari salah satu bilik toilet. Denger suara air mengalir, suara orang cebok, suara gayung, suara cowok batuk padahal di toilet cewek dan nggak ada orang lain kecuali dia.


Rasa takut gue makin tinggi ketika dia bilang ada suara Genderuwo. Walaupun gue belum pernah denger suara Genderuwo, tapi gue yakin itu serem banget .


Bunga bilang, ketika dia mencoba untuk berkomunikasi dengan roh halus tersebut (Udah kayak paranormal, kampret emang.) enggak ada respon sama sekali, tapi kemudian ada suara air keran yang disusul dengan suara raungan, kata dia sih gitu. Saat itu gue yakin 100 % kalau itu beneran setan, bukan manusia. Apalagi malem-malem begini, nggak mungkin banget buat anak cewek untuk pergi sendirian ke toilet, pasti cewek kalo ke toilet rame-rame.


Sebelum tiba di toilet, sambil berjalan gue bertanya. "Tadi waktu lo mencoba berkomunikasi dengan roh halus itu, lo bilang apa, nga?"


"Gue bilang 'Kamu manusia apa bukan?' gitu."


"Trus dia jawab apa?  Gue mengintrogasi.


"Nggak bilang apa-apa sih, cuma ngeraung aja, pasti itu Genderuwo deh." Bunga keliatan takut - takut.


Ngeraung? Gue yakin itu setan macan, bukan Genderuwo. Menurut mitos , Genderuwo adalah hantu hasil dari perkawinan silang antara pocong dan kuntilanak. Tapi kalau dia genderuwo yang meraung, mungkin itu anak dari kuntilanak yang kawin sama setan komodo.

__ADS_1


Sampailah kita di depan pintu toilet, kita menyusun rencana disana. Gue nggak mau masuk pertama karena gue beneran takut, apalagi malem-malem begini, dan gue memutuskan untuk tidak bicara sama sekali selama kita berada di dalem toilet, takut kenapa-napa. Gue menyuruh Bunga masuk duluan, kalau terjadi apa-apa gue baru masuk, dan Bunga setuju - setuju aja.


"Jawab gak!! Kamu manusia apa setan?!" Dengan pertanyaan bego ' yang sama, Bunga nanya lagi.


Bunga masuk ke toilet sambil mengendap - endap, tapi tiba - tiba teriak,"hey!! Kamu manusia apa setan!??" Bunga membentak sambil menghadap ke bilik yang menurut dia ada penunggunya, tapi dengan jarak yang lumayan jauh.


Sementara gue cuma bisa ngeliatin dari pintu toilet. Hormon kebancian gue mulai bermunculan.


Setelah itu, untuk beberapa menit nggak ada respon sama sekali. Saat kita pikir si Setan mungkin udah pergi, tiba-tiba terdengar suara raungan macan, beneran kayak macan yang ada di acara Dunia Binatang.


Seketika Bunga teriak. "Mampus gue!!" Sambil lari terbirit-birit keluar dari toilet, begitu juga dengan gue.


Keringet dingin berkucuran, nafas nggak beraturan, badan sedikit gemetar dan pengen nangis dikit. Rasa takut gue over banget hanya karena suara raungan macan di bilik toilet cewek, jadi gue larinya pelan dan tubuh bergetar hebat.


"Tuh kan,yan, gue bilang juga apa, ada setan kan di toilet!" kata Bunga, ngos-ngosan.


"Ya udah kita balik ke lapangan aja yuk." Kata gue. Saat itu gue bener bener ketakutan.


Kita lari lumayan jauh dari toilet tersebut. Gue ngajak Bunga buat nyuekin setan itu dan kembali ke lapangan sekolah atau lapor ke senior, tapi dianya nggak mau dan masih penasaran sama suara tersebut. Udah tahu takut, tapi masih aja.


"Maafin mbah kalau kita ganggu, saya cuma pengen numpang pipis, jangan di ganggu ya mbah!" Bunga mencoba berkomunikasi dengan setan tersebut dengan sopan.


Gue bingung kenapa dia manggil mbah ke setanya. Mungkin karena menurut dia si setab usianya udah ratusan tahun.


Hening untuk beberapa saat , kemudian si setan menjawab,


"Ganggu ga boleh tapi ngintip boleh kan?" Suara bersumber dari bilik di hadapan Bunga. Tekstur suaranya terdengar berat, kayak suara bapak- bapak galak yang nyeremin. Bunga keliatan takut banget bercampur emosi.


