Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 49 : Hyouka


__ADS_3

"Keras kepala banget ya." Kata Evi.



Karena letak ruang ekstrakurikuler gamelan lumayan jauh dari tempat dimana siswa-siswi beraktivitas, suasana di ruangan ini lumayan sunyi. Mereka bertiga sibuk baca-baca karya gue. Meski keliatannya cuman baca sekilas-sekilas aja, gue menghargai itu.



Meski gue udah menulis banyak, gue belum yakin kalau kemampuan menulis gue mengimbangi mereka. Abis baca karya Nat di mading tadi, rasanya kemampuan gue masih jauh di dibawahnya.



"Kita udah baca beberapa file karya lo." Kata Nat.



Nat nyender di kursi dan lanjut ngomong, "Ada yang udah lumayan rapi, ada juga yang masih amburadul."



"Terimakasih, udah mau baca." Kata gue.



"Kayaknya lo enggak kesulitan mencari ide. Terbukti lo udah nulis banyak judul." Kata Nat.



Jodi menyaut. "Iya, gue suka ide-ide lo, walaupun eksekusinya masih buruk."



Selanjutnya, gue menerima beberapa komentar kritikan dan saran, terutama dari Nat sama Jodi. Mereka banyak ngasih masukan kepada tulisan gue yang udah mereka baca, harus ini dan harus itu, harus begini dan begitu, pokoknya lumayan bermanfaat, deh, petuah dari mereka.


Sementara Evi, dia enggak banyak komentar terhadap tulisan gue. Selesai memuaskan rasa penasarannya terhadap karya gue, dia malah lanjut membaca bukunya. Entah karena dia enggak peduli atau gimana.



Selesai dengan semua itu, kita beralih topik. Tentu saja, masih tentang kepenulisan, lebih tepatnya kita lanjut ngebahas agenda kegiatan ekstrakurikuler menulis kedepannya.



Untuk tugas mingguan, gue sementara minggu depan gue belum dapet jatah dan mereka udah memulai pembagian tugasnya seperti tadi. Nah, yang mau kita fokuskan adalah, persiapan untuk acara hari ulang tahun sekolah. Apa yang harus kita lakuin untuk ikut berpartisipasi dalam acara tahunan itu?



"Kira-kira bikin apa, ya? Dari tiga hari yang lalu gue mikir enggak dapet-dapet mau bikin apa. Huff…" Keluh Nat.



Nat ngebungkuk, meletakan kepalanya di meja, di sebelah laptopnya yang udah dimatiin. Kayaknya dia udah lelah berpikir.



"Kalau gue, sih, sama sekali enggak ada ide." Kata Jodi. Dia mengatakannya dengan bangga.



"Kenapa malah bangga?" Kata gue dalem hati.



"Arrgghh… agak gregetan rasanya. Padahal ide kak Evi buat ngadain pameran buku kecil-kecilan di ruangan ini udah bagus." Nat lanjut menggerutu, sambil ngeliat ke arah Evi yang sedang baca buku dengan tenang.



"Bagus, sih, iya. Cuman itu beneran sulit direalisasikan. Kalau ngadain pameran buku, kita harus bisa datengin buku yang lumayan banyak, kan?" Kata Jodi. Dia mengangkat bahu. "Ya enggak banyak-banyak banget juga enggak apa-apa, setidaknya bisa bikin ruangan ini penuh." Lanjutnya.



"Sama aja, itu banyak." Nat keliatan agak kesel.



Jadi, Evi punya ide buat bikin pameran buku ya, bagus juga idenya.



Bener apa yang Jodi bilang, lumayan susah untuk direalisasikan, mengingat kita enggak punya buku banyak. Lagian darimana juga kita bisa dapet buku-buku untuk dipamerkan?



Selain itu, gue pikir-pikir kayaknya percuma, deh ngadain pameran buku. Sekolah kita kan udah punya perpustakaan dua lantai, lumayan banyak bukunya. Jadi, gue rasa percuma.



"Bukannya percuma ya kalau ngadain pameran buku?" Tanya gue.


__ADS_1


Gue udah ngerti alur pembicaraan mereka.



Evi tiba-tiba aja terpanggil, dia nutup buku bacaannya, kemudian bertanya, "Maksudnya?" Dengan lirikan tajam ke arah gue.



Kayaknya, gue salah ngomong.



"Ya, lumayan percuma. Soalnya, kan, SMA Brokoli ini punya gedung perpustakaan yang lumayan bagus, pasti orang-orang bakal milih kesana. Selain karena tempatnya  lebih nyaman, bukunya juga lebih banyak." Jelas gue.



