
Setelah mendengar suara Nadia, gue jadi grogi mendadak. Jadi inget kalau gue pernah nolak dia, ngerasa bersalah sih, dan gue juga belum minta maaf ke dia. Sebenernya kalau dipikir-pikir gue enggak pernah nyakitin dia atau bikin kesalahan ke dia. Gue aja yang ngerasa enggak enak hati. Perasaan kayak gini mungkin adalah apa yang Jane rasakan terhadap Adit.
"Halo, yan?"
Gue yang bengong tersadarkan oleh suara Nadia telpon.
"Eh, iya, kenapa?"
"Iya, ada apa telpon?"
Sambil bingung, gue mencoba berkata, "Lo lagi di sekolah apa enggak?"
Daritadi, Jane yang duduk di samping tampak bingung dan penasaran dengan siapa orang yang gue telpon, Jane bisik-bisik ke gue.
"Siapah?" Bisik Jane.
"Temen." Jawab gue dengan singkat.
"Bunga?" Tanya Jane lagi.
Gue geleng-geleng.
Setelah menerima jawaban dari gue, Jane tampak udah enggak begitu peduli lagi sama orang yang lagi gue telpon. Mungkin lain halnya kalau orang yang gue telpon adalah Bunga, bisa aja dia bereaksi lebih dan pengen ikut ngomong sesuatu ke Bunga.
Gue pun melanjutkan percakapan dengan Bunga.
"Iya, gue lagi di sekolah, kenapa, yan?"
Gue enggak tahu gimana bilangnya, yang jelas niat gue nelpon Nadia adalah untuk minta bantuan ke dia. Dibalut oleh rasa enggak enak hati, prasaan bersalah karena udah bikin Nadia sakit hati (mungkin) terasa begitu penuh di dalem hati, sampai-sampai mulut gue susah dibuka pas mau ngomong minta bantuan ke dia.
Serba bingung, gue udah terlanjur nelpon dia, kita udah saling bercakap lewat telpon untuk beberapa detik, kalau gue enggak nglanjutin niat, sayang banget.
Dengan satu tarikan nafas, gue bilang, "G-gue boleh m-minta bantuan lo nggak?"
Rasanya lumayan lega udah menyampaikan tujuan gue. Gue kemudian memejamkan mata untuk menunggu jawaban.
Seakan tanpa pikir panjang, di seberang sana Nadia nanya, "boleh, mau minta bantuan apa?"
"Beneran? lo enggak lagi sibuk, kan?"
"Enggak…" Nadia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Gue sama temen-temen udah selesai bikin stan buat acara ultah sekolah, sih, jadi… ya, gue luang dan mungkin bisa bantu lo."
Nadia menjelaskan apa yang hari ini dia lakuin di sekolah padahal gue enggak nanya.
Dari nada suara Nadia, gue ngerasa dia kayaknya udah biasa aja ke gue, seakan… peristiwa penolakan cinta gue padanya enggak pernah terjadi. Bagus deh kalau gitu, gue enggak perlu jaga perasaan orang lain kalau mau brusaha balikan lagi sama Olivia.
__ADS_1
Sebenernya, bisa aja gue memilih untuk cuek, enggak peduli sama sekali dengan perasaan Nadia, tapi ada satu hal yang agak gue takutkan, gue takut dia doain gue jelek kalo gue enggak hati-hati dengan seenaknya nyakitin perasaan orang.
kalaupun dia enggak doain gue jelek, bisa aja gue kedepannya kena karma. Hemm, agak merepotkan emang.
"Jadi gini Nad…"
Gue mulai bercerita tentang peristiwa terjebaknya gue di dalem gudang sekolah, mulai fari awal sampe akhir. Awalnya Nadia enggak percaya dengan kejadian yang menimpa gue, sampe akhirnya Jane yang entah kenapa hampir gue lupain kalau dia ada di sebelah gue pun ikut bicara, ngebantu gue untuk menjelaskan semuanya. Hape gue loud speaker mode. Mau video call, sayang kuota,tinggal dikit.
Nadia percaya dan mulai mengerti situasinya setelah Jane dan gue bercerita panjang lebar. Nadia juga sempat berpendapat kalau yang ngunciin gue dan Jane di dalem gudang itu hantu. Lebih tepatnya…
"Hantu cewek bermata merah berseragam OSIS. Pasti dia yang mengunci kalian dari luar gudang." Kata Nadia, terdengar polos dari dalam telpon.
Ternyata rumor hantu mata merah itu udah menyebar luas ke seluruh penjuru sekolah, bahkan Nadia aja tahu tentang lelucon itu. Ya, gue menganggapnya sebagai lelucon.
"Hemm…" Terlihat megang dagu pas gue ngeliat ke arah dia.
