Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 35 : Terlambat Menyadari


__ADS_3

Suara samar-samar keriuhan dari para siswa yang penuh semangat bersiap menyambut hari ulang tahun sekolah udah enggak terdengar lagi dari gudang sekolah, padahal tadi kedengeran sampe sini lho, mungkin udah banyak yang pulang. Lagian, hari juga udah semakin sore.



Gue dan Jane yang udah hampir sekitar dua jam lebih terkuci di dalem gudang sekolah mulai kelelahan karena abis ngedobrak pintu sekuat tenaga beberapa kali, bener-bener capek.



Perut gue laper, karena udara di sekitar berasa panas dan engap, gue jadi haus. Baik Jane maupun gue, enggak ada yang bawa minuman. Menelan ludah adalah cara untuk membasahi tenggorokan yang kering dan itu udah gue lakuin berulang kali selama disini. Begitu pula dengan Jane, bagian tenggorokannya sering gerak menelan sesuatu.



"Gila' gue jadi haus banget!" Ujar gue.



"Sama, gue juga."



Kita berdua yang duduk bersebelahan sambil nyender di pintu mengeluh dengan rasa haus yang kita lagi rasain.



Kita duduk selonjoran di lantai yang banyak debunya, enggak peduli dengan kondisi celana dan baju kami yang kotor. Gue meluruskan kaki, Jane pun demikian.



Karena udah capek, tenaga kita belum ngumpul untuk ngomongin sesuatu sebagai pemecah keheningan.



Hening… kesunyian menggantung di udara. Gue dapat mendengar hembusan nafas Jane yang masih kelelahan, sesekali dia ngelap keringet di wajahnya pake ujung kemeja yang dia pake. Gue dapat mencium aroma parfum yang di pakai Jane, aroma melati.



Gue mengusap layar hape, membuka kunci layar dengan mengusapnya. Udah jam lima kurang dikit. Gue semakin pasrah, berserah kalau emang kita bakal terjebak di sini  sampai malem atau bahkan bisa aja sampai besok pagi. Berharap aja hantu cewek berseragam OSIS dan bermata merah enggak muncul nanti, amit-amit.



"Riyan, ngomong-ngomong…" Jane seakan hendak memulai obrolan.



"Apa?"



"Lo itu temennya Adit, kan?" Tanya Jane.



"Iya, kenapa?" Tanya Gue.



Jane terdiam sambil ngeliat kedua ujung sepatunya. Terus, dia meluk kedua dengkulnya dengan posisi kaki nekuk.



Gue ikutan diem karena dia diem aja dan enggak ngelanjutin topik tentang Adit. Memperhatikan Jane yang memeluk kakinya seperti itu, gue ngerasa ada sesuatu antara dia dan Adit, karena setelah nyebut nama Adit dia kangsung kayak gitu.



"Gue mau cerita sesuatu tentang dia." Ucap Jane dengan nada serius.



Gue ngeliat ke arah Jane, bersiap mendengar ceritanya dengan seksama. Sesaat kemudian, Jane meluruskan kedua kakinya, sekarang kita sama-sama selonjoran.



"Emang ada apa dengan Adit?"



"Lo pasti taulah kalau dia suka sama gue. Karena pasti lo adalah temen curhat dia, ya kan?"



Gue mengangguk hikmat, "Iya, dia cerita. Dan lo pasti tau tentang perasaan Adit pas dia ngasih lo gambar karya dia, kan?"

__ADS_1



Jane menggeleng. Dia diem agak lama.



Kita berdua bicara dengan suara yang enggak begitu keras, jadi suara kita enggak sampai menciptakan gema. Kondisinya bener-bener sepi, enggak ada sama sekali selain suara gue dan Jane.



"Lha, terus? Jangan-jangan…" Gue memotong.



"Iya, gue tahu dia suka sama gue sejak lama, tapi gue mencoba cuek aja karena gue enggak ada rasa ke dia sama sekali, jadi gue biarin."



Kasian. Jadi, pada dasarnya, Adit emang udah di tolak dari awal ya.



"Terus, apa yang mau lo ceritain ke gue?" Gue mencoba menyeret topik ke poin utama biar enggak kemana-mana. "Apa emang cuman itu doang?"



Jane menggelengkan kepala lagi, "Enggak, ada yang lain."


"Apa?"



"Entah kenapa gue ngerasa ada perasaan bersalah ke Adit  yang masih hinggap di hati gue." Ungkapnya.



"Masalah apa?" Tanya gue lagi.