Ya, setidaknya itu pendapat gue. Secara logika emang gitu sih, orang mungkin akan lebih milih ke perpustakaan sekolah daripada ke pameran yang kita buat.



Kalau dilihat dari hal kepantasan sih, emang kita sebagai kelompok ekstrakurikuler menulis harus menghadirkan sesuatu yang berbau seni tulis, kesastraan, dan perbukuan gitu.



Setelah diam sejenak, Evi menjawab, "Awalnya emang kita mikir gitu, tapi kemudian kita punya ide."



"Apa?" Tanya gue.



Nat menjawab, "Kalau kita menghadirkan buku yang susah dicari di perpus sekolah, pasti orang-orang bakal mau berkunjung kesini."



Oh, begitu, ya. Ide bagus.



"Misal kayak, komik, novel, majalah remaja, dan yang lainnya, kan enggak ada di perpus, yan." KataJodi yang ikut berpendapat.



"Tapi beberapa minggu yang lalu kalau enggak salah gue pernah minjem novel dari perpus sekolah."




Gue terdiam.



Tunggu. Kalau dipikir-pikir… situasi semacam ini juga ada dalam buku novel Hyouka yang gue pinjem dari perpustakaan. Di dalem novel itu di ceritakan kalau oreki dan teman-teman klub sastra kelasiknya menulis antologi untuk dijual di acara festival budaya sekolah. Ya, situasinya mirip seperti ini.



Abis inget itu, gue jadi kepikiran sesuatu. Gue jadi terinspirasi untuk menyampaikan ide.



"Gimana kalau kita jualan aja?"



"...."



"...."



"..."



Mereka bertiga kemudian terdiam. Suasana jadi hening untuk beberapa detik.



"Jualan apa?" Evi bertanya.



"Buku, ya? Tapi buku apa?" Tanya Nat.


__ADS_1


"Bekas, ya? Emang bakal laku?" Jodi keliatan pesimis pas  bilang gitu.



"Iya, bener, gue kepikiran jualan buku." Kata gue dengan penuh percaya diri. "Tapi bukan buku bekas." 



"Terus buku apa, yan?" Nat bertanya lagi.



"Kita kan bisa nulis nih, ya walau kemampuan gue enggak sehebat kalian bertiga sih, tapi cukup bisa lah, nah…."



Belum sempet  gue selesai ngomong, Evi malah memotong. "Enggak usah kebanyakan basa-basi, langsung aja to the point."



Kampret emang, merusak momen aja.



"Gimana kalau kita nulis karya kita sendiri aja. Kita tulis dan jadiin buku, kemudian kita cetak dan jual pas acara ulang tahun sekolah." Gue berpendapat.



Mereka bertiga terdiam sambil mikir, mempertimbangkan gagasan gue.



"Bagus juga ide lo, yan." Nat tampak bersemangat.



Dia, Nat, yang dari tadi lesu sambil meletakan kepalanya di meja, kini kembali bersemangat. Dia kembali duduk dengan tegak dan tersenyum manis ke arah gue. Matanya seakan berbinar-binar.



"Ide lo bagus juga." Kata Evi.



"Iyaa, gue juga setuju tuh, bikin karya sendiri dan di jual. Uh, berasa keren aja." Jodi tampak bersemangat.



Hufftt… alhamdulilah deh kalau pada setuju. Gue jadi lega. Hari pertama gue bergabung dengan kelompok ekstrakurikuler menulis enggak begitu buruk


 Walaupun gue belum bisa berkontribusi untuk nyumbang karya di mading sekolah minggu depan, tapi gue cukup bangga dengan diri gue sendiri karna udah nyumbang ide.


"Tapi kalau mau jualan, pasti kita butuh stan dong, kira-kira kita kebagian stan enggak?" Tanya Jodi.



"Iya, sih, ya." Nat mikir-mikir.



Bener juga kata Jodi, kita pasti butuh stan. kemaren kayaknya udah banyak banget stan yang dibuat sama kelompok ekstrakurikuler yang lain.



Mereka juga udah pada dapet lokasi strategis untuk stan mereka.


Kalau Jodi sampai khawatir bakal kehabisan Stan, itu berarti jatah stannya terbatas, dong?



"Ah, soal stan, nanti gue coba omongin ke OSIS. Tenang." Kata Nat.



"Oke, sip." Jodi mengacungkan jempolnya ke Nat.



"Tapi, kira-kira karya apa yang bisa kita tulis untuk dijual?" Tanya Nat lagi.



Gue terdiam.



Iya juga ya, kira-kira apa yang harus kita tulis, ya?


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2