
Gue meraih uluran tangan dari Nat, dan nyebutin nama gue sendiri sebagai perkenalan diri. Sambil nyalamin dia, otak gue melayang mikirin tentang ekstrakulikuler yang dia maksud.
Kira-kira kegiatannya apa aja ya? Kalo pun itu ekskul ada beneran pasti anggotanya sedikit, soalnya selama gue sekolah di SMA Brokoli, gue sama sekali belum pernah denger tentang ekskul menulis dan ini pertama kalinya.
Kita melepaskan tangan yang tadi bersalaman selama beberapa detik.
"Oh iya, cowok yang disana itu, yang lagi bantuin Bunga, namanya Jodi, dia juga anggota ekskul menulis." Kata Nat.
Gue mengikuti arah telunjuk Nat yang mengarah pada cowok yang lagi duduk di sebelah Bunga. Cowok yang namanya Jodi itu keliatan lagi asyik becanda sama Bunga sambil ngerjain pekerjaan mereka. Kalo diliat-liat kayaknya si Jodi itu tipe orang yang semangat terus, lumayan bertolak belakang sama tampilan luarnya yang pake kacamata, tampak kalem.
ekstrakurikuler menulis ya? Kayaknya enggak ada salahnya kalau gue ikut gabung. Alasan gue selama ini enggak pernah ikut ekskul manapun itu karena gue enggak begitu suka berkegiatan fisik, gue enggak begitu suka keringetan. Jadi, gue males kalau ditawarin ikut gabung kegiatan ekstrakulikuler.
Sekali lagi, gue bukannya enggak ada minat sama kegiatan ekskul, tapi cuman enggak mau terlalu capek aja, kebanyakan kegiatan ekskul SMA Brokoli tuh mengandalkan fisik, gue jadi ngeri.
"Kalau boleh tahu, emang ada berapa jumlah anggota ekskul menulis?" Tanya gue.
"Ada tiga orang."
"Maksudnya? Tiga kalau gue gabung?" Gue menunjuk diri sendiri.
Nat geleng-geleng.
"Kalo lo gabung, jadi ada empat anggota." Lanjutnya.
"Cuman tiga orang?" Tanya gue dengan sedikit terkejut.
Serius cuman tiga orang? Pantes gue enggak pernah denger tentang ekskul menulis sama sekali, anggota nya dikit banget. Pasti mereka enggak terlalu aktif ikut lomba atau kegiatan sekolah lainnya. Dipikiran gue, mereka semacam kelompok ekstrakurikuler misterius di sekolah yang bergerak di bawah bayangan, lumayan keren.
"Gimana?" Nat kembali bertanya sambil tersenyum.
"Apanya?" Tanya gue dengan nada datar.
"Apakah lo berminat untuk bergabung? Gue yakin lo punya bakat." Nat terlihat sumringah.
Kayaknya, cewek imut berambut pendek ini bener-bener ingin gue jadi anggota ekstrakurikuler menulis, entah itu emang beneran karena menurut dia gue punya bakat atau cuma pengen nambah personil aja biar rame tu kelompok ekskul.
"Riyan!"
__ADS_1
Gue menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari Bunga, dia manggil gue.
"Kita udah selesai, nih, pulang yuk!" Katanya lagi sesaat setelah gue menatap ke arahnya.
Hari udah mulai gelap ketika gue, Bunga dan yang lainnya pergi meninggalkan sekolah.
Karena alesan tertentu, Bunga menggowes sepedanya lebih cepat daripada gue dan ninggalin gue sendirian dalam perjalanan pulang.
Gara-gara tadi asik ngobrol, kita jadi lumayan telat pulangnya, sekarang udah jam enam sore lewat, udah mau jam tujuh malem. Coba aja kalau tadi langsung nge-dekor ruangan, pasti enggak akan makan waktu lebih kayak tadi. Perut gue laper karena tadi belum makan siang gara-gara kejebak di gudang, sial banget hari ini.
Di bawah langit yang udah cukup gelap, gue menuntun sepeda, bentar lagi sampe rumah. Seiring kaki yang melangkah, dibarengi dengan suara roda sepeda yang muter, gue kepikiran sesuatu.
Gue jadi kepikiran tentang apa yang tadi Nat bilang ke gue, dia bilang gue berbakat. Katanya tulisan gue bagus, padahal dia cuman baca lirik yang gue tulis, cuman itu doang yang dia tahu, dia enggak tahu karya-karya gue yang lain, yang dianggap sampah sama penerbit. Bagaimana bisa dia bilang kalau gue berbakat hanya dari ngeliat tulisan lirik gue yang dia anggep bagus?