"SETAN LO!!!" Bunga teriak sambil nendang pintu bilik toilet yang ada di depanya.


Dia tiba-tiba ngambil roti selai stroberi dari tasnya. " NIH GUE KASIH ROTI KADALUARSA, PERGI NGGAK LO !!!" Sambil teriak-teriak, Bunga melempar roti tersebut ke bilik toilet yang ada setannya melalui celah di atas pintu, kemudian lari terbirit-birit keluar dari toilet lagi, diiringi oleh suara raungan macan dari bilik toilet tersebut. Gue yang ketakutan setengah mati ikutan lari.


Sambil lari ngos-ngosan nggak karuan,  gue nyempetin diri untuk bertanya." Kenapa lo tadi ngasih roti kadaluarsa ke setan sih? Random banget. Kenapa nggak baca ayat kursi?!"

__ADS_1


"Biar perut dia sakit, trus pergi deh. Gue nggak apal ayat kursi, Riyan, gue kristen." Jawabnya, nafasnya tinggal setengah.


"Biar perutnya sakit ?!" Gue bingung.


"Trus lo pikir setan punya sistem pencernaan yang sama dengan manusia gitu?! " Tanya gue lagi.


"Tau ah , lo ribet, yan!" Balas Bunga.


Kita pun kembali ke lapangan sekolah.


Suasananya udah rame, semua kelompok yang tadi keliling, udah pada balik ke titik awal. Bunga yang dari tadi nahan pipis minta ijin ke senior buat pergi ke toilet, dia minta ditemenin salah satu temen ceweknya. Mereka pergi ke toilet lain, bukan yang ada setanya.


Dan nggak lama kemudian, Adit dateng sambil mengelus-elus perut. "Anjir, gue berak yang keluar banyak banget, gue khawatir nutrisi penting di tubuh gue ikut kebuang." Baru dateng tiba - tiba ngomong kayak gitu .


" Jorok lo ! " Gue sewot.


Adit malah ketawa. Setelah tawanya berhenti, dia bilang, "eh, tadi gue apes banget, gue kejebak di toilet cewek, yan, gue salah masuk toilet. Mana tadi ada cewek yang bolak - balik lagi, demi keamanan, gue diem di toilet dan pura-pura jadi setan."


Adit ketawa lagi, tapi kali ini lebih kenceng. "Gue pura-pura jadi setan macan haha..." Lanjutnya sambil ketawa. "Lucunya adalah, itu cewek ngasih gue roti, katanya sih kadaluarsa tapi kayaknya enggak tuh, tadi gue makan pas jalan kesini." Lanjut Adit ketawa.


Oh, jadi ternyata yang di toilet tadi itu bukan setan, tapi Adit yang salah masuk toilet, terus nyamar jadi setan. Pantes aja, gue tadi curiga dikit ketika si setan mau ngintip Bunga pipis, setahu gue setan nggak senafsu itu sih. Gue yakin, akar pohon yang di gambar Adit pas tes psikologi lebih besar dari pohon beringin gue.


Satu hal yang bikin gue kagum sama Adit, dia bisa niruin suara macan sampai bener-bener mirip macan asli , mungkin dia manusia yang sering bergaul dengan macan atau mungkin aja di sering nonton sinetron yang isinya manusia setengah binatang.


"Oh gitu ya." Gue senyum,  semakin yakin kalau yang ada di toilet cewek tadi itu beneran Adit. Gue bersyukur, ternyata sekolah ini nggak angker.


Nggak lama kemudian,  Adit kembali memegangi perutnya. Perunya bunyi lumayan kenceng. Kayaknya dia mencret deh. Adit lari ngacir ke toilet sambil megangin pantat. Kayaknya itu roti beneran kadaluarsa, efeknya mulai kerasa.


Beberapa saat kemudian, Bunga tiba-tiba ada di samping gue.


"Itu kenapa Adit lari sambil mengangin pantat?" Tanya Bunga.


"Mencret kali." Gue jawab sambil ketawa dikit. Bunga ikut ketawa, setelah tawanya berhenti dia nanya. " Jadi menurut lo gimana, Riyan? Yang tadi itu manusia apa setan?" Gue cuma bisa diem ketika Bunga nanya gitu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2