Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 42 : Pertemuan Pertama (Bagian 2)


__ADS_3

Olivia mengajak gue untuk keluar dari toko buku itu secara paksa, dan sekali lagi nyuruh gue untuk bantuin dia nyariin adeknya yang ilang. Sebenernya gue bukanlah orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Walaupun ngerasa khawatir sama adeknya dia, tapi gue nggak mau terlibat atau bantuin dia lebih jauh lagi, males aja.


Di luar, kita ngobrol serius perihal adiknya Olivia yang hilang. Erita mulai bercerita mengenai kronologi hilangnya Sofi, adeknya dia, kelas 1 SD, usianya enam tahun.


Olivia bilang, mereka tadi rencananya mau pergi ke rumah sakit, nengokin neneknya. Ketika dia lagi nebus obat di apotek, adeknya di biarin maen-maen sendirian di luar. Eh, pas selesai bayar, Sofi ilang nggak tau kemana.


"Kok bisa ilang sih, lo nggak becus banget jaga adek." Sambil berjalan beriringan sama dia di atas trotoar, gue sok-sok an marah ke dia.


"Nggak tau' tiba-tiba ilang aja gitu, kamu nggak keberatan bantuin aku kan?" Olivia memohon.


Gue diem.


Dia aja nggak tahu kenapa adeknya bisa ilang. Ya paling nggak bilang, "Iya aku teledor,yan, tadi harusnya aku ajak dia ke dalem apotek."


Seenggaknya kalo dia bilang gitu, gue nggak ngerasa terbebani kalo seandainya gue gagal bantuin dia.


Karena dengan dia mengakui keteledorannya, kesalahan sepenuhnya ada pada dia. Jadi, kalau gue pura-pura ada urusan dan cabut, gue nggak merasa besalah. Tiba-tiba ilang? Ada mistik darimana coba.


Atau jangan-jangan wujud Sofi yang sebenernya adalah Dobby, peri rumah di film Harry Potter yang tinggal menjentikan jarinya kalo mau ngilang.


Anehnya, dari tadi gue nggak melihat raut wajah khawatir pada Olivia. Biasanya kalo cewek dapet masalah serius kayak gini, dia bakalan nangis sambil guling-guling, tapi saat berjalan di samping gue, Olivia keliatan tenang-tenang aja seakan nggak ada pristiwa besar yang terjadi, padahal adeknya lagi ilang.


Mungkin cewek kayak dia emang sering tertimpa masalah kali ya, jadi dia udah terbiasa dan nggak pernah ngeluarin reaksi yang berlebihan kayak cewek pada umumnya.


Kita berjalan diatas trotoar, tujuanya ke apotek tempat Olivia nebus obat neneknya. Letaknya nggak jauh dari toko buku tadi.


Sambil jalan, kita noleh kanan-kiri, nanya orang yang berpapasan dengan kita, nanya ke warung-warung di pinggiran, nanya ke pengamen dan mereka menjawab dengan satu jawaban yang sama yaitu "Nggak tahu mbak, mas."


Kadang gue juga buka tong sampah yang bertuliskan "Sampah Unorganik" berharap nemuin Sofi disitu, kali aja dia hobi mainin sampah.

__ADS_1


Gue nyoba ngasih saran ke Olivia untuk lapor polisi atau minta bantuan yang lain, tapi dia nya nggak mau. Khawatir masalah ini bakalan sampe ke telinga ibunya dan dia pasti kena marah, bisa-bisa sampe rumah dia dijadiin sate sama ibunya.


Ibunya galak banget. Menurut gue, nggak papa juga sih, selama masalah masih bisa diselesaikan sendiri, usahakan aja dulu, baru minta bantuan.


Sampe di apotek, Olivia langsung masuk ke dalem dengan langkah kaki yang lumayan cepat, menemui penjaga apotek. Gue ngikutin dari belakang.


"Ada yang bisa kami bantu mbak?" si mbak-mbak penjaga Apotek bertanya.


"Mbak liat adek perempuan saya nggak?" Olivia langsung mengajukan pertanyaan. "Usianya sekitar 6 tahun, ponian, kulitnya putih, rambutnya lurus. Pokoknya imut deh mbak." Lanjutnya, menjelaskan.