"Jadi gini ceritanya…" Jane mulai bercerita.




Gue bingung dong kenapa hanya karena ngajak Adit ke toko buku aja bisa bikin dia ngerasa bersalah. Tapi ketika otak gue bertanya-tanya, dia kemudian menjelaskan semuanya.



Jadi, gini, setelah Adit ngasih liat Jane gambar karya dia, yang akhirnya bikin Adit kecewa karena menurut Jane karya Adit biasa aja, beberapa hari kemudian Jane ngajak Adit untuk ketemuan di taman kota.



"Ngapain?" Tanya gue.



"Gue nyuruh dia untuk nemenin gue pergi ke toko buku."



Jane menatap kedua lututnya dalam diam setelah menjawab.



"kenapa lo ngajak dia?" Gue bingung.



Jane diem sebentar sebelum akhirnya bilang, "Niatan gue, sih, sebenernya awalnya cuman mau minta maaf ke dia dan berharap kita bisa temenan dengan baik setelahnya…"



Punggung gue tiba-tiba pegel. Gue pindah posisi senderan, gue nyender ngadep ke Jane supaya gue enak dengerin ceritanya.



"Ups, sorry, pegel…"


__ADS_1


Mata Jane ngelirik ke gue agak tajam, mungkin kesel ceritanya kepotong dikit gara-gara gue pindah posisi duduk. Tak lama kemudian dia lanjut cerita.



"Niat gue pengen berteman baik sama dia tuh, alesannya karena dia kan udah daftar ekskul musik, pasti kedepannya kita bakal sering latihan bareng. Ya gue tentu aja enggak mau diem-dieman sama satu anggota ekskul. Ya meskipun gue enggak tahu dia megang alat musik apa, sih…"



"Sama sekali enggak bisa maen alat musik dia. Sorry gue potong." Gue memotong omongan sebelum Jane menuntaskannya.



"Iya, kah?"



"Setahu gue, sih, tu anak emang sama sekali enggak bisa maen alat musik. Dia masuk ekskul musik cuman gara-gara dia naksir sama lo."



Jane terdiam.



"Dan lo pasti sadar akan hal itu, kan?" Tanya gue.



"Iya, tapi kayaknya gue telat menyadari itu. Gue sadar kalo dia naksir gue setelah kita selesai dari toko buku. Tau gitu, waktu itu mending gue enggak usah ngajak dia pergi hanya berdua karena makin bikin dia baper, soalnya gue udah naksir sama orang lain duluan." Jane memandang gue.



"Jadi, karena itu lo ngerasa bersalah ke Adit?"



Jane mengangguk. "Jatohnya gue malah kayak ngasih harapan ke dia enggak, sih?"



"Bisa jadi." Kata gue singkat.



"Gue ngerasa bersalah karena saat itu hati gue udah dimiliki orang lain,yan."



Gue menatap langit senja dari dalam gudang sekolah melalui genteng kaca di sudut atas kepala gue. Sebenernya, menurut gue, Jane enggak perlu ngerasa bersalah sih, dalam hal ini, Adit aja yang terlalu berharap pada Jane tanpa mengetahui situasinya dulu.



Gue ngelamun bentar dan akhirnya sadar kalo kita harus keluar dari sini. Gue dan Jane malah terbawa suasana, asyik ngobrol sampai hampir lupa kalau kita lagi terkunci di gudang sekolah.



Waktu udah berlalu cukup lama, gue yakin Bunga dan yang lainnya udah pada pulang. Gue langsung ngeluarin hape, lalu nelpon Bunga.



Sayangnya, tetep aja enggak di angkat. Gue coba berulang kali, tetep aja enggak di angkat. Kayaknya emang belum pada pulang, deh.



Gue nyoba nelpon Adit, hapenya enggak aktif. Dia pasti lagi sibuk nggambar sampai lupa waktu.



Batre hape gue tunggal 20% dan udah muncul notif "batre lemah." Pada saat itu, gue mengingat satu nama yang mungkin bisa gue hubungi untuk gue mintai bantuan, yaitu Nadia.



Seinget gue, tadi pas perjalanan menuju kemari, gue sempet ngeliat Nadia di antara siswa-siswi yang berjalan di koridor kelas. Gue harap dia belum pulang. Dengan penuh harap, gue langsung mencoba menghubungi nadia.



"Halo, ada apa, yan?"



Enggak perlu nunggu lama, Nadia langsung ngangkat telpon gue, membuat gue seketika tersenyum haru.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2