Apa mungkin dugaan gue tentang Nat yang cuman muji-muji gue biar gue terhasut masuk ekstrakurikuler menulis biar nambah anggota aja itu bener? Hmm… entahlah, apapun alasannya, enggak ada unsur paksaan atas ajakan dia untuk gabung, gimanapun, keputusan tetep ada di tangan gue.
Gue menuntun sepeda masuk ke beranda rumah. Entah kenapa rasanya capek banget hari ini, padahal kayaknya enggak ada kegiatan berat yang gue lakukan. Tapi, rasanya badan gue capek kayak abis nguli, gue berasa tua.
Ketika membuka pintu depan dan melangkah masuk, dari arah ruang tamu gue disambut oleh suara TV yang nyala, acara berita.
Di sana, tepatnya di sofa ruang tamu terlihat kakak perempuan gue lagi baring santai sambil nonton TV ditemani cemilan kacang atom yang ada di meja.
Sementara itu, si anak kucing putih hasil gue mungut keliatan lagi sibuk makan, gue ngeliat ke arahnya dan dia ngarahin wajah imutnya itu ke gue ketika gue ngeliat ke arahnya, seakan dia lagi senyum ke arah gue.
Selesai ngeliat gue beberapa detik, dia lanjut makan.
Gue melangkah ke deket sofa, kemudian jongkok di deket kucing putih itu dan mengelusnya beberapa kali.
"Makasih udah ngasih dia makan." Kata gue pada kakak yang fokus nonton TV.
"Jangan makasih aja, itu gue enggak sengaja beli makanannya yang mahal, ntar ganti duitnya."
Gue langsung berekspresi datar karena sedikit kecewa mendengar apa yang dia bilang barusan.
"Iya, iya entar gue ganti." Kata gue.
Gue langsung berdiri lagi, lanjut melangkah menuju ke tangga yang mengarah ke kamar gue.
__ADS_1
"Dari mana aja lo pergi dari siang, jam segini baru pulang?" Tanya kakak.
Gue yang saat ini sedang melangkah menapaki anak tangga menjawab, "Main sama Bunga."
"Kalian udah pacaran?"
"Enggakk" Gue menjawab sambil melangkah.
"Kenapa enggak pacaran aja?"
"Ngapain? Kan temen, lagian dia udah punya pacar."
"Oh, jadi lo keduluan orang?"
Suara kakak gue makin mengecil seiring posisi gue yang mendaki tangga makin naik ke atas.
Gue bicara agak keras biar dia denger, "Kita temenan dan diantara kita enggak ada yang saling naksirr!"
Ketika gue sampai tepat di depan pintu kamar, gue mengambil kunci kamar dari saku celana sebelah kiri dan membuka kuncinya sebelum membuka pintunya.
Setelah menanggalkan pakaian yg gue pake, gue lantas pergi mandi.
Hufft, rasanya seger banget mandi jam segini, berasa terlahir kembali.
Abis mandi, gue langsung rebahan di atas kasur kamar gue sambil ngeliat langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang kemana aja yang dia suka, gue ngelamun.
Enggak lama kemudian, hape gue yang ada di atas meja belajar bergetar, gue langsung tersadar dari lamunan dan langsung beranjak ngambil hape untuk meriksa siapa yang nelpon gue.
Pas gue angkat langsung mati, Adit missed call gue. Di aplikasi WA ada 10 pesan masuk dari Adit. Begitu gue buka, isinya ternyata dia ngasih tahu kalau dia udah mengunggah hasil gambar dia ke website komik resmi yang ngadain lomba sebagai syarat, dia minta pendapat dari gue tentang gambarnya.
Alangkah terkejutnya gue ketika ngeliat gambar yang di unggah Adit itu. Di mata gue, itu bagus banget. Gue enggak tahu gimana cara ngejelasinnya, tapi yang jelas itu bagus banget.
Gue langsung bergegas ngambil formulir pendaftaran ekstrakulikuler menulis yang ada di saku celana yang tadi gue pake, yang sekarang udah gue gantung di paku yang nancep di dinding kamar.
Kemampuan menulis gue harus gue kembangin biar enggak jadi beban bagi Adit, gue akan masuk kelompok ekstrakurikuler menulis.
Segera setelah mengisi formulir, gue langsung menghubungi nomer telpon yang tertera di formulir tersebut yang ternyata adalah nomer telpon Nat.
__ADS_1
Gue menelpon untuk gabung kelompok ekskul menulis.
Bersambung ...