"Bukanya mbak yang tadi salah beli obat ya? Udah tiga kali lho mbaknya bolak-balik." Si penjaga apotek keliatan nahan ketawa.


Olivia memperlihatkan ekspresi malu."Saya nggak liat mbak." Lanjut si penjaga apotek sambil ketawa dikit.


"Oh, yaudah, makasih mbak."


"Bentar, coba tak tanya ke yang lain." Si penjaga pun pergi ke belakang ruanganya.


Gue mengangkat alis, bingung. Kita pun segera keluar, pergi meninggalkan apotek.


Matahari makin meninggi, udara panas menusuk kulit, sesekali gue mengusap kening yang di basahi keringat.


Gue dan Olivia berjalan berdampingan tanpa saling berkata-kata. Kita kembali berjalan di atas trotoar lagi, pepohonan rindang di tepian seakan sedikit memberikan perlindungan dari panasnya sinar matahari.


Gue jarang banget punya moment kayak gini dalam hidup. Berjalan di tepi jalanan kota berasama seseorang yang... mungkin udah bisa gue sebut sebagai teman. Angin yang berhembus seakan menyejukan hati.


Beberapa menit jalan kaki ke arah utara, tibalah kita di sebuah perempatan jalan. Begitu ngeliat penjual es buah, mata Olivia berbinar-binar, dia langsung narik tangan gue menuju ke penjual es tersebut.


Kebetulan tenggorokan gue juga udah gersang banget, dari berangkat sekolah belum minum sama sekali. Dia langsung memesan dua gelas es jeruk tanpa nanya ke gue. Selesai beli es buah, kita lanjut nyari Sofi lagi.

__ADS_1


Jalan kaki sambil minum es jeruk, kita ngobrol-ngobrol santai untuk mengisi kekosongan. Hari itu gue ngerasa sedikit beruntung karena di traktir es jeruk sama Olivia.


Sebagai orang yang agak sedikit pelit, dapet traktiran adalah suatu berkah tersendiri bagi gue. Apalagi es jeruknya lumayan mahal, satu gelasnya aja Rp. 2.500,- ngambil untung banyak tuh penjual.


Kalo tiap hari gue ketemu Olivia dan di traktir es jeruk, dalam setahun gue bisa hemat uang hampir sejuta. Duit sejuta kalo gue beliin es jeruk semua, bisa buat mandi.


"Ternyata manis juga, ya?" Kata Olivia setelah menyedot es jeruknya.


"Iya, kebanyakan gula. Gue lebih suka es jeruk yang agak asem." Gue menjawab sambil ngeliatin dia yang juga ngeliat ke arah gue sambil senyum.


"Bukan es jeruknya, tapi senyum di wajah kamu yang manis, yan." Olivia kemudian menutup mulutnya pake tangan kiri sambil bilang, "Ups!"


"Apaan sih, nggak penting banget." Gue menunduk, sedikit tersipu.


"Iya ya, nggak penting." Dia tersenyum canggung, kemudian lanjut nanya "Kalo udah lulus, kamu punya rencana mau ngapain, yan?"


"Seseorang bilang, kalo gue cocoknya jadi penulis. Gue tertarik juga sih, tapi belom tau mau nulis apa."


Olivia keliatan terkagum-kagum mendengar jawaban gue.


"Wah... keren juga. Tapi kayaknya jadi penulis tu susah deh, yan." Katanya.


Gue mengangguk "Iya sih. Lo sendiri gimana?" Gue nanya balik.


"Hmm... gimana ya?" Dia garuk-garuk kepala. "Gue belum punya tujuan hidup, sebenernya pada nyaranin buat jadi penyanyi sih."


"Trus?" Gue penasaran.


"Nggak tahu kenapa seiring bertambahnya usia, menyanyi nggak se menyenangkan dulu, gue lama-lama bosen. Pengen nyoba hal baru, tapi belum tau apa." Dia diem sebentar dan melanjutkan. "Gue belum punya rencana untuk masa depan. Kalo udah tau mau ngapain pasti enak ya, nggak bingung."

__ADS_1


Sebenernya gue juga masih bingung mau ngapain kalo udah lulus nanti. Saat itu, di usia gue yang udah 15 tahun gambaran tentang masa depan nggak pernah terlintas sama sekali di dalem kepala.


Bersambung...


__ADS_2