Setelah keliatan mikir beberapa saat, Jane lanjut bilang, "Awalnya gue juga mikir gitu sih, tapi setelah gue pikir-pikir kayaknya enggak mungkin deh, soalnya kejadiannya siang, mana mungkin ada setan siang-siang."
"Iya, sih, hehe…" Sahut Nadia di dalem telpon.
"Wei!" Gue menatap datar ke arah Jane, enggak nyangka kalau Jane malah mikir gitu, malah percaya sama tu hantu.
Sambil terus tersambung dengan sambungan telpon, Nadia berjalan mencari tukang kebun sekolah untuk minjem kunci gudang.
Sampai sekitar sempuluh sampai dua belas menit setelah Nadia menutup telpon, pintu gudang yang ada di hadapan gue dan Jane berbunyi "Ceklek," sebelum akhirnya benar-benar terbuka sepenuhnya. Gue ngerasa bebas di terpa angin senja dari luar.
"Makasih banget, ya, kalau enggak ada lo mungkin kita berdua bakalan ada di dalem sampe besok pagi." Jane menyampaikan itu sambil megang pundak Nadia.
Nadia keliatan tersenyum. Dia keliatan kayak mau meluk Jane, gitu, tapi di tepis oleh Jane. Entah itu karena belum ngerasa deket atau emang Jane aja yang enggak mau di peluk. Lagian, Nadia ngerasa akrab aja padahal mungkin baru kenal tadi.
"Makasih, ya, Nad." Kata gue, berterimakasih sepenuh hati.
"Sama-sama, Riyan. Anggep aja bales budi. Karena lo juga udah banyak bantu gue." Senyum Nadia terukir.
Gue malu-malu kucing.
Kita bertiga kemudian berjalan bersama dengan posisi, Jane dan Nadia jalan di depan sebelahan, dan gue jalan di belakang mereka sambil bawa kotak berisi hiasan ruangan dan… jaring berisi dua bola basket yang tadi di bawa Jane pas di gudang. Kenapa jadi gue yang bawa dah?
Nadia dan Jane keliatan saling bicara dengan topik obrolan seputar persiapan acara ultah sekolah, tentu saja saling bertukar cerita kegiatan di ekskul masing-masing. Topik yang sama sekali enggak gue mengerti karena gue sama sekali enggak pernah ikut kegiatan ekstrakurikuler.
berjalan di suasana senja di sekolah kayak begini jarang banget gue lakuin, bahkan gue lupa kapan terakhir kali gue ngrasain begini. Kalau enggak salah inget, pas masih SMP, deh.
__ADS_1
Di sekitar kami udah lumayan sepi, beda dengan pas awal-awal tadi ketika gue jalan menuju gudang. Stan-stan udah mulai banyak yang jadi, berjajar di tepian jalur koridor kelas yang kami lalui.
Ketika hampir tiba di lapangan basket, Jane pamit ke kita berdua. Dia ngambil bola basketnya dari gue.
"Nadia, senang bisa kenalan." Kata Jane.
"Sama-sama." Nadia tersenyum.
Sepertinya mereka udah mulai saling mengenal.
"Sekali lagi, makasih udah nolongin kita yang terjebak di gudang." Kata Jane lagi.
"Ah, iya enggak masalah. Lagian kalau Riyan enggak nelpon, mungkin gue enggak bakalan ke gudang untuk nolongin kalian." Kata Nadia. "Jadi pada dasarnya ini semua berkat Riyan." Lanjutnya.
"Masuk akal." Kata gue dalem hati.
Jane berpisah dengan Gue dan Nadia setelah berpamitan.
Tinggalah gue dan Nadia berjalan beriringan dengan tujuan yang berbeda, Gue mau ke ruang musik untuk nyerahin kotak kardus yang gue bawa, sementara Nadia mau pulang.
Saat berjalan di depan deretan kelas 10 yang kebetulan sepi, Nadia yang dari tadi diem tiba-tiba manggil nama gue.
"Riyan."
"Apa?" Gue nyaut.
Sambi bawa kardus dan jalan di samping Nadia, gue menunggu jawabannya sambil bertanya-tanya.
"Gue mau nyoba sekali lagi, siapa tahu berhasil."
Gue hanya bisa mengangkat kedua alis, bingung dengan apa yang dia katakan.
Dan secara tiba-tiba, dia bilang, "Riyan, lo mau enggak jadi pacar gue?"
Untuk kedua kalinya, dia nembak gue.
Gue menghela nafas sambil terus jalan dan bawa Kardus, mengimbangi langkah Nadia.
"Enggak." Jawab gue dengan singkat.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Nadia tersenyum.
Bersambung…
__ADS_1